Pengangguran terbuka dan setengah pengangguran di DKI Jakarta : Analisis data kor susenas 1995
Sunaji, Dr. Tajuddin Noer Efendi, M.A.
1997 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANKota-kota besar di negara sedang berkembang akhir-akhir ini menghadapi masalah urbanisasi berlebih. Urbanisasi berlebih muncul akibat industrialisasi di kota yang maju pesat. Fenomena ini ditandai oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi, kesempatan kerja terbatas, peningkatan pengangguran terbuka dan setengah pengangguran. Peningkatan pengangguran terbuka dan setengah pengangguran diperkirakan semakin tinggi, karena arus migrasi desa-kota terus mengalir sementara kesempatan kerja di sektor formal semakin terbatas. Hal yang menarik untuk dikaji adalah peningkatan pengangguran terbuka dan setengah pengangguran terjadi justru di kota besar yang sarat dengan sektor formal. Studi ini bertujuan mengetahui dan menganalisis karakteristik pengangguran terbuka dan setengah pengangguran di DKI Jakarta. Karakteristik pengangguran terbuka dan setengah pengangguran berbeda dengan daerah lain, demikian pula latar belakang dan implikasi yang ditimbulkan. Oleh sebab itu studi ini berguna untuk perencanaan terpadu pembangunan sektor tenaga kerja dan industri. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder. Data mentah SUSENAS 1995 untuk DKI Jakarta diolah dengan SPSS / PC+. Hasil pengolahan tersebut ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabel silang. Tabel-tabel tersebut dianalisis secara deskriptif dan kualitatif. Hasil studi menunjukkan bahwa pengangguran terbuka di DKI Jakarta tahun 1995 mencapai dua angka (11,4 persen). Angka tersebut jauh di atas rata-rata nasional. Hasil studi juga menunjukkan bahwa, karakteristik pengangguran terbuka di DKI Jakarta berbeda dengan kota kota atau daerah lain. Pengangguran terbuka perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Pengangguran terbuka perempuan yang tinggi disinyalir karena pergeseran nilai dalam struktur sosial masyarakat. Pengangguran terbuka usia (10-24) tahun angkanya paling tinggi. Angka seperti ini merupakan ciri umum pengangguran terbuka di beberapa kota negara berkembang. Pengangguran terbuka di Jakarta Pusat paling tinggi (13,5 persen). Determinan utama pengangguran terbuka di DKI Jakarta adalah kesempatan kerja yang terbatas. Kesempatan kerja terbatas ini diduga akibat industrialisasi modern berorientasi padat modal. Setengah pengangguran kentara diukur melalui jumlah jam kerja per minggu. Setengah pengangguran DKI Jakarta dalam studi ini mencapai 13,3 persen, terdiri dari 11,3 persen laki-laki dan 17,5 persen perempuan. Setengah pengangguran tertinggi di Jakarta Selatan dan terendah di Jakarta Pusat. Setengah pengangguran berpendidikan rendah paling tinggi, disusul mereka yang berpendidikan sedang dan berpendidikan tinggi. Setengah pengangguran kelompok umur (10-24) tahun angkanya paling tinggi diantara kelompok umur lainnya.
-
Kata Kunci : Pengangguran terbuka,Pengangguran Setengah terbuka,DKI Jakarta