Laporkan Masalah

Kajian variasi populasi jagung dan penyiangan dalam sistem tumpanggilir dengan kacang tanah

MURRINIE, Endang Dewi, Dr.Ir. Djoko Prayitno, MSc

2004 | Tesis | S2 Agronomi

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan (1) pengaruh penambahan populasi jagung terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah serta berapa populasi jagung yang memberikan nisbah kesetaraan lahan (LER) dan nisbah kesetaraan waktu lahan (ATER) tertinggi dan (2) peran penambahan populasi jagung di dalam menggantikan peran penyiangan terhadap pertumbuhan dan komposisi gulma. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Muktiharjo, Pati mulai bulan April sampai Agustus 2003. Penelitian faktorial 3X3+2 disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan. Sebagai faktor pertama adalah populasi kacang tanah dan jagung (P) yang terdiri atas 3 level berdasarkan metode additive series, yaitu (P1) 100 % kacang tanah + 25% jagung, (P2) 100% kacang tanah + 50% jagung, (P3) 100% kacang tanah + 75% jagung. Sebagai faktor kedua adalah penyiangan terdiri 3 level, yaitu (S0) tanpa penyiangan, (S1) penyiangan 1 kali pada umur 3 minggu setelah tanam kacang tanah, (S2) penyiangan 2 kali pada umur 3 dan 6 minggu setelah tanam kacang tanah. Pengamatan dilakukan terhadap gulma, komponen pertumbuhan dan hasil kacang tanah dan jagung serta efisiensi tumpanggilir. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis ragam (Analysis of Variance) dan selanjutnya diuji dengan Uji Jarak Ganda Duncan pada taraf 5%. Untuk mengetahui pengaruh tumpanggilir dilakukan pengujian secara berkelompok dengan metode kontras ortogonal. Kemudian untuk menduga populasi jagung yang memberikan hasil kacang tanah optimal dilakukan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) penambahan populasi jagung 25, 50 dan 75% dari populasi monokultur tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah; (2) penambahan populasi jagung mempengaruhi komposisi gulma umur 3, 6 dan 9 minggu setelah tanam kacang tanah; (3) penambahan populasi jagung 50% dapat menekan gulma rumputan secara nyata dibandingkan populasi 25 dan 75% pada umur 9 minggu setelah tanam kacang tanah; (4) tanpa penyiangan pada tumpanggilir kacang tanah dan jagung menyebabkan penurunan hasil kacang tanah sebagai tanaman utama; (5) penyiangan satu dan dua kali memberikan hasil kacang tanah yang tidak berbeda nyata dan (6) penambahan populasi jagung 75% dengan penyiangan 2 kali memberikan nilai LER dan ATER tertinggi, masing-masing 1,68 dan 1,64.

An experiment was conducted at Muktiharjo Research Station in Pati, Central Java from April up to August, 2003. The objective of the study was to determine (1) the effect of corn population on the growth, yield of groundnut, Land Equivalent Ratio (LER) and Area Time Equivalence Ratio (ATER); (2) the role of corn population in replacing the hand weeding treatment affect on weed growth and composition. The 3x3+2 factorial field experiment was arranged as a Randomized Completed Block Design with three replications. The first factor varies corn population insert standart population of groundnut (P) consisting of three levels based on additive series method: (P1) 100% groundnut + 25% corn, (P2) 100% groundnut + 50% corn, (P3) 100% groundnut + 75% corn. Weeding as second factor (S) consisted of three levels: (S0) no weeding, (S1) one time weeding at 3 weeks after groundnut planting, (S2) two times weeding at 3 and 6 weeks after groundnut planting. The observations included weed, groundnut and corn growth and yield, efficiency of relay cropping. Analysis of variance (ANOVA) were used for all data observed and followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at 5%. An orthogonal contrast test was conducted to find out the effect of relay cropping. A regression analysis was conducted to estimate corn population which gave the optimum groundnut yield. Results of the study showed the following conclusions. First, inserting corn at 25, 50 and 75% of standart population had no effect on the growth and yield groundnut. Second, inserting corn had effect on weed composition at 3, 6 and 9 weeks after groundnut planting. Third, inserting 50% corn could pressure grasses weed more significantly than of 25 and 75% at 9 weeks after groundnut planting. Fourth, no weeding treatment on groundnut and corn relay cropping significantly decreased groundnut yield. Fifth, one time weeding and two times weeding treatments had no significant different on groundnut yield. Finally, relay cropping groundnut with corn at the population of 75% with two times weeding gave the highest LER (1,68) and ATER (1,64)

Kata Kunci : Tanaman Jagung,Tumpanggilir,Penyiangan dan Variasi Populasi, groundnut, corn population, weeding, relay cropping


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.