Laporkan Masalah

Identifikasi Okupasi Laban Oleh Masyarakat Pada Areal Hutan Negara Eks HPH Menggunakan Citra SPOT-5 (Kasus Areal Pengajuan HTI PT Primabumi Sentosa, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat)

Maulana Achmad Wardono, Wahyu Wardbana, S.Hut., M.Sc

2009 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Kawasan hutan negara eks HPH menjadi lahan tidak produktif setelah berakhirnya pengelolaan HPH. Keberadaan hutan negara yang tidak dikelola HPH membuat masyarakat semakin mudah dalam merambah hutan. Hal ini semakin dipermudah dengan adanya aksesibilitas berupa jalan bekas HPH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui okupasi lahan yang terjadi oleh masyarakat sekitar hutan eks HPH. Penelitian ini dilakukan pada areal pengajuan hutan tanaman industri PT Primabumi Sentosa yang merupakan kawasan hutan negara eks HPH. Identifikasi didasarkan pada pendekatan penutupan lahan aktual yang terjadi pada areal pengajuan hutan tanaman industri. Penentuan tutupan lahan menggunakan metode penginderaan jauh dengan algoritma feature extraction pada Citra SPOT 5. Pembagian kelas penutupan lahan berdasarkan kelas penutupan lahan versi Departemen Kehutanan. Data sosial eek lapangan diambil dengan metode observasi lapangan dan wawancara. Pemilihan responden dalam wawancara digunakan metode purposive sampling. Hasil dari pembagian kelas penutupan di analisis untuk mendapatkan okupasi Iahan dengan dikombinasikan dengan data lapangan. Kelas penutupan lahan kawasan hutan negara eks HPH pada areal pengajuan hutan tanaman industri PT Primabumi Sentosa terbagi menjadi 7 kelas, yaitu hutan lahan kering sek:under (21,55%), pertanian lahan kering (1,60), pertanian lahan kering campur semak (58,40%), semak belukar (18,22%), pemukiman (0,07% ), areal terbuka (0, 15%) dan pelabuhan udara (0,01 % ). Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk atau pola okupasi lahan yang terjadi di areal pengajuan hutan tanaman industri PT Primabumi Sentosa berupa perladangan, pertanian karet, kebun campur dan pelabuhan udara.

Ex-forest concession land in state forest areas had been unproductive since concession time period was over. The availability of state forest areas without management gave local communities access to encroach the land since there were roads on the land. This research aimed to identify the land occupancy conducted by local communities living around. This research was conducted on the land proposed by PT Primabumi Sentosa as industrial plantation forest. This research employed actual land cover approach for identifying the land occupancy. The land cover approach itself employed remote sensing method with extraction feature algorithm on spot 5 image. Land cover classification was based on Ministry of Forestry version. Social field data collection used interview and field observation method. Respondent selection used purposive sampling method. Combination between social field data and the land cover classification result was the subject to be analized in order to identify of what the land occupancy like is. The land cover classification resulted seven classess, they were secondary dry land (21,55%), dry farming land (1.60%), brushy and dry farming land (58.40%), brushy land (18.22%), settlement (0.07%), bare land (0.15%), air port area (0.0 I%). This research showed that patterns of the land occupancy conducted by local communties were dry land farming, rubber plantation, mixed farming, and air port.

Kata Kunci : okupasi lahan, citra SPOT 5, kawasan hutan Negara eks HPH, penginderaan jauh

  1. Abstract.pdf  
  2. Bibliography.pdf  
  3. Table_of_Content.pdf  
  4. Title.pdf