Respon Citizenship Masyarakat Manggarai di Antara Kebijakan Negara dan Tradisi (Analisis Tradisi Cear Cumpe dan Pembabtisan Menurut Tradisi Orang Manggarai Dalam Kaitannya Dengan Kebijakan Administrasi Pencatatan Kelahiran di Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT)
Robertus Heron Banilo, Dr. Subando Agus Margono, M.Si
2023 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Tulisan ini menyoroti praktik kewargaan masyarakat Manggarai dalam tradisi cear
cumpe dan pembaptisan. Praktik sosial-kultural tersebut membawa diskusi tentang
kewargaan bergerak dari pandangan legalistik yang berfokus pada hak dan tanggung
jawab menuju serangkaian proses sosial di mana individu dan kelompok sosial
bernegosiasi, mengklaim dan mempraktekkan tidak hanya hak, tanggung jawab dan
kewajiban tetapi juga rasa memiliki sebagai sebuah jalan yang memungkinkan
partisipasi dalam komunitas sebagai cara mendefinisikan konsep kewargaan. Elaborasi
praktik tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat Manggarai
di antara kebijakan legal-formal dan tradisi. Untuk mencpai maksud tersebut, maka
tulisan ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan fenomenologis.
Metode ini menyoroti bagaimana respon masyarakat Manggarai dalam mendefinisikan
kewargaannya terutama melalui kebijakan administrasi kependudukan dan tradisi cear
cumpe serta pembaptisan. Dalam konteks sosial masyarakat Manggarai, konsep
kewargaan yang terbentuk melalui tradisi adalah fenomena sosial yang membentuk
serta mendefinisikan konsep kewargaan orang Manggarai di samping konsep
kewargaan legal-formal dalam bingkai negara-bangsa. Ruang hidup, ikatan
kekerabatan serta ikatan sejarah dalam bingkai kolonialisme membentuk konsep
mereka tentang kewargaan. Fenomena tersebut juga mempengaruhi realitas keseharian
mereka ketika berhadapan dengan negara dalam kebijakan administrasi pencatatan dan
kelahiran. Ketiganya berada dalam ruang sosial yang sama dan membentuk cara orang
Manggarai mendefinisikan dan mempraktikan konsep kewargaan. Karena itu
memahami konsep masyarakat mengenai isu kewargaan membuka jalan bagi cara-cara
baru dalam melihat realitas di tengah masyarakat.
This paper presents the sociocultural phenomenon on the integration of the traditional
ceremony of Cear Cumpe, the legal-formal policies of citizenship, and the Catholic baptism tradition in constructing the citizenship among the Manggarain community in
Manggarai, East Nusa Tenggara, Indonesia. It examines the community’s responses
toward the values of legal-formal policies and traditions in constructing their
citizenship identities. This qualitative study applied the phenomenological approach,
in which the data were primarily obtained through in-depth interviews involving
several community elements as participants. In this study, the participants examined
their views on how the community constructed their citizenship, primarily through the
lens of the legal administration policies, the traditional ceremony of Cear Cumpe, and
the Catholic baptism tradition. The findings confirmed that in the Manggaraian
context, citizenship identity was formed through these three coexisting realities.
However, among these realities, the tradition was identified to have a more substantial
contribution in shaping and defining their concept of citizenship in addition to the
legal-formal concept of citizenship within the frame of the nation-state. Moreover, the
living space, kinship ties, and historical ties within the framework of colonialism
represented through the Catholic baptism tradition were also indicated to contribute
the construction of their citizenship concept. It also revealed that in this sociocultural
practice, the legal form values of their citizenship primarily focused on defining their
rights and responsibilities towards a series of legal processes managed by the
governance. Meanwhile, the social process, their sociocultural identity as a
Manggaraian, in which individuals and social groups negotiate, claim, and practice not
only rights, responsibilities, and obligations, are defined as their prominent citizenship
identity. More importantly, their sociocultural identity is defined as their prominent
identity that constructed their sense of belonging as Manggaraian that significantly
affecting their daily realities, including dealing with the state in registration and birth
administration policies. Therefore, governments and other relevant stakeholders are
expected to recognize and consider these sociocultural realities in determining the
citizenship policies in this kind of traditional community.
Kata Kunci : Kewargaan, Cear Cumpe, Pembaptisan, Administrasi Kependudukan/ Citizenship, Cear Cumpe, Baptism, Administration of Citizenship