Mobilitas angkatan kerja di kalurahan Kampung kecamatan Ngawen kabupaten Gunungkidul
Sugiyarjo, Dr. Ida Bagoes Mantra
1983 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANDengan tingginya laju pertambahan penduduk berarti pula meningkatnya jumlah angkatan kerja. Kenaikan ini tidan sebanding dengan meningkatnya kesempatan kerja yang ada di daerah pedesaan dan akibatnya terjadi kelebihan angkatan kerja. Umumnya di daerah pedesaan di Jawa, disamping terbatasnya tanah pertanian, kesempatan kerja di luar bidang pertanian pun sangat terbatas, dan andaikata terdapat, upah yang didapat dari pekerjaan ini sangat rendah. Akibat dari keadaan ini, banyak dari angkatan kerja mengalihkan kegiatannya di luar bidang pertanian seperti pertukangan, perdagangan, Jasa dan industri. Banyak angkatan kerja mencoba mencari pekerjaan di daerah lain atau di kota-kota besar seperti Yogyakarta, Solo dan Semarang. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dan prilaku mobilitas angkatan kerja, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Mengingat terbatasnya waktu, tenaga dan biaya yang tersedia, maka tidak seluruh populasi diteliti. Oleh karena itu diambillah Kalurahan Kampung, Kecamatan Ngawen, Kaupaten Gunung Kidul (secara purposive) sebagai daerah sampel. Responden dalam penelitian ini adalah kepala keluarga dan anggota keluarga yang sudah berumur 15 tahun ke atas (kecuali yang sedang sekolah). Pemilihan responden dilaksanakan dengan sampel acak sistematis (Systematic Random Sampling), data sekunder dikumpulkan dari kantor kalu dan kantor kecamatan yang bersangkutan. Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan mengenai hal hal yang bersangkutan dengan tujuan penelitian. Dari hasil penelitian diketemukan bahwa 34,8 % angkatan kerja melakukan mobilitas non permanen, dan 65,2 % tidak melakukan mobilitas (bergerak dalam kalurahan sendiri) Bentuk mobilitas angkatan kerja 64 % nglaiu dan 36 % sirkulasi. Alasan mengadakan mobilitas hampir semua bermotif ekonomi. Jarak yang ditempuh penglaju angkatan kerja perempuan kurang dari 10 km, sedang angkatan kerja laki-laki sekitar 15 km, berarti daerah tujuannya masih dalam batas kabupaten. Sedang jarak yang ditempuh angkatan kerja yang melakukan mobilitas sirkuler, 30 km angkatan kerja perempuan dan antara 30 - 60 km angkatan kerja laki-laki. Daerah tujuannya kebanyakan di luar Daerah Istimewa Yogyakarta (Cawas, Klaten, Pedan, dan Solo), karena letak daerah penelitian diantara Yogya dan Solo. Pada umumnya di daerah tujuan bekerja di sektor informal seperti buruh di perusahaan tenun, moto, pande besi, penjual makanan keliling, dan pelayan toko maupun sebagai pembantu rumah tangga. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas angkatan kerja di daerah penelitian antara lain faktor ekonomi yakni masuknya ekonomi uang kedaerah pedesaan, dan tidak adanya kesempatan kerja di luar bidang pertanian di daerah penelitian. Sedang faktor non ekonomi yang berpengaruh antara lain faktor sosial budaya (adat istiadat gotong royong, eratnya hubungan persaudaraan) merupakan kekuatan sentripetal bagi angkatan kerja di daerah penelitian. Faktor umur mempunyai pengaruh negatif terhadap mobilitas angkatan kerja, sedang faktor pendidikan mempunyai pengaruh positif, begitu pula prasarana transport yang semakin baik berpengaruh terhadap frekuensi mobilitas angkatan kerja, Meskipun telah ada upaya dari angkatan kerja untuk meningkatkan taraf hidup mereka dengan mengadakan mobilitas nglaju dan sirkulasi, akan tetapi dalam kenyataannya hasil yang mereka peroleh belum dapat membebaskan mereka dari kemiskinan. Sebagai akibat masih rendahnya tingkat pen didikan mereka, sehingga sebagian besar tertampung dalam pekerjaan sektor informal yang mempunyai pendapatan minim.
-
Kata Kunci : Mobilitas Angkatan kerja,Ngawen,Gunungkidul,DIY