Laporkan Masalah

Evaluasi penemuan penderita kusta baru dan faktor-faktor penentu ketidakaturan berobat penderita kusta di Jogjakarta

MARHAENTO, F. Pireno Budi, dr. Suharyanto Supardi, MPH.,MSPH

2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Kesembuhan penderita kusta sangat ditentukan oleh keteraturan berobat. karena dengan keteraturan berobat ini penderita Iebih cepat dan tepat waktu untuk dinyatakan sembuh atau RF (iiekaced Irtrnî irL’utnlcnI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penentu ketidakaturan berobat penderita kusta di Daerah Istimewa Jogjakarta tahun 2002 Metode Penelitian: Jenis penelitian non ek.spenmental (obserasional) dengan rancangar cuxe-cniroI Ñuit’. Lokasi penelitian di Kabupaten I3antul. Sleman. Gunungkidul. dan Kota Jogjakarta dengan pertimbangan merupakan daerah terbanvak pendenta kusta. Sedangkan suhyek penelitian 62 penderita kusta yang masih berobat dan dinyatakan selesai pcngohatan alau RFT di Puskesmas dan RSUP Sardjtto. yang terdin dan 32 kasus (tidak taat berobat) dan 30 kontrol (taat berobat Hasil Penelitian: Dan basil analisis hivariate dijumpat beberapa faktor resiko yang bermakna secam statistik Yaitu: laki-laki dengan OR= 3,79 ()5% CI 1,07- 14,0e). kecacatan dengan 0R23,33 (95% CI: 4,17-172), kurang dukungan dengan OR-967 95 CI: 1.08-220). adanya perasaan maLu berobat dengan OR=5.06 95% C1:1,26-21,97). rcaksi kusta dengan OR= 6.50 95% Cl: 1.26- 28.23, bosan bembat dengan OR3.9O (95% CI: 1.96-17.09). namun setelah dilakukan analisis logistik regresi kcmaknaan secara statistik pada jenis kelamin Laki-laki (P=0.01). status bCILIT11 kawin (P 0.014). kecacatan (P0,O15), kurang dukurigan (P-’0,022), adanva perasaan malu berohat (P0,038). dan reaksi kusta P0,058). Kesimpu1an: Faktor resiko yang berpcngaruh pada ketidakaturan berobat kusta adalab. ienis kelamin laki-laki. status helum kawin. kecacatan. dukungan. pcrasaan malu herobat kusta dan reaksi kusta.

Background: The Release From Treatment of leprosy cases were very determined by their compliance to the treatment schedule, This study was aimed at finding determining factors of treatment irregularity among leprosy patients in Yogyakarta in 2002. Methods: The study was a non-experimental (observational) study with a casecontrol study. The locations were regencies of Bantul, Sleman, Gunung Kidul, and Yogyakarta as those areas had many leprosy patients. The subjects were 62 leprosy patients who still got treatment, finished getting treatment, or RFT in public health centers and Dr. Sardjito Hospital. The subjects consisted of 32 cases (un comply) and 30 cases (compliy) as control. Results: The bivariate analysis showed there were some statistically significant risk factors, i.e. male OR=0.79 (95% CI: 1.07-14.00); disability OR=23.33 (95% CI: 4.17- 172); less support OR=9.67 (95% CI: 1.08-2200; embarrassed to get treatment OR=0.06 (95% CI: 1.26-21.97); leprosy reaction OR=6.50 (95% CI: 1.26-28.23) tired of getting treatment OR=3.90 (95% CI: 1.96-17.09). However, based on logistic regression analysis, risk factors such as male patients (P=0.016), unmarried status (P=0.014), disability (P=0.015); less support (P=0.022); embarrassed to get treatment (P=0.038) and leprosy reaction (P=0.058), were Statistically significant. Conclusion: The risk factors influencing treatment irregularity among leprosy patients are male, unmarried, disabled, support, embarrassed to get leprosy treatment and leprosy reaction.

Kata Kunci : Epidemiologi Lapangan,Penderita Kusta,Pengobatan, leprosy, risk factors, treatment irregularity, treatment (MDT)


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.