Laporkan Masalah

Pemanfaatan lahan bekas genangan banjir dan bekas genangan rawa untuk usahatani di desa Gesikan kecamatan Pakel kabupaten Tulungagung tahun 1988

Setyo Winarno, Drs. Su Ritohardoyo, M.A.

1990 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Tulisan ini merupakan hasil penelitian mengenai pemanfaatan lahan bekas genangan banjir (LBGB) dan lahan bekas genangan rawa (LBGR) di Desa Gesikan, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, Propinsi Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan antara usahatani di LBGB dan usahatani di LBGR, terutama untuk mengetahui perbedaan biaya pendapatan usahatani terhadap pendapatan total petani. Metode yang digunakan adalah metode survai, dengan jumlah sampel responden yang diambil sebanyak 80 Kepala Keluarga (KK) secara "Quota Sampling", dimana setiap jenis lahan diambil sebanyak 40 responden. Data primer diperoleh dengan teknik wawancara menggunakan daftar pertanyaan, sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan-catatan pada instansi pemerintah yang ada hubungannya dengan topik penelitian. Dalam menganalisis data digunakan teknik analisis tabel frekuensi maupun tabel silang dan analisis statitik uji beda dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbeda- an antara petani LBGB dan petani LBGR dalam hal luas lahan garapan, jumlah pendapatan, dan besarnya sumbangan pendapatan usahatani terhadap pendapatan total. Perbedaan rata-rata luas lahan garapan antara petani LBGB dengan petani LBGR cukup meyakinkan, dan secara absolut rata-rata luas lahan garapan di LBGB 0,331 ha dengan simpangan baku 0,148 ha, lebih kecil dari pada rata-rata luas lahan garapan di LBGR 0,517 ha dengan simpangan baku 0,291 ha. Pendapatan rata-rata petani dari usahatani di LBGR Rp 85.546,00/bulan berbeda nyata dengan pendapatan rata-rata petani dari usahatani di LBGB Rp 61.500,00/bulan. Perbedaan pendapatan rata-rata usahatani di kedua jenis lahan tersebut tersebut diikuti perbedaan yang nyata pula rata-rata pendapatan total petani di LBGR Rp 105.821,00/ bulan dengan simpangan baku Rp 43,573,00/bulan dengan rata-rata pendapatan total, di LBGR Rp 86.125,00/bulan dengan simpangan baku Rp 34.810,00/bulan. Besarnya sumbangan dari usahatani terhadap pendapatan total, di LBGR 82,3% lebih besar dari pada di LBGB 75,8%, yang berarti ketergantungan kehidupan petani terhadap lahan lebih besar di LBGR dari pada di LBGB. Namun demikian, dalam pengeluaran biaya usahatani di kedua jenis lahan tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan, dimana biaya usahatani di LBGR Rp 493.669,50/ha/th dengan simpangan baku Rp149.9111.80/ha/th dan di LBGB sebesar Rp 465.535,50/ ha/th dengan simpangan baku Rp 145.171,80/ ha/th. Hasil penelitian ini juga menunjukkan variasi pendapatan diantara petani, sangat dipengaruhi oleh curahan waktu keja, luas lahan garapan, dan besarnya nilai sumbangan pendapatan dari usahatani terhadap pendapatan total. Pengaruh tersebut terlihat semakin besar baik baik curahan waktu kerja, luas lahan garapan, maupun sumbangan pendapatan dari usahatani, maka semakin besar pendapatan total petani.

The transformation of soil moisture index needs to be examined for its application in Sub-DAS Kreo Semarang, Central Java. The actual soil moisture spatial data can help in agricultural field to anticipate dry land so that the production agricultural crops can be improved. The purposes of this study were: 1) to identify the relationship between the surface soil moisture and 4 soil moisture index that application in Landsat Thematic Mapper image; 2) to identify the proper mathematical model of the surface soil moisture estimation for the study area; 3) to prepare the surface soil moisture map based on the surface soil moisture estimation model. This study use Landsat Thematic Mapper image June, 25 1996 and fieldwork July, 8,9 2000. The results of correlation statistical analysis showed that the relationship between the surface soil moisture with 4 soil moisture indices were high. The correlation coefficients of the soil moisture indices were IKTwga ((wetness index + greeness index)/ brightness index I. Anglade) = 0.74, IKTwgb ((wetness index + greeness index)/ brightness index Crist-Cicone) = 0.78, IKTwna ((wetness index + NDVIY brightness index LAnglade) 0.71 and IKTwnb ((wetness index + NDVI brightness index Crist-Cicone) = 0.78. The regression analysis results showed that the surface soil index IKTwga was the most appropriate for estimating the surface soil moisture. The surface soil moisture map of the Sub-DAS Kreo was prepared from the application of the soil moisture estimation model Y = 13.325 exp 0434X with -0.54 and Se=0.34.

Kata Kunci : Usahatani,pemanfaatan lahan,Lahan bekas genangan banjir,Pakel,Tulungagung,Jawa Timur

  1. S1-1990-2428-Setyo_Winarno-abstract.pdf  
  2. S1-1990-2428-Setyo_Winarno-bibliography.pdf  
  3. S1-1990-2428-Setyo_Winarno-tableofcontent.pdf  
  4. S1-1990-2428-Setyo_Winarno-title.pdf