Mobilitas sirkuler angkatan kerja di kalurahan Pandowoharjo kecamatan Sleman, kabupaten Sleman
Sunarti, Drs. Ida Bagoes Mantra, Ph.D.
1983 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANDengan tingginya laju pertumbuhan penduduk berarti pula meningkatnya jumlah angkatan kerja. Kenaikan ini tidak sebanding dengan meningkatnya pasaran kerja yang ada di daerah pedesaan, dan akibatnya terjadilah kelebih an angkatan kerja. Di daerah pedesaan dl Jawa, disamping terbatasnya tanah pertanian, pasaran kerja di luar bidang pertanian-pun sangat terbatas, dan andaikata terdapat, apah yang didapat dari pekerjaan ini sangat rendah pula. Akibat da ri keadaan ini, banyak dari pendudak mengalihkan kegiat-annya di luar sektor pertanian seperti misalnya pertu-kangan, perdagangan, jasa, dan industri. Banyak penduduk mencoba mencari pekerjaan di daerah lain atau di kota-kota besar zeperti kota Yogyakarta. DisampiIng itu akibat dari masuknya ekonomi uang ke daerab pedeaaan, maka tin-dakan para petani mulai didasarkan atas prinsip-prinsip ekonoml, misalnya sistem derep diganti tebasan. Berdasar-kan permasalanan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mobilitas angkatan kerja dari desa ke daerah lain ( terutama ke kota Yogyakarta ). Mengingat terbatasnya waktu, tenaga dan biaya yang tersedia, maka, tidak selurah populasi diteliti. Oleh ka-rena itu, diambillah Kalurahan Pandowoharjo, Kecarliatan Sleman, Kabupaten Sleman ( secara purposive ) sebagai dae rah sampel. Responden dalam penelitian ini adalah kepala keluarga dan juga angkatan kerja yang ada dalaz keluarga terpilih yang bertempat tinggal di Kalurahan Pandowoharjo. Pemilihan responden kepala keluarga dilaksanakan dengan sampel acak sistematis (Systematic aandom Sampling). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 52 angkatan kerja melakukan mobilltas harian (nglau), 1,6 % melakukan mobilltas sirkulasi, dan 4519 % tidak melakukan mobilitas (bergerak dalam kalurahan sendiri). 3anyaknya angkatan kerja yang nglaju bekerja di daerah lain umumnya disebabkan karena alasan ekonomi, Hal ini sebagai akibat dari sempitnya rata-rata pemilikan tanah tiap keluarga. Di daerah penelitlan sebesar 46 % kepala keluarga memilik tanah sawah kurang dari 092 ha, 2593% tidak memiliki tanah sawah, 26 % memiliki tanah sawah 012 ha salpai kurang dari, 097 ha, dan hanya 297 % memiliki tanah sawah seluas lebih dari 097 ha. Sempitnya tanah yang mereka millki mengakibatkan intensitas penggunaan tanah serta produktivitas per satuan luas juga rendah. Bagi mereka yang hanya tergantung pada tanah pertanian maka produksi pertantan tidak cukup untuk makan anggota keluarganya. Untuk mengatasi kekurangan ini banyak dari mereka mempunyai mata pencaharian ganda, misalnya sebagai tukang kayu, tukang batu, pegawai pabrik. Lebih dari 57 % angkatan kerja mempunyai pekerjaan tambahan disamping pekerjaan pokok misalnya sebagai tukang, buruh tani, buruh srabutan, tukang dan pedagang.
-
Kata Kunci : Angkatan kerja,Mobilitas Sirkuler,Pertumbuhan Penduduk,Sleman,DIY,Usia kerja,pasaran kerja