Korupsi Politik dan Gagalnya Pembangunan di Guinea Khatulistiwa
Justinus Devian Maheswara, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, S.I.P., M.A.(IR)
2023 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Skripsi ini mengkaji hubungan antara korupsi politik dan pembangunan di Guinea
Khatulistiwa, khususnya setelah sumber daya minyak ditemukan pada tahun 1995 dan menjadi
sumber pendapatan nasional utama pada masa pemerintahan Teodoro Obiang Nguema. Terima
kasih untuk cadangan dan produksi minyaknya yang besar, Guinea Khatulistiwa telah menjadi
salah satu negara terkaya di Afrika Sub-Sahara. Meskipun demikian, lebih dari 70%
penduduknya hidup dalam kemiskinan yang disertai dengan kurangnya akses maupun kualitas
terhadap kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Hal ini menumbuhkan dugaan
terdapatnya peran korupsi politik terhadap kondisi tersebut. Dengan menggunakan kerangka
konseptual korupsi politik dari Inge Amundsen dan model pembangunan Denis Goulet, skripsi
ini tidak hanya mengeksplorasi jenis dan motivasi korupsi politik, melainkan juga menggali
lebih dalam mengenai bagaimana korupsi politik melemahkan institusi, mengikis kepercayaan
publik, dan mendistorsi pengalokasian sumber daya di Guinea Khatulistiwa.
This study examines the relations between political corruption and development in Equatorial
Guinea, especially after oil resources were discovered in 1995 and became the main source of
national income during the reign of Teodoro Obiang Nguema. Thanks to its large oil reserves
and production, Equatorial Guinea has become one of the richest countries in Sub-Saharan
Africa. Despite that, more than 70% of the population lives in poverty, accompanied by minimal
access and quality to basic needs such as health and education. It gives rise to arguments that
political corruption plays a role in this condition. Using Inge Amundsen’s conceptual
framework of political corruption and Denis Goulet’s development model, this study not only
explores the types and motivations of political corruption, but also digs deeper into how
political corruption weakens institutions, erodes public trust, and distorts resource allocation
in Equatorial Guinea.
Kata Kunci : Guinea Khatulistiwa, korupsi politik, pembangunan, kesenjangan, hak asasi manusia