Sinergitas Aktor dalam Komunikasi Pembangunan (Studi Sinergitas Aktor Pembina dalam Penguatan Fortifikasi Pangan pada Industri Kecil Menengah (IKM) Garam Konsumsi di Kabupaten Pati
Rina Nuryanti, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M.Si.; Dr. Ir. Roso Witjaksono, MS.
2024 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Pemerintah mewajibkan fortifikasi yodium pada garam konsumsi sebagai upaya intervensi zat gizi untuk ketahanan dan gizi pangan. Kekurangan yodium dapat mengakibatkan gangguan perkembangan mental dan kecerdasan yang akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Program fortifikasi dilakukan secara terkoordinir dan terintegrasi dengan melibatkan lintas sektor baik pemerintah maupun swasta. Kabupaten Pati memiliki 92 Industri Kecil Menengah (IKM) garam konsumsi dan merupakan yang terbanyak di Jawa Tengah sehingga secara tidak langsung dapat berkontribusi dalam penguatan fortifikasi pangan. Hasil pengujian oleh instansi berwenang menyatakan bahwa 40,70% garam konsumsi beryodium yang dihasilkan IKM di Pati belum memenuhi standar. Pemenuhan standar produksi oleh IKM harus didukung oleh sinergi yang baik antara instansi pembina dengan pelaku usaha, serta antar instansi pembina sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi profil dan peran aktor pembina dalam pembinaan IKM garam konsumsi; dan (2) menganalisis kolaborasi dan sinergitas antar aktor pembina serta permasalahannya dalam upaya pembinaan IKM garam konsumsi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, studi dokumen, serta FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan IKM garam konsumsi dilakukan oleh lembaga di tingkat Kabupaten Pati yaitu Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Bappeda, pada tingkat Provinsi Jawa Tengah melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta BBPOM di Semarang, sedangkan lembaga nonpemerintah yang terkait adalah LSM Nutrition International dan APROGAKOB. Sinergitas aktor dalam pembinaan dan pengawasan IKM garam konsumsi telah dilaksanakan melalui kolaborasi yang telah dikuatkan melalui Keputusan Bupati dan Gubernur. Kolaborasi yang terjalin menekankan integrasi pada fungsi karena kewajiban fortifikasi merupakan mandatori pemerintah yang harus dipatuhi oleh IKM garam konsumsi, sehingga terdapat dimensi vertikal dan horisontal dalam hubungan kemitraannya. Sinergitas yang terjalin membutuhkan penguatan dimensi kelembagaan dan sumber daya. Pemangku kepentingan yang terkait, belum dapat berpartisipasi secara maksimal dalam kolaborasi tersebut, tetapi kontinuitas kolaborasi tetap berjalan mengingat garam merupakan aset yang potensial bagi Kabupaten Pati.
The government requires iodine fortification in salt consumption as a nutritional intervention for food security and nutrition. Iodine deficiency can result in impaired mental and intelligence development, affecting the quality of human resources. The fortification program is carried out in a coordinated and integrated manner involving cross-sectors, both government and private. Pati Regency has 92 small and medium enterprises (SMEs) that produce salt consumption, and they are the largest in Central Java, so they can indirectly contribute to strengthening food fortification. Test results by authorised agencies stated that 40,70% of iodised salt produced by SMEs in Pati was unstandardised. SMEs' fulfilment of production standards must be supported by good synergism between the development agency and business actors and between the development agencies themselves. This research aims to (1) identify the profile and role of development actors in developing salt SMEs and (2) analyse the collaboration and synergism between development actors and the problems in efforts to develop salt SMEs. This research uses qualitative methods by collecting data through observations, in-depth interviews, document studies, and FGDs. The research results show that the Pati Regency-level institutions, such as the Regional Development Planning Agency and the Department of Trade and Industry, provide guidance The Central Java Provincial Level involves the Department of Industry and Trade and the National Agency for Food and Drug Control (NAFDC) in Central Java. In addition, the NGO Nutrition International and the Iodized Salt Consumption Business Association (APROGAKOB) are relevant non-governmental institutions. The synergism of actors in developing and supervising salt consumption SMEs has been implemented through collaboration and strengthened through the Decree of the Regent and Governor. The existing collaboration emphasises the integration of functions because fortification obligations are a government mandate that salt SMEs must comply with, so the partnership relationship has vertical and horizontal dimensions. The synergism that exists requires strengthening institutional dimensions and resources. Not all members have been able to participate optimally in this collaboration, but the collaboration must continue, considering that salt is a potential asset for Pati Regency.
Kata Kunci : Fortifikasi, IKM Garam Konsumsi, Kabupaten Pati, Sinergitas Aktor, Actor Synergism, Fortification, Pati Regency, Salt Consumption SMEs