Status Reproduksi dan Gangguan Reproduksi pada Sapi Perah Pasca Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Thoha Muhammad Faris, drh. Erif Maha Nugraha Setyawan, M.Sc., Ph.D.
2023 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Efisiensi reproduksi hanya dapat dicapai melalui pengelolaan yang tepat dan perencanaan yang bijak untuk mengatur aktivitas sehari-hari. Penelitian dilakukan di Koperasi Sapi Perah Puspetasari yang masing-masing lokasi telah diberikan vaksin PMK dalam waktu 6 Bulan yang lalu untuk menyelidiki Status Reproduksi dan Gangguan Reproduksi pasca PMK. Sebanyak 167 ekor sapi perah digunakan sebagai bahan penelitian. Breed Sampel yang digunakan adalah sapi persilangan Frisian Holstein (FH) dan Peranakan Jersey. Pengumpulan data dilakukan dengan prosedur wawancara terhadap pemilik dan/atau pengelola ternak, dimana pertanyaan diajukan untuk memperoleh informasi mengenai nama pemilik, alamat, jenis ternak, umur ternak, paritas, serta jumlah IB atau kawin, kemudian diteliti mengenai sistem reproduksinya dengan pemeriksaan palpasi. Data diolah dan dianalisis menggunakan program Microsoft excel untuk menetukan signifikansi antara persentase status reproduksi yang diperoleh dengan persentase kegagalan reproduksi dan dibandingkan dengan literatur. Data Status Reproduksi dan Gangguan Reproduksi di wilayah tersebut memiliki gambaran yang baik dibandingkan literatur sapi perah pasca vaksinasi PMK sebelumnya. Dengan demikian, vaksinasi pasca PMK setelah 6 bulan di Koperasi Puspetasari sudah kembali normal dan tidak mempengaruhi kualitas reproduksi sapi perah.
Reproductive efficiency can only be achieved with proper management and wise
planning for organizing dairy herds activities. This study was conducted at Puspetasari
Dairy Cow’s Cooperative Farm, where each cow was vaccinated with PMK vaccine within
the past 6 months. Reproductive Status and Reproductive Disorders after PMK were
investigated. A total of 167 dairy cows were used as research material. The sample breed
used was a crossbred cattle Friesian Holstein (FH) and Jersey crossbred cattle. Data
collection was carried out using interview procedures with livestock owners and/or
managers, with information regarding owner's name, address, livestock type, livestock age,
parity, and number of AI or mating. Examination of the reproductive system was done by
palpation. Data were processed and analysed using the Microsoft Excel program to
determine the significance between the percentages of reproductive status and reproductive failure obtained and compared with the literature. Data on reproductive status and
reproductive disorders in this region compare favourably with previous literature on dairy
cows following foot-and-mouth disease vaccination. Therefore, the efficacy after 6 months
of PMK vaccination in Puspetasari’s cooperative farm returned to normal and did not affect
the reproductive quality of dairy cows.
Kata Kunci : Status Reproduksi, Gangguan Reproduksi, Vaksin PMK