Evaluasi Kerjasama Lintas Sektor Dalam Meningkatkan Capaian Imunisasi Dasar Lengkap Di Kabupaten Sumba Tengah
Yunita Fitriah, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH
2024 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN
Latar Belakang : Imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan yang paling cost effective (murah), karena terbukti dapat mencegah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan merata di seluruh wilayah sehingga dapat sebagai tindakan pencegahan terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Kabupaten Sumba Tengah selama 5 tahun terakhir (Tahun 2018-2022), kondisi cakupan imunisasi dasar lengkap masih fluktuatif atau belum stabil. Penurunan cakupan imunisasi dasar lengkap dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk kondisi geografis yang terpencil, aksesibilitas yang terbatas, serta kurangnya keterlibatan lintas sektor seperti kepala desa dan kader posyandu. adanya kerjasama lintas sektor diharapkan dapat memberikan dukungan dalam program kesehatan termasuk peningkatan capaian imunisasi.
Tujuan : Untuk mengevaluasi dan mengeksplorasiĀ variabel komunikasi, keterlibatan, persepsi, motivasi, kebijakan dan kapasitas dalam kerja sama lintas sektor dalam upaya meningkatkan capaian imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Sumba Tengah.
Metode : Penelitian ini menggunakan studi kasus kualitatif dengan desain multiple case embedded. Kami mewawancarai 33 informan yang dipilih secara purposif dari dua desa, satu dengan cakupan tinggi dan satu dengan cakupan rendah, menggunakan kerangka kerja tata kelola kolaboratif untuk mengklasifikasikan informasi yang diperoleh.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan adanya motivasi bersama untuk mencapai cakupan imunisasi yang tinggi di daerah mereka. Namun, kapasitas untuk bertindak bervariasi; desa dengan cakupan tinggi memiliki kebijakan kerjasama yang jelas dan sanksi untuk ketidakhadiran di posyandu, serta komunikasi dan pengawasan yang lebih baik dari kabupaten dan puskesmas. Desa ini juga memiliki forum komunikasi reguler antara dinas kesehatan, puskesmas, dan masyarakat yang diinisiasi oleh pengelola program. Meskipun terdapat umpan balik dan keterlibatan perencanaan anggaran dari puskesmas, namun hal ini belum optimal. Studi ini menyarankan bahwa efektivitas program dapat ditingkatkan melalui strategi seperti forum komunikasi lintas sektor secara reguler, peningkatan kapasitas bagi petugas dan kader, serta penggunaan teknologi informasi untuk pemantauan secara real-time. Selain itu, kebijakan formal secara signifikan mempengaruhi kolaborasi lintas sektor dan dukungan yang adil untuk program imunisasi di daerah pedesaan Indonesia.
Kesimpulan dan Saran : Kurangnya komunikasi, koordinasi, keterlibatan dalam pelaksanaan kegiatan imunisasi serta belum tersedianya kebijakan yang mengatur mempengaruhi kerjasama dalam program imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Sumba Tengah. Peningkatan capaian imunisasi di Kabupaten Sumba Tengah dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip collaboration governance dalam pelaksanaan program imunisasi.
Background: Immunization is one of the most cost-effective health investments, as it has proven to prevent Vaccine-Preventable Diseases (VPDs). Immunization coverage must be maintained at high and uniform levels across all regions to prevent outbreaks. In Central Sumba Regency, over the past five years (2018-2022), the coverage of complete basic immunization has been fluctuating and unstable. The decline in complete basic immunization coverage is influenced by several factors, including remote geographical conditions, limited accessibility, and lack of cross-sectoral involvement such as village heads and posyandu cadres. Cross-sectoral collaboration is expected to provide support in health programs, including improving immunization coverage.
Objective: To evaluate and explore the variables of communication, engagement, perception, motivation, policy, and capacity in cross-sector collaboration efforts to improve the coverage of complete basic immunization in Central Sumba District.
Method : This study uses a qualitative case study with a multiple case embedded design. We interviewed 33 informants selected purposively from two villages, one with high coverage and one with low coverage, using a collaborative governance framework to classify the information obtained.
Results : The research results indicate a shared motivation to achieve high immunization coverage in their area. However, the capacity to act varies; villages with high coverage have clear cooperation policies and sanctions for absenteeism at the Posyandu, as well as better communication and supervision from the district and health centers. These villages also have regular communication forums between the health department, health centers, and the community initiated by program managers. Although there is feedback and budget planning involvement from the health centers, it is not yet optimal. This study suggests that the effectiveness of the program can be enhanced through strategies such as regular cross-sector communication forums, capacity building for officers and cadres, and the use of information technology for real-time monitoring. Additionally, formal policies significantly influence cross-sector collaboration and fair support for immunization programs in rural areas of Indonesia.
Conclusion and Recommendations : The lack of communication, coordination, involvement in the implementation of immunization activities, and the absence of regulatory policies affect collaboration in the complete basic immunization program in Sumba Tengah Regency. Increasing immunization coverage in Sumba Tengah Regency can be achieved by applying the principles of collaborative governance in the implementation of the immunization program.
Kata Kunci : Imunisasi, Kerjasama, Lintas Sektor, Collaborative Governance