PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAAN GN-RHL (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) Tahun 2004 DI LAHAN HUTAN RAKYAT (Studi Kasus Desa Sendangsari, Kec. Pajangan, Kab. Bantul)
Qodariawan, Ir. Djuwadi, M.S.
2008 | Skripsi | S1 KEHUTANANAlih fungsi hutan dan lahan mengakibatkan terjadinya banyak bencana di negeri ini. Gerakan Nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GN-RHL) merupakan upaya rehabilitasi hutan dan lahan dan perbaikan lingkungan yang terpadu, menyeluruh, bersama-sama, melibatkan semua stake-holders terkait, melalui perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi yang efektif dan efisien. Evaluasi GN-RHL untuk Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pe1tama kali dilakukan pada tahun 2004 oleh Tim Penilai Independent PT Gama Multi Usaha mandiri Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pada penanaman tahun 2004 dan evaluasi yang kedua pada tahun 2005 pada penanaman tahun 2004. Permasalahan pengelolaan hutan pada setiap daerah memeliki karakteristik tersendiri, begitu pula yang terjadi di desa Sendangsari, aktivitas penambangan batu gunung pada kawasan hutan rakyat menjadi ancaman bagi keberadaan hutan rakyat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis deskriptif untuk mencapai tujuannya, untuk memperoleh data primer menggunakan teknik wawancara dengan responden dan observasi yang berupa data hasil pengelolaan hutan kayu maupun non kayu, sistem penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pemasaran serta kondisi kelembagaan. Data sekunder berupa data persentase tanaman hidup diperoleh dari hasil evaluasi Tim Penilai lndependen pada tahun 2005 setelah adanya program GN-RHL pada tahun 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap kegiatan penyuluhan, monitoring dan evaluasi dari dinas Pertanian dan Kehutanan masih sangat kurang, akan tetapi program GN-RHL tahun 2004 dapat merehabilitasi hutan rakyat, membangkitkan kemandirian dan meningkatkan rasa kepedulian terhadap hutan rakyat, terbukti dengan tingkat keberhasilan tanaman sebesar ± 84% untuk tanaman pokok jati ([ectona grandis), dengan kategori baik (76-90%) dan tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) berupa tanaman mangga (Mangifera indica) sebesar 25% dengan kategori sangat kurang (<55%) ditandai dengan munculnya peraturan-peraturan dalam pengelolaan hutan di desa Sendangsari.
Land and Forest conversion has been causing a lot of disaster in thi s country. National Act of Land and Forest Rehabilitation (NA-LFR) is an effort on land and forest rehabilitation and integrated environment improvement, to gether, involving any stakeholders through effective and efficient planning, conducting, monitoring and evaluation. Evaluation on NA-LFR in Province of Jogjakarta conducted in the year of 2004 for the first time by Independent Evaluation Team of PT Gama Multi Usaha Mandiri, Gadjah Mada University, to evaluate 2004 planting and second evaluation conducted in 2005 for 2004 planting. Issues on forest management in each region have its own characteristic, as found in Sendangsari Village. Rock mining activity in people land forest is a thread on people forest occurrence. This research was employed descriptive method which carrying descriptive analysis to achieve its goal. In order to obtain primary data, the research used interview technique involving respondents and observation on result data as timber and non-timber forests management, planting system, cultivation, harvesting, marketing and also institution condition. Secondary data was percentage of life stand that obtain from evaluation result by Independent Evaluation Team in 2005 followin g NA-LFR program which carried out in 2004. Result of this research shows that perception onto activity including elucidation, monitoring, and evaluation by Agriculture and Forest agency was still insufficient. However, NA-LFR program which carried out in 2004 was able to rehabilitate people forest, generate self sustainability, and improve attention will to people forest. It was proved by successful rate of stand as ± 84% on teak (Tectona grandis), good category (76-90%), and for MPTS (Multi Purpose Tree Species) stand that mango as chosen stand (Mang?fera indica) as 25% that categorize as poor (<55%). Another result was an establishment of rules that involve on forest management in Sindangsari Village.
Kata Kunci : Keberhasilan Tanaman, Pengelolaan, Persepsi, Sendangsari