Peran Organisasi Lajnah Imaillah dalam Pemberdayaan Perempuan Ahmadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta
AULIA FARAH PRADANI, Nurhadi, S.Sos., M.Si. Ph.D
2024 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran organisasi Lajnah Imaillah dalam pemberdayaan perempuan Ahmadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Perempuan Ahmadiyah sebagai bagian dari kelompok minoritas mengalami diskriminasi ganda. Konstitusi Indonesia yang menjamin kebebasan beragama belum terlaksana dengan baik sehingga masih terjadi banyak tindakan intoleransi salah satunya kepada jemaat Ahmadiyah. SETARA Institute mencatat sebanyak 570 dari 2713 kasus pelanggaran kebebasan beragama dialami oleh Ahmadiyah dalam kurun waktu 2007 sampai 2020. Adanya SKB Tiga Menteri dan Fatwa MUI yang mengatakan mereka sesat membuat mereka dipersekusi di beberapa tempat. Perempuan Ahmadiyah di DIY juga tidak terlepas dari tindakan intoleransi di mana mereka masih dilekatkan dengan stigma dan pernah mengalami penyegelan masjid. Dalam kondisi tersebut, para perempuan berupaya memberdayakan diri melalui organisasi khusus perempuan Ahmadiyah bernama Lajnah Imaillah.
Untuk menganalisis temuan dalam penelitian ini, digunakan konsep pemberdayaan perempuan yang dijelaskan oleh (Luttrell & Quiroz, 2009). Konsep ini menjelaskan empat tahapan pemberdayaan meliputi power within, power to, power over, dan power with. Konsep ini dipilih karena mampu digunakan untuk menjelaskan peran Lajnah Imaillah dalam pemberdayaan perempuan Ahmadiyah, tidak hanya upaya memberdayakan individu, tetapi juga mencakup proses mempengaruhi lingkungan di mana mereka berada.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode pendekatan kualitatif studi kasus dengan analisis deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah organisasi Lajnah Imaillah DIY. Penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan informan terdiri dari 11 orang yang terdiri atas 5 pengurus, 4 anggota, dan 2 perwakilan organisasi mitra. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Sedangkan untuk menguji keabsahan data dilakukan triangulasi sumber dan teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lajnah Imaillah memiliki peran dalam pemberdayaan perempuan Ahmadiyah di DIY melalui power within, power to, power over, dan power with. Dalam power within, Lajnah Imaillah berupaya memberikan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan, akses terhadap pendidikan, dan peningkatan kepercayaan diri agar perempuan Ahmadiyah memiliki kesadaran mengenai kondisi mereka. Lajnah Imaillah juga memiliki peran dalam pemberdayaan power to melalui peningkatan keterampilan, peningkatan akses terhadap jaringan sosial, dan peningkatan akses literasi yang memberi kekuatan perempuan Ahmadiyah untuk bisa mengubah kondisi mereka. Sementara itu, dalam pemberdayaan power over, Lajnah Imaillah memiliki peran penting dalam membantu perempuan Ahmadiyah menghadapi hambatan melalui peningkatan partisipasi dalam pengambilan keputusan dan menentang intoleransi. Sedangkan peran Lajnah Imaillah dalam pemberdayaan power with diwujudkan dalam upaya mereka meningkatkan aksi sosial perempuan Ahmadiyah dan membangun aliansi dengan organisasi lain.
This research aims to look at the role of the Lajnah Imaillah organization in empowering Ahmadiyah women in the Special Region of Yogyakarta. Ahmadiyah women as part of a minority group experience double discrimination. The Indonesian Constitution that guarantees freedom of religion has not been implemented properly so that there are still many acts of intolerance, one of which is against the Ahmadiyah congregation. SETARA Institute noted that 570 out of 2713 cases of violations of religious freedom were experienced by Ahmadiyah in the period 2007 to 2020. The existence of the Three Ministerial Decree and MUI Fatwa that said they were heretical made them persecuted in several places. Ahmadiyah women in Yogyakarta are also not free from acts of intolerance where they are still stigmatized and have experienced mosque sealing. Under these conditions, the women try to empower themselves through a special organization for Ahmadiyah women called Lajnah Imaillah.
To analyze the findings in this study, the concept of women's empowerment described by (Luttrell & Quiroz, 2009) is used. This concept explains four stages of empowerment including power within, power to, power over, and power with. This concept was chosen because it is able to be used to explain the role of Lajnah Imaillah in empowering Ahmadiyya women, not only efforts to empower individuals, but also includes the process of influencing the environment in which they are located.
This research was conducted using a qualitative case study approach method with descriptive analysis. The unit of analysis in this research is the Lajnah Imaillah DIY organization. The sample determination was carried out using purposive sampling method and the informants consisted of 11 people consisting of 5 administrators, 4 members, and 2 representatives of partner organizations. Data collection techniques were conducted with in-depth interviews, observation, documentation, and literature study. To test the validity of the data, triangulation of sources and techniques was conducted.
The results showed that Lajnah Imaillah has a role in empowering Ahmadiyah women in Yogyakarta through power within, power to, power over, and power with. In power within, Lajnah Imaillah seeks to provide access to health information and services, access to education, and increased self-confidence so that Ahmadiyah women have awareness about their condition. Lajnah Imaillah also has a role in empowering power to through improving skills, increasing access to social networks, and increasing access to literacy which gives Ahmadiyah women the strength to change their conditions. Meanwhile, in empowering power over, Lajnah Imaillah has an important role in helping Ahmadiyya women face obstacles through increased participation in decision-making and opposing intolerance. Meanwhile, Lajnah Imaillah's role in empowering power with is manifested in their efforts to increase the social action of Ahmadiyya women and build alliances with other organizations.
Kata Kunci : Peran Organisasi, Pemberdayaan Perempuan, Kelompok Minoritas, Perempuan Ahmadiyah,