Faktor-faktor yang menentukan kepesertaan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat pada Badan Penyelenggara Jasma Angsana Singkawang
HUSNIAH, Prof.dr. Ali Ghufron Mukti, MSc.,Ph.D
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Salah satu program pemerintah di bidang pelayanan kesehatan adalah pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. Salah satu strategi untuk mencapai tujuan tersebut yaitu melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Untuk itu pemerintah menegaskan JPKM harus dikembangkan di semua daerah. Badan Pelaksana (Bapel) JPKM Jasma Angsana Singkawang dibentuk sebagai salah satu pelaksana jaminan pemeliharan kesehatan masyarakat di Kota Singkawang, Kab. Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Awalnya Bapel telah mampu menarik minat masyarakat, akan tetapi karena berbagai permasalahan yang ada mengakibatkan terjadinya penurunan kepesertaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan kepesertaan JPKM pada Bapel Jasma Angsana Singkawang dilihat dari pelayanan kesehatan yang diberikan, sistem pembayaran pra bayar yang diterapkan, tingkat premi yang berlaku, tingkat resiko sakit, profesionalisme dan akuntabilitas dari pengelola Bapel. Metode: Penelitian analitik deskriptif dengan metode cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 94 orang yang terdiri dari 39 responden berhenti dan 55 responden aktif yang ditentukan dengan metode simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Kepesertaan JPKM Jasma Angsana secara signifikan dipengaruhi oleh faktor pelayanan kesehatan dengan tingkat signifikansi 0,000.<0,05, penerimaan sistem pembayaran prabayar dengan tingkat signifikansi 0,002<0,05, dan tingkat premi dengan tingkat signifikansi 0,003<0,005. Secara umum, antara responden aktif dan responden berhenti memiliki penilaian yang berbeda terhadap pelayanan kesehata n. Responden aktif menilai pelayanan kesehatan yang diberikan sudah baik sementara responden berhenti menilai belum baik. Penilaian terhadap penerimaan sistem pembayaran prabayar, responden aktif cenderung dapat menerima sistem pembayaran prabayar sebalik nya responden berhenti tidak. Untuk tingkat premi, responden aktif dan berhenti memiliki penilaian yang berbeda, responden aktif menilai premi tidak tinggi, sementara responden berhenti menganggap tingkat premi tinggi. Penilaian terhadap tingkat resiko sakit, responden aktif menilai tingkat resiko sakit tidak menjadi alasan utama dalam kepesertaan JPKM, sedangkan responden berhenti menilai tingkat resiko sakit menjadi alasan utama. Untuk profesionalisme dan akuntabilitas dinilai sama oleh responden aktif dan berhenti yakni sudah tergolong baik. Faktor yang tidak signifikan berpengaruh terhadap kepesertaan JPKM adalah tingkat risiko sakit, profesionalisme, dan akuntabilitas. Kesimpulan: Faktor pelayanan kesehatan, penerimaan sistem pembayaran prabayar, dan tingkat premi secara signifikan menentukan kepesertaan JPKM pada Bapel Jasma Angsana Singkawang, sedangkan faktor tingkat resiko sakit, profesionalisme, dan akuntabilitas tidak signifikan menentukan kepesertaan JPKM Jasma Angsana Singkawang.
Background: One of government’s program in health service sector was health development aim to healthy Indonesia 2010. One of strategy to reach for that purpose was by public health care guarantee (JPKM). In order to this matter, the government asserted JPKM to be expanded in all region. The implementer institution (Bapel) JPKM Jasma Angsana Singkawang was formed as one fo public health care guarantee implementer in Singkawang City, Bengkayang Regency and Sambas Regency. In the beginning JPKM Jasma Angsana was able to involved public interest, but because of various problem in there had been resulted in lowering members’ abandonment. This research is purposed to analyse several factors related to the causes of the members’abandonment form JPKM Jasma Angsana Singkawang observed form health service that gave, prepaid system that applied, premi level, illness risk level, prefessionalism and accountability from Bapel organizer. Method: by analytical and descriptive conducted with cross sectional method. Sample used was 94 person, consists of 39 leaving members and 55 active members determined with random sampling method . Data collection was conducted with questionnaire. Result: Members’ abandonment JPKM Jasma Angsana significantly influenced by health service factor with significance level 0,000<0,005, prepaid system with significance level 0,002<0,005 and premi level with significance level 0,003<0,005. Generally between quit members and active members had different appraisal to health services. Active members appraise that health services that gived was good, while quit members appraise was not good. Appraisal to prepaid system, active members was disposed accepted prepaid system, in other side quit members was not accepted. For premi level, active members and quit members had different appraisal, active members appraise illness risk level was not to be principal reason in JPKM members’ abandonment, whereas quit members appraise illness risk level become princ ipal reason. For professionalism and accountability had appraised same by active members and quit members that it was in good classified. The factor that was not significant influenced to JPKM members’ abandonment was illness risk level, professionalism and accountability. Conclusion: the health services, prepaid system, and premi level determine the member’s abandonment from JPKM Jasma Angsana Singkawang significantly, whereas illness risk, professionalism and accountability were not significant determine the member’s abandonment from JPKM Jasma Angsana Singkawang.
Kata Kunci : Asuransi Kesehatan,JPKM,Kepesertaan Masyarakat,JPKM, quit members and active members, health