Laporkan Masalah

Perencanaan di tingkat Unit-unit pelayanan pada RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

JULIATI, Menuk Riah, Agastya, SE.,MBA.,MPM

2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks, terdiri dari berbagai instalasi sebagai unit pelayanan strategis yang dipergunakan langsung oleh masyarakat. Di era reformasi saat ini, secara tidak langsung masyarakat juga ikut menilai kinerja aparatur rumah sakit dan kualitas pelayanan yang diberikan sehingga mutu pelayanan sudah menjadi tuntutan masyarakat. Keadaan ini menuntut pihak manajemen agar segera melakukan perubahan di dalam mengelola rumah sakit, dengan mulai menyusun perencanaan stratejik yang berbasis instalasi sebagai unit terkecil dari organisasi rumah sakit. Perencanaan yang baik dimulai dari unit terkecil agar perencanaan yang dibuat dapat optimum dan diharapkan menjamin kebutuhan untuk kelancaran kegiatannya serta dapat merangsang pengembangan tujuan yang tepat dan merupakan motivator kuat bagi pelaksananya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perencanaan di tingkat unit pelayanan dan mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dalam penyusunan perencanaan di tingkat unit pelayanan. Metode: Penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi eksploratif. Subyek penelitian adalah kepala instalasi, kepala SMF, dan pejabat struktural yang mengetahui proses perencanaan di instalasi. Data diperoleh dari wawancara mendalam, dan pengamatan dengan check list pada dokumen perencanaan sebagai data sekunder. Data dioleh secara kualitatif, hasilnya disajikan secara naratif, proporsi (prosentase) dalam bentuk tabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 18 intalasi di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, ada 3 instalasi (16,7%) yang memiliki dokumen perencanaan lengkap berdasarkan tahap diagnosis, tahap pengembangan, dan tahap penyusunan program. Ada 4 instalasi (22,2%) sama sekali tidak memiliki dokumen dan membuat perencanaan serta 11 instalasi (61,1%) memiliki dokumen perencanaan namun pentahapannya tidak lengkap. Faktor penghambat dalam menyusun perencanaan di instalasi antara lain: tidak adanya evaluasi prestasi kerja dan penghargaan oleh pimpinan, faktor kebijakan pimpinan dalam penetapan prioritas usulan program kegiatan, keterbatasan SDM, kurang lengkapnya data dan informasi yang dibutuhkan untuk perencanaan, kurang lengkapnya isi dokumen perencanaan stratejik sesuai pentahapannya, kurangnya koordinasi antara kepala instalasi dengan kepala SMF. Kesimpulan: Proses perencanaan di instalasi RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten belum berjalan dengan baik. 77,8% instalasi belum mengikuti langkah-langkah perencanaan stratejik yaitu tahap diagnosis, tahap pengembangan, dan tahap penyusunan program.

Background :Excellence service quality is highly demanded by the community as the customer of a Soeradji Tirtonegoro Klaten hospital. Such condition drives the hospital management to make some change by implementing the strategic planning formulation based on the installations as the smallest unit in order to achieve the optimum plan which persistly accomodate the operational needs of each installation involved. Objectives: This study aimed to evaluate the planning process in every service unit of the hospital and to identify the obstacle factors in the planning process in each service unit. Methods: This was a qualitative research using an explorative study. The subjects of the research were the chief/ leader of installation, Medical Functional Staff, and the key persons in the management who were in charge in the planning process in every installations. Data were collected through indepth interview and observation by using Check list to the document of planning as a secondary data. Data were analysed in qualitative and presented as naration, proportion (percentage) which presented in tabulation form. Results: The research showed that among 18 installation operated in Soeradji Tirtonegoro Hospital Klaten, there were 3 installations (16,7 %) had the complete document of planning based on the diagnosis phase, development phase, program formulation phase. There were 4 installation ( 22, 2%) even had no document of planning and did not have any planning at all while there were 11 installation ( 61,1 %) had the planning document with the incomplete. The obstacle factors at the process of the formulation of planning were: the absence of evaluation in the performance appraisal and reward system from the hospital manager, the policy of the leader due to the priority of the action program, lack of the human resources, incompleteness of the document of strategic planning based on the phases and poor coordination among the head of installation anf the medical functional staff. Conclusions: The strategic planning process in the installations of Soeradji Tirtonegoro hospital Klaten were not done properly. There were 77, 8 % of the whole installation had not implementing the strategic planning process including the diagnosis phase, development phase, and program formulation phase.

Kata Kunci : Manajemen Rumah Sakit,Perencanaan Strategik,Strategic Planning Process


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.