PEMODELAN TINGGI MUKA AIR SUNGAI DI KAWASAN RAWA PASANG SURUT MENGGUNAKAN HEC – RAS UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN LAHAN PERTANIAN DI KECAMATAN KAPUAS MURUNG KABUPATEN KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
FAIZ AFNAN NURRAHMAN, Chandra Setyawan, S.T.P., M.Eng., Ph.D. ; Hanggar Ganara Mawandha, S.T., M.Eng., Ph.D.
2024 | Tesis | S2 Mekanisasi/Teknik Pertanian
Lahan rawa merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat potensial dan lokasinya tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah luas lahan rawa di Indonesia adalah 34,12 Juta Ha yang terdiri dari 8,92 Juta Ha lahan rawa pasang surut dan 25,2 Juta Ha lahan rawa lebak. Besarnya potensi lahan rawa di Indonesia yang dapat didayagunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat salah satunya dengan menjadikan lahan rawa sebagai lahan pertanian. Namun demikian, kenyataanya kontribusi lahan rawa terhadap produksi padi nasional masih sangat rendah. Rendahnya kontribusi lahan rawa terhadap produksi padi nasional ini disebabkan oleh luas lahan rawa yang dimanfaatkan untuk pertanian padi masih sangatlah kecil. Pemanfaatan lahan rawa menjadi lahan pertanian tentunya memerlukan kajian mendalam salah satunya kajian mengenai hidrotopografi lahan, untuk mengetahui lahan mana saja yang memang cocok dan sesuai untuk ditanami tanaman padi dan tanaman pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa pola pergerakan air pasang dan surut, memprediksi pergerakan aliran air dengan menggunakan pemodelan HEC – RAS, dan mengidentifikasi dampak pasang surutnya air saluran terhadap lahan rawa di lokasi penelitian. Pada penelitian ini penulis mengambil lokasi di Kecamatan Kapuas Murung, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Tahapan penelitian ini antara lain membuat dan memasang alat ukur tinggi muka air otomatis (AWLR), selanjutnya membuat pemodelan pergerakan pasang surut menggunakan HEC – RAS versi 4.10. Hasil dari pemodelan digunakan sebagai dasar klasifikasi kelas hidrotopografi lahan untuk mengetahui lahan yang cocok untuk pengembangan lahan pertanian. Hasil dari penelitian ini didapatkan pola pergerakan aliran air pasang dan surut di daerah irigasi rawa Palingkau adalah Diurnal Tide yang berarti terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari. Selanjutnya hasil pemodelan HEC-RAS dapat digunakan untuk menggambarkan pasang surut muka air di Daerah Irigasi Rawa (DIR) Palingkau. Validasi model HEC-RAS menunjukkan bahwa simulasi pemodelan aliran air pasang surut ini baik dan sangat layak untuk digunakan. Hasil analisis klasifikasi kelas hidrotopografi lahan menunjukkan bahwa lokasi penelitian diklasifikasikan menjadi 3 kelas yaitu Hidrotopografi Kelas B dengan luas lahan 1.444,99 Ha atau 62.02%, Hidrotopografi Kelas C dengan luas lahan 488.60 Ha atau 20.97%, dan Hidrotopografi lahan Kelas D seluas 396.41 Ha atau 17,01%. Lahan dengan klasifikasi Hidrotopografi kelas A dan kelas B dapat direkomendasikan menjadi lahan pertanian. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa sebagian besar lokasi penelitian memiliki klasifikasi hidrotopografi lahan kelas B yang berarti dapat dimanfaatkan menjadi pengembangan lahan pertanian.
Swamp land is one of the natural resources with great potential and its location is spread throughout almost all regions of Indonesia. The total area of swamp land in Indonesia is 34.12 million Ha, consisting of 8.92 million Ha of tidal swamp land and 25.2 million Ha of lowland swamp land. The large potential of swamp land in Indonesia can be utilized to improve people's welfare, one of which is by turning swamp land into agricultural land. However, in reality the contribution of swamp land to national rice production is still very low. The low contribution of swamp land to national rice production is due to the fact that the area of swamp land used for rice farming is still very small. Utilizing swamp land as agricultural land certainly requires in-depth study, one of which is a study of land hydrotopography, to find out which land is suitable and suitable for planting rice and agricultural crops. The aim of this research is to analyze the movement patterns of tidal and ebbing water, predict the movement of water flow using HEC – RAS modeling, and identify the impact of ebb and flow of channel water on swamp land at the research location. In this research, the author took the location in Kapuas Murung District, Kapuas Regency, Central Kalimantan. The stages of this research include creating and installing an automatic water level measuring instrument (AWLR), then modeling tidal movements using HEC – RAS version 4.10. The results of the modeling are used as a basis for classifying land hydrotopography classes to determine land that is suitable for agricultural land development. The results of this research showed that the pattern of movement of tidal and ebb water flows in the Palingkau swamp irrigation area is Diurnal Tide, which means there is one high tide and one low tide in one day. Furthermore, the results of HEC-RAS modeling can be used to describe the ebb and flow of water levels in the Palingkau Swamp Irrigation Area (DIR). Validation of the HEC-RAS model shows that the tidal flow modeling simulation is good and very suitable for use. The results of the hydrotopographic land class classification analysis show that the research location is classified into 3 classes, namely Class B Hydrotopography with a land area of 1,444.99 Ha or 62.02%, Class C Hydrotopography with a land area of 488.60 Ha or 20.97%, and Class D hydrotopography with an area of 396.41 Ha or 17.01%. Land with a hydrotopography classification of class A and class B can be recommended as agricultural land. The results of this research concluded that most of the research locations have class B hydrotopographic land classification, which means they can be used for agricultural land development.
Kata Kunci : Pemodelan, HEC – RAS, Lahan, Rawa, Pasang, Surut, AWLR, Pertanian, Hidrotopografi