Rancangan Penyelenggaraan Kegiatan Edukasi Museum bagi Para Penyandang Autisme: Studi Kasus Museum Sonobudoyo
LAURA CHRISTIANI PURBA, Sektiadi, S.S., M.Hum.
2024 | Skripsi | ARKEOLOGI
Salah satu tanggung jawab penting yang harus dipenuhi oleh museum, ialah memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat, tak terkecuali para penyandang disabilitas. Museum Sonobudoyo sebagai museum daerah yang terletak di Yogyakarta, tentunya juga memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi seluruh pengunjung museum, termasuk para penyandang autisme yang merupakan penyandang disabilitas mental. Salah satu cara yang dapat dilakukan Museum Sonobudoyo untuk mengedukasi para penyandang autisme, ialah dengan mengadakan kegiatan edukasi yang khusus diperuntukkan bagi para penyandang autisme. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan perancangan. Pada tahap pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data primer dengan cara melakukan observasi dan wawancara, serta data sekunder dengan cara membaca referensi berupa artikel, buku, dan jurnal. Selanjutnya, pada tahap analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui gambaran masalah yang sebenarnya. Lalu, tahap yang terakhir adalah perancangan kegiatan edukasi bagi para penyandang autisme yang ingin mengunjungi Museum Sonobudoyo. Hasil dari penelitian ini, ialah suatu rancangan kegiatan edukasi museum bagi para penyandang autisme yang disebut dengan “Autism Exploration Day”. Kegiatan edukasi ini dilaksanakan satu bulan sekali, yaitu pada hari Senin saat hari libur museum. Dalam pelaksanaannya, para penyandang autisme dibagi menjadi tiga kelompok yang didasarkan pada tingkat keparahan autisme, yaitu autisme ringan, sedang, dan berat. Selanjutnya, para penyandang autisme melakukan berbagai kegiatan di bagian “Wahana Interaktif” dengan didampingi oleh pemandu museum serta tenaga pengajar sekolah khusus autisme. Dalam upaya untuk mendukung kelancaran kegiatan edukasi ini, museum perlu menyediakan beberapa fasilitas, seperti video tour museum, sensory room, sensory tools, sensory bag, serta sensory map demi kenyamanan para penyandang autisme selama berkegiatan. Selain itu, museum juga perlu untuk melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti sekolah khusus autisme, pusat terapi autisme, pusat layanan autisme, portal berita online serta para pemandu museum untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan edukasi. Dengan adanya rancangan kegiatan edukasi ini, para penyandang autisme dapat berkegiatan di Museum Sonobudoyo secara aman dan nyaman, serta Museum Sonobudoyo juga memenuhi tanggung jawabnya sebagai museum, yaitu memberikan edukasi kepada para penyandang autisme yang merupakan penyandang disabilitas mental.
An important responsibility that museums must fulfill is to educate the entire community, including people with disabilities. Sonobudoyo Museum as a local museum in Yogyakarta certainly has a responsibility to educate all museum visitors, including people with autism who are considered as mentally disabled. An example of how Sonobudoyo Museum can educate people with autism is by creating special educational activities for people with autism. This research consists of three steps, namely data collection, data analysis, and planning. In the data collection stage, the data collected is primary data by conducting observations and interviews, along with secondary data by reading references in the form of articles, books and journals. Next, the data analysis stage is conducted descriptively to find out the exact problem description. Then, the last stage is planning educational activities for people with autism who want to visit Sonobudoyo Museum. The result of this research is a plan for museum educational activities for people with autism called “Autism Exploration Day”. This educational activity is held once a month, on Monday during the museum's holiday. In its implementation, people with autism are divided into three groups based on the severity of autism, namely mild, moderate, and severe autism. After that, the autistic people do various activities in the “Interactive Rides” section, accompanied by museum guides and autism special schoolteachers. In order to, encourage the success of this educational activity, the museum needs to provide several facilities, such as a video tour of the museum, sensory rooms, sensory tools, sensory bags, and sensory maps for the convenience of people with autism during the activities. Besides, the museum also needs to collaborate with various parties, such as special schools for autism, autism therapy centers, autism service centers, online newspaper, and museum guides to encourage the success of educational activities. This educational activity plan encourages people with autism to do activities at Sonobudoyo Museum safely and comfortably, and Sonobudoyo Museum also fulfills their responsibility as a museum, which is to educate people with autism who are considered as mentally disabled.
Kata Kunci : Autisme, Kegiatan Edukasi, Museum Inklusif, Museum Sonobudoyo, Penyandang Autisme, Rancangan Kegiatan Edukasi