Laporkan Masalah

Optimasi Penetapan Kadar Amoksisilin dengan Pereaksi Nikel (II) Dimetil Sulfoksid secara Spektrofotometri

Rawit Suryandari, Drs. Supardjan A.M., M.S., Apt

1991 | Skripsi | S1 FARMASI

Telah dilakukan penelitian optimasi penetapan ka- dar amoksisilin dengan pereaksi Nikel(II) dimetil sulfoksid secara spektrofotometri. Penelitian tersebut dilakukan untuk mempelajari prospek penggunaan spektrofotometer ultraungu dalam me- netapkan kadar amoksisilin yang tercampur dengan turunen penisilin lainnya, karena adanya gugus amino bebas seperti halnya pada ampisilin yang dapat bereaksi dengan pereaksi pembentuk senyawa komplek Nikel(II)dimetil sulfoksid yang mempunyai serapan pada 330,0 nm (Feter, 1973). Dari optimasi penetapan kadar amoksisilin yang telah direaksikan dengan pereaksi Nikel(II) dimetil sulfoksid secara spektrofotometri diperoleh, penetapan yang optimal dilakukan pada panjang gelombang 324,5 nm deri hasil reaksi yang direaksikan pada temperatur 50°C selama 10 sampai 25 menit, dari sistem bebas air maupun metanol, dengan waktu pengukuran serapan tidak lebih dari 50 menit yang dihitung dari selesainya pemanasan system reaksi. Adanya gugus hidroksi pada struktur molekul dari amoksisilin akan memudahkan terjadinya reaksi pembentukan senyawa komplek dengan pereaksi Nikel(II) dimetil sulfoksid, yang terbukti dengan adanya intensitas serapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil reaksi antara ampisilin dengan pereaksi Nikel(II) dimetil sulfoksid. Pada penetapan kadar amoksisilin yang tercampur dengan kalium benzilpenisilin ternyata didapatkan hasil perolehan kembali yang tidak terpengaruh oleh adanya kelium benzilpenisilin baik dengan perbandingan 90: 10: 70 30 maupun 60 40, yakni masing-masing diperoleh hasil perolehan kembali sebesar (98,460,69), (98,85 3,69) % dan (97,353,97) %. Setelah dilakukan uji varian dua jalan dengan taraf kepercayaan 95, ternyata didapatkan baik antara amoksisilin yang tercampur dengan laktosa maupun yang tercampur dengan kalium benzilpenisilin tidak terdapat perbedaan yang bermakna, disamping itu juga pada masing-masing kelompok yang mempunyai perbandingan yang berlainan tidak terdapat perbedaan yang bermakna pula.

Kata Kunci : Amoksisilin, Dimetil sulfoksid, Nikel, Spektrofotometri

  1. S1-FAR-1991-RawitSuryandari-abstract.pdf  
  2. S1-FAR-1991-RawitSuryandari-bibliography.pdf  
  3. S1-FAR-1991-RawitSuryandari-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FAR-1991-RawitSuryandari-tittle.pdf