Pola Aktivitas Dan Persepsi Inklusivitas Oleh Kelompok Rentan Pada Ruang Terbuka Publik Di Kota Surakarta (Studi Kasus : Stadion Manahan, Kawasan Ngarsopuro Dan Koridor Jalan Gatot Subroto)
Laelly Nadhira Sindy Ashari, Ir. Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM
2024 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Gagasan mengenai kota inklusif telah lama diperkenalkan, khususnya
inklusif mengenai disabilitas bukanlah menjadi topik baru dalam dunia
pembangunan. Gagasan mengenai Kota Inklusi digagas Kota Surakarta semenjak
bulan September tahun 2013. Kota ini diakui karena sejarah panjang sebagai
rumah bagi penyandang disabilitas dan juga sebagai tempat Pusat Rehabilitas Dr.
Soeharso yang didirikan setelah Revolusi Kemerdekaan tahun 1945-1950 dengan
berbagai pusat rehabilitasi di kota ini memungkinkan budaya yang lebih
inklusif. Tujuan SDGS salah satu yang ingin dicapai untuk menciptakan
inklusivitas, yaitu SDGS ke-11 “Menjadikan kota dan permukiman yang inklusif,
aman, tangguh, dan berkelanjutan”. Perwujudan kota inklusi pada misi 7 dengan
perwujudan sarana prasarana inklusif tersebut, diwujudkan dengan kualitas
sarana prasarana perkotaan. Upaya dalam menciptakan kota yang inklusi Kota
Surakarta dengan menyediakan fasilitas publik memperhatikan kebutuhan kelompok
rentan. Stadion Manahan, Kawasan Ngarsopuro, dan Koridor Jalan Gatot Subroto
merupakan ruang terbuka publik yang banyak. Ruang terbuka publik secara umum seharusnya
dapat menyediakan ruang bagi seluruh kelompok masyarakat untuk dapat
berekspresi maupun berinteraksi secara terbuka di ranah publik, sehingga dapat
membangun hubungan sosial secara inklusif. Salah satu dimensi keberhasilan
ruang ruang terbuka publik yaitu inklusivitas dengan terciptanya keberagaman
aktivitas opsional pada ruang terbuka publik, maka perlu adanya identifikasi
mengenai pola aktiivtas dan tingkat kepuasan kelompok rentan terhadap
inklusivitas ruang publik di Kota Surakarta guna dapat memahami kriteria ruang
yang inklusif bagi kelompok rentan. Penelitian ini merupakan penelitian
campuran (mixed method). Untuk mengidentifikasi pola aktivitas berkegiatan
oleh kelompok rentan peneliti menggunakan pemetaan perilaku dengan pendekatan place
centered mapping sedangkan untuk mengetahui persepsi terhadap inklusivitas
oleh kelompok rentan menggunakan skoring. Teknik analisis yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Untuk mencapai hasil yang konsisten dengan hasil di lokasi, metode campuran
digunakan. Berdasarkan proses telah dilakukan keberagaman aktivitas opsional
yang dilakukan oleh kelompok rentan terbentuk pada Stadion Manahan, hal
tersebut didukung dengan keberadaan akses yang dianggap cukup oleh kelompok
rentan. Sehingga kelompok rentan merasa nyaman melakukan berbagai bentuk
aktivitas yang dapat mereka lakukan dengan masing-masing keterbatasan yang
dimilikinya. Maka untuk dapat menciptakan dampak inklusivitas yang lebih luas
perlu adanya pengembangan ruang terbuka publik di Kota Surakarta perlu adanya
pengembangan ruang terbuka publik sejenis dengan kondisi yang ada di Stadion
Manahan.
The
idea of inclusive cities has long been introduced, and disability inclusion is not
a new topic in the world of development. The idea of an Inclusive City was
initiated by the city of Surakarta in September 2013. The city was recognized
for its long history as a home for people with disabilities and also as the
site of the Dr. Soeharso Rehabilitation Center which was established after the
Independence Revolution in 1945-1950 with various rehabilitation centers in the
city enabling a more inclusive culture. One of the SDGS goals to create
inclusiveness is the 11th SDGS "Make cities and settlements inclusive,
safe, resilient and sustainable". The realization of inclusive cities in
mission 7 with the realization of inclusive infrastructure facilities, is
realized by the quality of urban infrastructure facilities. Efforts in creating
an inclusive city in Surakarta City by providing public facilities pay
attention to the needs of vulnerable groups. Manahan Stadium, Ngarsopuro Area,
and Gatot Subroto Road Corridor are many public open spaces. Public open spaces
in general should be able to provide space for all community groups to be able
to express and interact openly in the public domain, so as to build inclusive
social relationships. One of the dimensions of the success of public open
spaces is inclusiveness by creating a diversity of optional activities in
public open spaces, so it is necessary to identify the activity patterns and
satisfaction levels of vulnerable groups on the inclusiveness of public spaces
in Surakarta City in order to understand the criteria for spaces that are
inclusive for vulnerable groups. This research is a mixed method research. To
identify patterns of activities by vulnerable groups, researchers used
behavioral mapping with a place centered mapping approach, while to determine
perceptions of inclusiveness by vulnerable groups using scoring. The analysis
technique used in this research uses quantitative and qualitative descriptive
analysis. To achieve results consistent with on-site results, mixed methods
were used. Based on the process that has been carried out, the diversity of
optional activities carried out by vulnerable groups is formed at Manahan
Stadium, this is supported by the existence of access which is considered
sufficient by vulnerable groups. So that vulnerable groups feel comfortable
doing various forms of activities that they can do with each of their
limitations. So to be able to create a broader impact of inclusiveness, it is
necessary to develop public open spaces in the city of Surakarta, it is
necessary to develop public open spaces similar to the conditions that exist at
Manahan Stadium.
Kata Kunci : Ruang Terbuka Publik, Inklusivitas, Kerentanan Fisik dan Pemetaan Perilaku.