Laporkan Masalah

Rumah tinggal Suku Sasak Desa Rembitan Nusa Tenggara Barat :: Kajian hubungan stratifikasi sosial dengan nilai-nilai rumah tinggal

ZULAICHA, Granita Ika, Dr.Ir. Arya Ronald

2004 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Kemeny (1992) menyatakan bahwa stratifikasi sosial merupakan faktor primer dalam terbentuknya rumah tinggal. Merujuk pada teori tersebut penelitian ini kemudian bertujuan untuk melihat representasinya pada rumah tinggal masyarakat suku Sasak desa Rembitan NTB. Penelitian diperdalam dengan melihat hubungan yang terjadi antara sistem stratifikasi sosial dengan sistem dan nilai-nilai yang melekat pada rumah tinggal serta berusaha untuk melihat faktor penting dalam kontinuitas sistem rumah tinggal yang disebabkan oleh perbedaan stratifikasi. Penelitian dilaksanakan di lingkup desa Rembitan dengan menggunakan 38 sampel yang dipilih secara purposif berdasarkan lokasi, sistem rumah tinggal dan stratifikasi sosial pemiliknya. Sampel diperoleh dari 10 kampung yang tersebar di 6 dusun. Analisis dilakukan dengan bantuan gambar, tabel dan matriks yang menjabarkan sistem rumah tinggal dan menghubungkannya dengan faktor stratifikasi sosial pemiliknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tinggal masyarakat Sasak desa Rembitan mencerminkan posisi pemiliknya pada tingkatan stratifikasi sosial masyarakat. Rumah tinggal Sasak Rembitan dapat dibedakan menjadi dua macam kelompok berdasarkan stratifikasi sosial. Kelompok pertama adalah rumah tinggal berdasarkan stratifikasi adat. Kelompok ini bersifat tetap karena stratifikasi yang diperoleh berasal dari keturunan yang tidak dapat berubah. Tipe ini membedakan rumah adat (bale tani adat) dan rumah tinggal biasa (bale biasa). Kelompok kedua adalah rumah tinggal berdasarkan stratifikasi sosial ekonomi. Ada lima tipe rumah tinggal pada kelompok ini (bale batu, bale tani, bale kodong, bale gudang, bale bontar). Masing-masing tipe berbeda dalam bentuk dan material bangunan serta dapat berubah-ubah sesuai dengan tingkat kemampuan ekonomi penduduk. Meskipun terdapat perbedaan tipe rumah tinggal berdasarkan stratifikasi sosial namun masing-masing tipe mengalami kontinuitas. Persamaan ada di dalam denah dan penggunaan rumah tinggal serta eksistensi komponen pelengkap. Kontinuitas diakibatkan oleh adaptasi kondisi tanah dan iklim kering, kondisi sosial dan ekonomi terutama sistem kepercayaan dan adat.

According to Kemeny (1992), social stratification is a primary factor on behalf of housing architectural forms. The objective of this study is to reveal the idea of the theory especially at Sasak tribes on Rembitan village, West of Nusa Tenggara. Moreover, this study attempted to dig up the relationship between social stratification system and housing value; also to reveal important factors of the housing system continuity, which is caused by the stratification difference. This study was conducted in Rembitan village area. There are 38 purposive samples of housing, varying from their locations, housing systems, and occupant’s social stratification. Samples were taken from 10 kampongs of 6 dusun section. Afterwards, to find the relationship between housing and social stratification, all the observed data collected and delved into sketches, tables, and matrixes. Phenomenon explanations achieved through qualitative analysis approach by digging up the value and meaning from the relationship of social stratification and housing of Sasak tribes in Rembitan village. The research findings showed that the housing form and system reflected the social level of its occupants. The house of Sasak Rembitan tribes can be separated into two house groups based on social stratification. The first group is related to houses with unchanging custom stratification level. This group consists of custom house type (bale tani adat) and ordinary house type (bale biasa). The second group is based on social-economical stratification level. Houses on this stratification can be separated into five types (bale batu, bale bontar, bale tani, bale kodong, and bale gudang). Each type has its own form and building materials and can be changed depending on economic effort of the occupants. Along with variations of house type’s phenomenon, there are also some continuity issues to address on. These issues can be found in the foundation structure, house plan, several spatial function, and complementary component existence. These continuity issues occur from the adaptation system of dry soil and warm climate condition, economic and social condition, especially from belief and custom system

Kata Kunci : Rumah Tinggal Suku Sasak,Stratifikasi dan Nilai Rumah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.