Laporkan Masalah

Hubungan antara tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, mean arterial pressure (MAP), dan derajat proteinuria dengan kejadian eklamsia

PUTRA, Ainal Syah, Dr. H.A. Irmansjah Mochtar, SpOG(K)

2003 | Tesis | PPDS I Obstetri dan Ginekologi

Latar belakang: Eklamsia masih merupakan salah satu penyebab penting dari kematian maternal. Penelitian-penilitian sebagai usaha untuk melakukan pencegahan terjadinya eklamsia pada penderita preeklamsia telah banyak dilakukan, namun sampai saat ini masih belum didapat hasil yag diharapkan. Baik proteinuria, maupun tekanan darah hingga saat ini tidak jelas peranannya dalam memperkirakan timbulnya kejang eklamsia ini. Pengetahuan tentang faktor prognosis pada eklamsia ini sangat penting artinya dalam upaya mencegah terjadinya eklamsia. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, mean arterial pressure (MAP), dan derajat proteinuria dengan kejadian eklamsia. Metode penelitian: Studi kasus kontrol. Bahan dan cara: Kasus-kasus yang memenuhi criteria kelayakan diteliti secara retrospektif dengan menggunakan data yang diperoleh dari rekam medik penderita Tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, mean arterial pressure (MAP), dan derajat proteinuria dikaji sebagai faktor prognosis terjadinya eklamsia. Faktor lain yang dikaji hubungannya dengan kejadian eklamsia antara lain adalah usia ibu, umur kehamilan, paritas, dan pemberian MgSO4. Data dianalisis dengan program komputer, dan uji statistik yang digunakan adalah chi square, analisis bivariat serta regresi logistik untuk uji multivariatnya. Hasil: Selama periode penelitian, tercatat 113 (23,5%) penderita eklamsia dari 480 pasien preeklamsia/eklamsia yang dirawat di RS Dr. Sardjito Jogjakarta dari tahun 1998 sampai dengan 2002. Pada penelitian ini tidak diperoleh perbedaan yang bermakna dari pengaruh umur ibu terhadap kejadian eklamsia (p>0,05 OR 0,76; CI95%: 0,40-1,43). Hasil penelitian ini juga tidak menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara umur kehamilan dengan kejadian eklamsia (p>0,05 OR 1,00; CI 95% 0,55-1,82). Analisis bivariat yang dilakukan memperlihatkan hubungan yang bermakna pada variabel paritas (OR 3.47; 85% CI: 1.83-6.55), tekanan darah diastolik (OR 4,75; 95%CI: 1.,06-3,34), dan pemberian MgSO4 (OR 2,48; 95%CI: 1,21-5,07) sebagai faktor prognostik terhadap kejadian eklamsia. Analisis multivariat yang dilakukan kemudian menunjukkan bahwa ketiga faktor prognostik tersebut tetap bermakna, yakni paritas (p=0,00, OR 3,58; 95% CI: 1,86-6,89), tekanan darah diastolik (p=0,02 OR 2,09; 95%CI: 1,14-3,84), dan pemberian MgSO4 (p=0,02, OR 2,50; 95%CI: 1,18-5,33). Tidak diperoleh hubungan yang bermakna antara proteinuria, tekanan darah sistolik, MAP, usia ibu, dan umur kehamilan terhadap kejadian eklamsia. Kesimpulan: Pada penelitian ini terlihat bahwa faktor prognosis yang berperan pada kejadian eklamsia adalah tekanan darah diastolik, dan pemberian MgSO4, serta paritas ibu pada penderita preeklamsia.

Background: Eclampsia, the occurrence of seizure in association with preeclampsia, remains an important cause of maternal and perinatal mortality worldwide. Despite extensive research, no definitive cause nor the prognostic factors has been identified clearly. Neither proteinuria nor blood pressure could clearly predict the occurrence of seizure. However, even the natural history of the disease progression continues to elude us, and this disease is not giving up its secrets anytime soon, efforts should always be done to find out significant prognostic factors to predict the occurrence of seizure, so that some interventions could be designed to prevent the disease. Objective: This study was undertaken to determine whether systolic, diastolic blood pressure, mean arterial pressure (MAP), proteinuria, and MgSO4 administration are associated with the incidence of eclampsia. Study design: case-control study. Setting: Dr. Sardjito General Hospital Jogjakarta, in 1998 to 2002. Material and methods: Four hundred and sixty seven cases which met the inclusion and exclusion criteria were studied retrospectively using the medical records. Sample size was counted, then matching was performed using gestational age, and 76 cases of eclampsia, all together with 152 preeclampsia were taken as cases and the controls groups. Systolic, diastolic blood pressure, mean arterial pressure, proteinuria, were studied as prognostic factors of eclampsia. Data were analyzed using chi-square, bivariate, and multivariate analysis as appropriate. Some other factors such as gestational age, patients’age, parity, and MgSO4 administration were also studied in the same manner. Results: During study period, 113 (23.5%) patients were diagnosed as eclampsia. Sixty (78.9%) of the patients were nulliparous. Bivariate analysis revealed statistical significance for the following variabels associated with eclampsia: parity (OR 3.47; 85% CI: 1.83-6.55), diastolic blood pressure (OR 4.75; 95% CI: 1.06-3.34), and MgSO4 administration (OR 2.48; 95% CI: 1.21-5.07). Subsequent multivariate analysis showed that those three factors remained significant, which were parity (p=0.00, OR 3.58; 95% CI: 1.86-6.89), diastolic pressure (p=0.02, OR 2.09; 95% CI: 1.14-3.84), and MgSO4 administration (p=0.02, OR 2.50; 95% CI: 1.18-5.33). There were no associations among systolic pressure, MAP, proteinuria, gestational age, and patients’ age with the incidence of eclampsia. Conclusions: This study identified that parity, diastolic blood pressure, and MgSO4 administration appear to be the prognostic factors for eclampsia.

Kata Kunci : Eklamsia,Tekanan Darah Sistolik, Diastolik, MAP dan Derajat Proteinuria, preeclampsia, eclampsia, prognostic factors, blood pressure, mean arterial pressure, proteinuria, cerebral perfusion pressure, MgSO4.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.