Intensi memilih mahasiswa dalam pemilihan umum :: Budaya individualisme-kolektivisme, jenis kelamin dan keterlibatan di organisasi politik kampus
UTAMA, J. Seno Aditya, Drs. Koentjoro, MBSc.,Ph.D
2004 | Tesis | S2 PsikologiPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara Intensi memilih dalam pemilu dikalangan mahasiswa ditinjau dari Budaya Individualisme-Kolektivisme, Jenis kelamin dan Keterlibatan di organisasi politik kampus. Kerangka teoritis memunculkan beberapa hipotesis. Hipotesis mayor menyatakan bahwa Budaya Individualisme- Kolektivisme, Jenis kelamin dan Keterlibatan dalam organisasi politik kampus memiliki hubungan dengan Intensi memilih. Hipotesis minor I menyatakan bahwa semakin kolektivis seseorang, maka dirinya semakin berintensi untuk memilih. Sebaliknya, semakin individualis seseorang maka dirinya semakin kurang berintensi untuk memilih. Hipotesis minor II menyatakan perempuan lebih berintensi untuk memilih dibandingkan laki-laki. Hipotesis minor III menyatakan mereka yang terlibat dalam organisasi politik kampus memiliki intensi memilih yang lebih rendah daripada mereka yang tidak terlibat. Subjek berjumlah 149 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Psikologi, Fakultas Filsafat dan Fakultas Ilmu Sosial Politik. Mereka diminta untuk mengisi Skala Intensi memilih, Skala Budaya Individualisme-Kolektivisme dan Kuesioner tentang Keterlibatan di organisasi politik kampus. Analisis regresi memperlihatkan adanya hubungan serentak antara Budaya Individualisme-Kolektivisme, Jenis kelamin dan keterlibatan di organisasi politik kampus dengan intensi memilih (F=37,386; p<0,01; R2=0,65). Dengan demikian hipotesis pertama diterima. Interkorelasi parsial menunjukkan adanya hubungan antara Intensi memilih dengan Budaya Individualisme (r=0,438; p<0,01) dan Budaya Kolektivisme (r=0,434; p<0,01), sementara variabel-variabel lainnya tidak menunjukkan adanya korelasi tersebut. Dengan hasil ini hipotesis minor I ditolak. Uji beda intensi memilih ditinjau dari jenis kelamin menghasilkan nilai t= -1,259 (db 147; p>0,05), dengan demikian hipotesis minor II ditolak. Interkorelasi parsial menunjukkan Intensi memilih tidak memiliki hubungan dengan Organisasi politik berbasis kampus (r= -0,064; p>0,05), Organisasi politik kampus yang berafiliasi dengan parpol (r= 0, 109; p>0,05), Organisasi politik kampus non afiliasi parpol (r= -0,066; p>0,05) dan Organisasi non politik kampus (r= 0, 043; p>0,05). Dari hasil ini hipotesis minor III ditolak. Variabel Budaya Individualisme dan Budaya Kolektivisme memegang peranan paling penting dalam menentukan Intensi memilih mahasiswa dalam pemilu. Ditinjau dari faktor Jenis kelamin-- khususnya dikalangan perempuan--terjadi redefinisi peran perilaku memilih, yaitu adanya kesetaraan intensi memilih antara perempuan dan laki-laki. Variabel keterlibatan dalam Organisasi politik kampus menunjukkan sikap mahasiswa yang independen terhadap pelaksanaan Pemilu
This study investigates voting intentions in national elections among students in relation to three variables: individualism-collectivism, gender, and involvement in political organization within their campus. There are several hypothesis to be tested. The main hypothesis is that there is indeed a relationship between individualismcollectivism, gender and involvement in intra campus political organizations. Sub hypothesis one is the more one is a collectivist the more he or she is motivated to vote, the more one is an individualist the more he or she unmotivated to vote. The second sub hypothesis: female students are more motivated to vote than their male counterparts. Thirdly, students involved in intra-campus political organizations are less motivated to vote than who are not a member of any political organizations. There are 149 respondents from the Faculty of Psychology, the Faculty of Philosophy and The Faculty of Political Science. These were asked to score of voting intentions, the scale of individualist-collectivist and fill a questionnaire on involvement in intra campus political organization. The result of regression analysis shows that there is a direct relationship between voting intentions with individualismcollectivism, gender and involvement in intra political organizations (F=37,386; p<0,01; R2 = 0,65). the main hypothesis is thus proven. Partial correlation analysis confirm the relationship between voting intentions with being individualist (r= 0,438; p<0,01) and collectivist (r=0,434; p<0,01), whereas other variables are proven not to be related. This means that sub hypothesis I is not proven. Voting intentions related to gender is t=-1,259 (db 147; p>0,05), which means that sub hypothesis II is rejected. Partial correlation analysis shows that voting intentions is not related to involvement in political organization (r=-0,064; p>0,05), campus political organization affiliated to political parties (r=0,109; p>0,05), campus political organization not affiliated to political organization (r=-0,066; p>0,05) and intra campus non-political organization (r=0,043; p>0,05). The third sub hypothesis is therefore rejected. It can be argue that the individualist-collectivist variable plays the most important role in determining voting intentions in national elections among students. Voting intentions are not related to gender or to involvement in intra campus political organizations
Kata Kunci : Psikologi Remaja,Individualisme,Pemilu, individualism, collectivism, gender, involvement within intra campus political organizations and voting intentions