Pengaruh jam kerja terhadap Stressors, Burnout dan Behavioral Job Outcome
YUSTRIANTHE, Rahmawati Hanny, Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA
2004 | Tesis | S2 AkuntansiPenelitian ini bersumber pada adanya struktur tenaga kerja Indonesia yang cenderung mengalami perubahan, dimana semakin banyak perempuan atau istri yang turut bekerja. Perubahan tersebut menyebabkan semakin banyak muncul two-income couples. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya konflik antara kerja dan keluarga yang pada akhirnya dapat menyebabkan timbulny stres kerja. Kondisi tersebut memicu munculnya kebutuhan terhadap suatu bentuk kerja yang fleksibel yang memungkinkan mereka dapat mengelola kerja dan keluarga dengan lebih baik seperti jam kerja fleksibel (flex time). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh jam kerja terhadap stressors, burnout, dan behavioral job outcomes. Responden penelitian ini adalah para pendidik akuntansi yang ada di Yogyakarta. Sejumlah 128 responden dapat berpartisipasi dalam penelitian 1m. Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan MANCOVA dan Hotelliug T-Test dari program SPSS 11.5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidik akuntansi yang bekerja pada jam kerja fleksibel akan memiliki role overload yang lebih rendah daripada yang bekerja pada jam kerja standar, kecuali role conflict dan role ambiguity. Konflik peran dan ambiguitas peran para pendidik akuntansi tidak menunjukkan adanya perbedaan antara mereka yang bekerja pada jam kerja fleksibel maupun jam kerja standar. Emotional exhaustion dan depersonalisasi pada para pendidik akuntansi lebih rendah pada jam kerja fleksibel daripada jam kerja standar, kecuali reduced personal accomplisllmeut.Re(lueed personal aeeomplislzment menunjukkan tidak adanya beda antara pendidik akuntansi yang bekerja pada jam kerja standar maupun jam kerja fleksibel. Kepuasan kerja pendidik akuntansi yang bekerja pada jam kerja fleksibel lebih tinggi daripada jam kerja standar. Sedangkan kinerja dan keinginan untuk tetap tinggal dalam jangka panjang menunjukkan tidak ada beda antara pendidik akuntansi yang bekerja pada jam kerja standar maupun jam kerja fleksibel.
This research begins with the assumption that there is some kinds of changes in Indonesia’s workers structure especially the increasing numbers of women who go to the public sector. The increasing numbers of two-income couples are assumed to be the main cause of the changes. This can cause conflict between work and family, which in the end leads to work stress. This condition brings the idea to create flexible work arrangement, in which workers can arrange their own time to manage between their work and their family. In arranging their worktime, workers can apply flex time, as one element of Flexible Work Arrangement. The objective of this research is to test the effect of work time to stressors, burnout, and behavioral job outcomes. This Research uses 128 accountant lecturers in Yogyakarta as responden. Analysis is conducted by Mancova and Hotelling T-Test within SPSS 11.5. The Result of this research shows that those accounting lecturers who work in flex time tend to have lower role overload than those who work in standard time. There is no significant differences in role conflict and role ambiguity. Those accounting lectures who work in flex time tend to have lower emotional exhaustion and depersonalization than those who work in standard time. There is no significant difference in reduced personal accomplishment. There is higher job satisfaction in those who work in flex time. No significant differences in found in performance and intention to remains with the firms for both time arrangement.
Kata Kunci : Manajemen Personalia,Jam Kerja,Stressors dan Behavioral Job Outcome, Stressors, burnout, behavioral job outcomes, worktime (flex time and standard time)