PENGAWETAN KAYU SENGON (Paraserinthes falcataria) DENGAN EKSTRAK TEMBAKAU UNTUK MENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING Cryptotermes cynocephalus Light.
ROSALIA SEKARTI HARJASUMARTA, Dr. Ir. Sutjipto A. Hadikusumo, M.Sc
2008 | Skripsi | S1 KEHUTANANTingginya laju kerusakan hutan menyebabkan ketersediaan kayu semakin menurun. Ketidakseimbangan antara jumlah kayu dan kebutuhan kayu membuat konsumen harus menggunakan kayu dari jenis yang cepat tumbuh dan tersedia dalam jumlah yang banyak salah satunya kayu sengon. Di samping kelebihannya yang mampu dipanen pada umur 5 tahun, kayu sengon sangat rentan terhadap organisme perusak kayu seperti rayap kayu kering. Hal ini berakibat rendahnya umur pakai kayu sehingga diperlukan upaya pengawetan untuk memperpanjang masa pakainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi ekstrak tembakau dan lama perendaman pada proses pengawetan kayu sengon untuk mencegah serangan rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu sengon dari desa Trirenggo, Kecamatan Bantu!, Kabupaten Bantu), Daerah Istimewa Y ogyakarta. Sebagai bahan pengawet digunakan ekstrak daun tembakau yang diperoleh dengan merendam daun tembakau dalam air panas dengan suhu 70° -so0c selama 3 jam. Kekentalan pengekstrak divariasikan 50 gram, 75 gram, dan 100 gram tembakau kering per satu liter pengekstrak. Metode pengawetan yang digunakan adalah metode perendaman dingin dengan lama perendaman masing-masing 12 jam, 24 jam dan 36 jam. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi yang berpengaruh nyata antara jumlah bahan pengawet dan lama perendaman pada nilai absorbsi, retensi, mortalitas dan pengurangan berat. Mortalitas optimal diperoleh pada interaksi jumlah daun tembakau 100 gram/L dengan lama perendaman 24 jam sebesar 80% dengan nilai derajat kerusakan sebesar 25,50% dengan kriteria derajat kerusakan sedang dengan bekas gigitan yang dalam dan tidak meluas.
The high-rate of forest destruction causes reduction in supply of wood materials from the forest. An unbalanced between the demand for raw materials and the supply from the forests makes the consumers use types of wood that grow fast and able to supply larger volumes. One of them is Sengon wood. As its strength, Sengon wood is able to be harvested at the age of 5 years. However, this kind of wood offers less resistance to disease, such as dry wood termite. This problem may shorten the wood's validity time so that it needs to do a preservation effort in order to lengthen the period of service life of wood. This research has aimed to find out the interaction between the concentration of tobacco extract and the time of soaking in the Sengon wood preservation to prevent dry wood termite. The substance used in this research is Sengon wood from Trirenggo Bantu!, a region in Daerah Istimewa Yogyakarta. Extract of tobacco leaves is used as the preservative substance resulted from soaking the tobacco leaves in 70-80° C hot water for 3 hours. The viscosity of the extractor varies as 50 grams, 75 grams, and I 00 grams of dried tobacco per one liter of extractor. The preservation method used is a cold soaking method with 12 hours, 24 hours, and 36 hours of soaking time each. The result of the research indicates that there is an interaction that is really influenced between the amount of the preservative substance and the length soaking time to the value of absorption, retention, mortality, and weight reduction. The optimal mortality that is 80% is obtained from the interaction between I 00 grams/I of tobacco leaves and a 24-hour soaking time with the degree of wood damage value as much 25.5% belonging to a middle destruction criterion shown by a deep and narrow bite print.
Kata Kunci : Kayu sengon, ekstrak daun tembakau, perendaman dingin, rayap