Laporkan Masalah

KAJIAN TINGKAT KETIDAKNYAMANAN DI WILAYAH PINGGIRAN KOTA YOGYAKARTA UNTUK ARAHAN PENGEMBANGAN HUTAN KOTA (Studi Kasus Kecamatan Depok, Gamping, dan Mlati)

Marita Kumalasari , Prof. Ir. H. Chafid Fandeli, M. S

2008 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

INTISARI Sejalan dengan kemajuan pembangunan in:frastruktur kota akhir-akhir ini nampaknya perkembangan RTH terns tertinggal dan mengalami perubahan menjadi ruang terbangun. Kemajuan pembangunan infrastruktur kota juga mengakibatkan kecenderungan pergeseran fungsi-fungsi kekotaan ke daerah pinggiran kota (urban fringe) yang disebut dengan proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (urban sprawl). Adanya areal permukaan terbangun yang semakin luas serta tidak diimbangi dengan penataan elemen-elemen alami, dapat mengganggu kestabilan ekosistem perkotaan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan suhu (ameliorasi iklim), penurunan kelembaban dan menimbulkan ketidaknyamanan. Penurunan kualitas seperti ini dapat dipulihkan kembali dengan pembangunan RTH. RTH dapat menurunkan tingkat ketidaknyamanan dan menimbulkan kenyamanan bagi manusia ataupun mahluk hidup lainnya untuk menjalankan setiap aktivitasnya. Kondisi ketidaknyamanan pada tiap kawasan tidaklah sama, maka penentuan zonasi prioritas untuk arahan pengembangan RTH berdasarkan kondisi ketidaknyamanannya dirasakan sangat penting. Penelitian ini dilakukan pada kawasan pinggiran Kota Y ogyakarta bagian utara, yaitu Kecamatan Depok, Mlati dan Gamping. Lokasi dan titik penelitian dipilih secara Purpossive Sampling agar sesuai dengan tujuan penelitian. Titik penelitian adalah lingkungan di sekitar balai desa pada Kecamatan Depok, Mlati, dan Gamping, yang berjumlah 13 titik penelitian. Data yang diambil di lapangan adalah data suhu dan kelembaban pada 13 titik penelitian dalam 3 waktu pengamatan (pagi, siang dan sore) sebanyak 12 kali ulangan. Analisis statistik dilakukan dengan analisis varian dengan derajat kesalahan sebesar 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai suhu, kelembaban dan Discomfortability Index (DI) antar desa dan waktu pengamatan. Sehingga diperoleh zonasi prioritas pertama (kelas tidak nyaman) untuk arahan pengembangan RTH adalah Desa Nogotirto, Ambarketawang, Banyuraden, Trihanggo, Maguwoharjo dan Condongcatur. Zonasi prioritas kedua (kelas kurang nyaman) adalah Desa Balecatur, Sinduadi, Condongcatur, Tlogoadi, Tortoadi, Sumberadi dan Sendangadi. Sebagian besar desa di zonasi prioritas pertama adalah desa-desa di Kecamatan Depok dan Gamping dengan luasan kawasan yang berbatasan langsung dengan Kota Y ogyakarta yang lebih besar dibandingkan dengan Kecamatan Mlati, dimana sebagian besar desa pada Kecamatan Mlati berada di zonasi prioritas kedua.

ABSTRACT Along with recent progress in infrastructure development, it appears that development of RTH has lagged behind and changed to be constructed area. This progress in city infrastructure development also lead to tendency of moving town functions to suburban area (urban fringe) called as urban sprawl. Wider constructed area that is not balanced with arrangement of natural elements could disturb stability of urban ecosystem. It may caused occurrence of increase in temperature ( climate ameliration), decrease in hmidity and discomfortability. This decrease in urban cosystem quality could be restored by RTH development. The existence of RTH can reduce discomfortability and lead to comfortabilty for human being or other living creatures to do their activities. Discomfortabilty in each area is not same, so determination of priority zoning for reference of RTH development based on condition of discomfortability is quite important. The research was done in north side of Y ogyakarta peri urban area, covering Depok, Gamping and Mlati district. Locations and research points was selected using Purpossive Sampling method which has suitable characters with the objectives of the research. Research points were area around village hall in Depok, Gamping and Mlati districts, with total of 13 research points.Field data included temperature and humidity in 13 points at three observation times (morning, day, and afternoon) with 12 repetitions. Statistic analysis was done with variant analysis with 5% error level. To make guidance for RTH development, it used descriptive analysis over secondary data and analysis statistic results. Result of the research indicated that there are a significant differences of temperature, humidity and Discomfortability Index (DI) amongs villages and observation times. The result showed that first priority zoning (discomfortable class) for RTH development are Nogotirto, Ambarketawang, Banyuraden, Trihanggo, Maguwoharjo and Condongcatur villages. The second priority zoning (less comfortable class) were Balecatur, Sinduadi, Condongcatur, Tlogoadi, Tortoadi, Sumberadi and Sendangadi villages. Most villages in first priority zoneare villages in Depok and Gamping districts with wider area bordering directly to Y ogyakarta city than Mlati district, where most villages in Mlati district area in second priority zone.

Kata Kunci : Indeks ketidaknyamanan, arahan pengembangan hutan kota, wilayah pinggiran kota

  1. Abstract.pdf  
  2. Bibliography.pdf  
  3. Table_of_Content.pdf  
  4. Title.pdf