Laporkan Masalah

Dinamika Politik Rekayasa Genetika Pangan di ASEAN: Analisis Modernisasi Ekologis

FRANSISCA FLEICIA PASCHALINE, Dr. Maharani Hapsari, S.IP., M.A.

2023 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

ASEAN merupakan salah satu kawasan regional yang paling terdampak dari perubahan iklim. Sebagai kawasan yang bergantung pada sektor agrikultur untuk perekonomiannya, intensifikasi dampak perubahan iklim mempengaruhi agenda regional ASEAN untuk mencapai ketahanan pangan (Astriana et al., 2017). Rekayasa genetika pangan atau yang dikenal dengan pangan GMO (genetically modified organism) menjadi salah satu inovasi teknologi yang hadir untuk mengatasi masalah perubahan iklim dan ketahanan pangan. Namun, dinamika politik yang meliputi kuasa dan kapasitas pemerintah, peranan perusahaan bioteknologi transnasional, dan gerakan masyarakat sipil, turut mempengaruhi lambatnya perkembangan pangan GMO di ASEAN Member States (AMS). Pengaruh dinamika politik internasional, terutama dari Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam pengembangan pangan GMO, juga mempengaruhi variasi respons dari AMS terhadap perkembangan pangan GMO untuk ketahanan pangan regional. 

Tulisan ini akan menggunakan teori modernisasi ekologis sebagai pisau analisis yang mampu menilai komitmen ASEAN sebagai institusi modern untuk mencapai agenda ketahanan pangan regional. Penulis berargumen bahwa dinamika politik pangan GMO untuk ketahanan pangan di AMS merupakan sebuah program politik yang mencerminkan karakteristik ‘Weak Ecological Modernization.’ Modernisasi ekologis yang lemah di masing-masing AMS kemudian mencerminkan adanya fenomena 'ASEAN Compartmentalized Regionalism,' yaitu hadirnya ketimpangan kuasa antara pemerintah, aktor ekonomi, dan masyarakat sipil dalam perkembangan pangan GMO di masing-masing AMS yang mempengaruhi ASEAN secara regional.

ASEAN is one of the regional areas most affected by climate change. As a region that depends on the agricultural sector, the intensification of the impacts of climate change affects ASEAN's regional agenda to achieve food security. Genetic engineering of food, or what is known as GMO (genetically modified organism) food, is one of the technological innovations that is present to overcome the problems of climate change and food security. However, political dynamics, including government power and capacity, the role of transnational biotechnology companies, and civil society movements, also influence the slow adoption of GMO food in ASEAN Member States (AMS). The influence of international political dynamics, especially from the United States and the European Union in the development of GMO food, also sways variations in the response of the AMS to the development of GMOs for food security.  

This article will utilize ecological modernization theory as an analytical tool capable of assessing ASEAN's commitment as a modern institution to achieving the regional food security agenda. The author argues that the political dynamics of GMOs for food security is a political program that reflects the characteristics of ‘Weak Ecological Modernization.’ This weak ecological modernization in the majority of AMS is depicted by the presence of the 'ASEAN Compartmentalized Regionalism' phenomenon, where there is a power imbalance between the government, economic actors, and civil society in the implementation of GMO food that affect ASEAN as a regional organization.

Kata Kunci : ASEAN, rekayasa genetika pangan, regionalisme, modernisasi ekologis, perubahan iklim, ketahanan pangan, dinamika politik.

  1. S1-2023-462791-abstract.pdf  
  2. S1-2023-462791-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-462791-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-462791-title.pdf