Laporkan Masalah

Pengaruh gender terhadap kepatuhan minum obat penderita Tuberculosis dengan menggunakan program directly observed treatment short-course DOTS) di Kabupaten Purworejo

MUHLISI, La Ode, dr. Siswanto Agus Wilopo, SU.,MSc.ScD

2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang. Indonesia merupakan negara penyumbang kasus penderita tuberkulosis terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan India. Di Indonesia penyakit ini telah lama dibasmi tetapi akhir-akhir ini dilaporkan angka kasus penyakit tuberkulosis meningkat lagi seiring dengan peningkatan kasus resistensi terhadap OAT. Penyebab utama resistensi adalah karena ketidak patuhan penderita dalam pengobatan. Penyebab ketidak patuhan diantaranya karena kurangnya pengetahuan, KIE, motivasi, sosial ekonomi, stigma dan kurangnya dukungan keluarga dalam pengobatan serta karena kemiskinan. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kepatuhan berobat antara laki-laki dan perempuan serta faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat khususnya yang disebabkan oleh karena issue dan diskriminasi gender dalam keluarga. Metode. Lokasi penelitian di Kabupaten Purworejo dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah semua penderita yang telah berobat 2 – 5 bulan pada saat penelitian ini dilakukan dengan jumlah sampel 87 orang (total sampling). Analisis yang digunakan untuk mengukur perbedaan kepatuhan berobat antara laki-laki dan perempuan dengan menggunakan uji chi square dan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat serta variabel antara dengan menggunakan analisis stratifikasi Mantel-Haenzel, taraf signifikansi 5 persen. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:Faktor pengetahuan berhubungan dengan kepatuhan berobat, tetapi dukungan keluarga, motivasi, KIE, stigma dan status sosial ekonomi tidak mempengaruhi kepatuhan berobat pada perempuan Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan antara kepatuhan berobat laki-laki dan perempuan, sekaligus membantah issue dan diskriminasi gender dalam kepatuhan berobat. Faktor-faktor KIE, motivasi, dukungan keluarga, stigma dan sosial ekonomi tidak mempengaruhi kepatuhan berobat pada perempuan

Background: Indonesia is a country with the third biggest number of tuberculosis cases in the world after China and India. In Indonesia, this disease has been treated but recently it was reported that the rate of tuberculosis cases increased along with the increase of resistance cases of OAT. The main cause of resistance is non-compliance of patients toward treatment. The cause of non-compliance, among others, are lack of knowledge, KIE, motivation, socio-economics, stigma and less family support for treatment and poverty. Objectives: This study was aimed at finding out the differences of treatment compliance between male and female patients and factors affecting treatment compliance, especially caused by issues and gender discrimination in families. Methods: The study was located in Purworejo regency and it was a cross-sectional study. The subjects were all patients who were 2-5 months late for treatment during the study. The samples were 87 patients (total sampling). The chi-square analysis was applied to measure the compliance difference between male and female patients. Meanwhile Mantel-Haenzel stratification analysis was applied to find out the relationship between independent and dependent variables with 5% significance level. Results: The results showed that knowledge was related with treatment compliance; but family support, motivation, KIE, stigma and socio-economic status did not affect treatment compliance among female patients. Conclusion: There is no difference between treatment compliance between male and female patients and this argues that gender discrimination and issues, stigma and socio-economic factors did not affect treatment compliance among female patients.

Kata Kunci : Kesehatan Ibu dan Anak,Kepatuhan Minum Obat,Penderita TBC,Tuberkulosis, gender, treatment compliance


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.