DINAMIKA KONFLIK DI KAWASAN LINDUNG Studi tentang Konflik Penguasaan Lahan Tambak Udang di Sekitar Bandara YIA Kulon Progo Tahun 2011-2021
Falka Patria Senoaji, Dr. Suharman M.si
2023 | Skripsi | Sosiologi
Pembangunan bandar udara baru di
Temon, Kulon Progo, DIY sebagai upaya
peningkatan pelayanan transportasi dan konektivitas yang diharapkan mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah mendorong terciptanya konflik
penguasaan lahan antara petani tambak yang telah menjadikan budidaya udang
sebagai mata pencahariannya dengan PT. Angkasa Pura I dan pemerintah selaku
pihak yang berkuasa yang ingin mengubah lahan pantai di selatan bandara
tersebut menjadi kawasan lindung berupa greenbelt sebagai upaya mitigasi bencana tsunami. Penelitian ini mengkaji
apa isu utama, siapa pihak yang terlibat, bagaimana dinamika konflik dan
resolusi terjadi pada konflik penguasaan lahan di kawasan bandar udara YIA.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara kepada petani
tambak dan pendamping serta mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber
media cetak dan online serta merujuk model pemetaan konflik milik Wehr (1979). Konflik
telah mengalami perjalanan yang panjang sejak awal perencanaan hingga bandara
digunakan dan kini petani tambak harus mengalah tanpa arahan yang jelas dari
pihak yang berwenang. Sumber konflik diawali pada permasalahan kepemilikan
dimana lahan ini adalah milik Pakualaman
Ground (PAG), masyarakat dianggap melanggar RTRW Kulon Progo dimana lahan
adalah sempadan pantai yang seharusnya kosong, penetapan KKOP dimana kawasan
lahan tambak harusnya digunakan untuk mitigasi bencana bandara. Konflik ini
cukup kompleks karena melibatkan banyak pihak baik pihak yang terlibat secara
langsung yaitu petani tambak udang dengan DKP, BPDASHL-SOP dan pihak lain yang
terlibat dalam konflik. Dinamika ini disajikan dalam model yang berdasar
periodisasi waktu yakni pra pembangunan bandara, percepatan pembangunan
bandara, dan pasca konflik.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelesaikan konflik baik secara litigasi
maupun penyelesaian sengketa alternatif, namun pada akhirnya tidak ada
kejelasan bagi masa depan petani dan berakhir petani tambak udang mengalah dan
pergi dari lahan yang telah digunakannya selama ini.
The construction of a new airport in Temon,
Kulon Progo, DIY, as an effort to improve transportation services and
connectivity, expected to enhance the well-being of the community, has led to a
land ownership conflict between shrimp farmers, who have made shrimp
cultivation their livelihood, with PT. Angkasa Pura I and the government as the
authorities who aim to transform the coastal land south of the airport into a
conservation area known as a greenbelt
to mitigate tsunami disasters. This research examines the main issues, the
parties involved, the dynamics of the conflict, and the resolution that
occurred in the land ownership conflict in the YIA airport area. The study
employs a qualitative research method with a case study approach. Data
collection involves interviews with shrimp farmers and facilitators, secondary
data collection from various print and online media sources, and reference to
Wehr's conflict mapping model (1979). The conflict has undergone a lengthy
journey from the early planning stages to the airport's usage, and now shrimp
farmers must yield without clear guidance from the authorities. The conflict's
source stems from ownership issues where the land belongs to Pakualaman Ground
(PAG). The community is considered to violate the Kulon Progo RTRW where the
land is supposed to be a coastal buffer, the determination of KKOP where shrimp
pond land should be used for airport disaster mitigation. This conflict is
quite complex, involving many parties, including shrimp farmers, the Department
of Marine Affairs and Fisheries (DKP), BPDASHL-SOP, and others. The dynamics
are presented in a model based on the chronological periods of pre-airport
construction, airport construction acceleration, and post conflict. Various
efforts have been made to resolve the conflict through litigation and
alternative dispute resolution, but ultimately, there is no clarity for the
future of the farmers, and the shrimp farmers concede, leaving the land they
have used for so long
Kata Kunci : Konflik penguasaan lahan, Bandara YIA, dinamika konflik, Pakualaman ground (PAG)