Status Kewarganegaraan dan Asimilasi Orang-Orang Keturunan Cina di Pontianak
Firdaus, Prof. Dr. Ichlasul Amal
1997 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalMasalah orang-orang Cina di Indonesia, merupakan masalah integrasi bangsa yang sangat panjang dihadapi oleh Pemerintah Indonesia. Berbagai kebijakan telah diambil pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah Cina tersebut, Diantara kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Indonesia, maka kebijakan kewarganegaraan yang paling banyak diambil pemerintah sejak tahun 1950-an hingga 1990-an. Penelitian ini mencoba mencari hubungan antara status kewarganegaraan dengan asimilasi orang-orang keturunan Cina Di Kotamadya Pontianak. Populasi dalam penelitian ini dibatasi hanya pada orang-orang Keturunan Cina atau orang Cina WNI yang memegang dokumen kewarganegaraan berbentuk SBKRI atau Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia yang dikeluarkan berdasarkan Inpres. No. 2 Tahun 1980. Dalam penelitian yang telah dilakukan, ternyata status kewarganegaraan yang dimiliki oleh orang-orang keturunan Cina, tidak mendorong mereka untuk mengasimilasikan diri kedalma tubuh bangsa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat bahwa mereka masih tetap mempertahankan kebudayaan yang berasal dari tradisi negeri Cina, baik nilai-nilai kepercayaan maupun kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Hal ini menunjukkan akulturasi kebudayaan Indonesia dalam masyarakat Cina sangat kecil. Selain itu, status kewarganegaraan Indonesia yang di miliki orang-orang keturunan Cina, tidak mempengaruhi mereka dalam mengidentifikasikan diri sebagai orang Cina.
The problems of Chinese living in Indonesia, is that of very long national integration faced by Indonesian government. Various policies have been made by Indonesian government to overcome the problem. Among the policies made by the government, nationality policy in the most policy made by the government since 1950s to 1990s. This study tries to investigate the correlation between nationality status and the assimilation of Chinese ancestry in municipality of Pontianak. The population of the study is limited only on Chinese ancestry or Indonesian Chinese (WNI) with nationality document of SBKRI or Approval Letter of Indonesian nationality assigned on the basis of Inpres No. 2 of 1980. In the study that has been conducted, it is proved that the nationality owned by the Chinese ancestry did not encourage them to assimilate that they still preserve their own culture from China, both in their values of believe and their daily habitual life. It shows that cultural acculturation in Chinese society goes just in very small proportion. In addition, Indonesian nationality status owned by the Chinese ancestry did not influence them in identifying themselves as Chinese.
Kata Kunci : kewarganegaraan, asimilasi