SISTEM PERKAWINAN PADA SEBARAN ALAM MERBAU (Intsia bijuga (Colebr) 0. Kuntze) DI PAPUA BERDASARKAN PENANDA ISOZIM
Apriani Nurlia Ningsih, Dr. Sapto lndrioko, S.Hut, MP
2008 | Skripsi | S1 KEHUTANANMerbau (Intsia bijuga (Colebr) 0. Kuntze) adalah salah satujenis tanarnan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga diminati oleh semua kalangan khususnya industri perkayuan. Pemanfaatan merbau yang tidak memperhatikan kaidah pelestarian sumberdaya genetiknya atau tidak diimbangi dengan upayaupaya reboisasi hutan menyebabkan menurunnya jumlah populasi merbau. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan k.<.1alitas dan k<.1al.iitas populasinya antara Iain dengan pemuliaan pohon. Salah satu informasi yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pemuliaan pohon merbau adalah sistem perkawinannya. Penelitian ini menggunakan daun semai merbau yang dieksplorasi dari populasi alarnnya yang terdapat di Papua Pada daerah tersebut berhasil dilmmpulkan sampel dari 2 populasi yaitu Kerom dan Manokwari dengan jumlah sampel masing-masing 11 farnili (121 sampel) dan IO farnili (110 sampel). Sistem enzim yang digunakan dalam analisis ini adalah GOT, POD, EST dan DIA Sistem perka\\inan dianalisis dengan menggunakan program MLTR. Hasil penelitian menunjukkan bahv,·a rnriasi genetik yang tedapat pada populasi Kerom dan Manokwari cuJ...<.1p tinggi, dengan Heterozigositas Total Hr=.0,390, Heterozigositas dalam populasi Kerom Hs=0,392 dan dalam populasi Manokwari Hs=0-370. Berdasarkan analisis menggunakan MLTR sistem perkav.ina.n yang terjadi pada merbau adalah cenderung mengikuti perkawina.n silang dengan nilai tm 1,000; ts 0,972; tm-ts 0,028 dan fp 0.269 pada populasi Kerom dan tm 1,000; ts 0,981; tm-ts 0,019 dan rp 0,147 pad.a populasi Manokwari. Frekuensi alel tiap lokus pada polen dan ovul yang diuji menggunakan chi-square test (f) ternyata menunjukkan nilai frekuensi ovul dan polen yang berbeda hampir di semua lol---us.
Merbau ( lntsia biju.ga ( Colebr) 0. Kuntze) is a high economially important species, particulary in wood industry. Exploiting this spesies without any effoert both on maintaining genetic resources and rehabilitating the forest, resulted to the decreation of population. Strategic plan were needed to maintain and increase the quality and quantity of merbau population. were tree inmprovement plays an important role. Therefore, information on mating system is the important step on conducting the tree improvement activities. Leaves of merbau seedling is collected from its natural population in Papua were used in this research. Samples were collected from 2 populations: Kerom (11 families, 121 samples) sand Manokwari (10 families. 110 samples). lsozyme analysis was done using 4 enzyme systems: GOT, POD, EST and DIA. Mating system was analyzed by ML TR program. Result showed high genetic variation both on Kerom and Manok\vari were total heterozigosity Hr=0,390. Heterozygosity within Kerom population Hs=0,392 and Manok.-wari population Hs=0,370. MLTR program analysis showed that the mating system of merbau seemed to be outcrossing, with tm=l,000: ts=0,972: 1mts=0.028 and rp=0,269 at population Kerom and tm= l,000: ts 0,981: tm-ts=0,019 and rp=0,147 at population Manokwari. Allele frequencies each loci at pollen and ornle that tested with chi-square test ( l), showed the different frequency ovule and pollen almost on all of loci estimated.
Kata Kunci : merbau. isozirn, variasi genetik, sistem perkawinan.