Perubahan posisi Cendekiawan Muslim dalam format politik Orde Baru :: Studi interpretatif dan replektif terhadap Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)
HALIM, Zulkifli, Prof.Dr. Amien Rais
2003 | Tesis | S2 Ilmu PolitikKajian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) mengapa cendekiawan muslim exclusion bersedia menjadi bagian dari inner circle dalam rezim Suharto; 2) mengapa rezim Suharto mau menerima kehadiran cendekiawan muslim exclusion untuk berkoalisi dengan cendekiawan muslim yang inclusion; 3) mengapa kepemimpinan ICMI dipegang oleh cendekiawan muslim new comers. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada kajian ini adalah: (1) Studi pustaka; (2) Pengumpulan data sekunder dari berbagai dokumentasi; dan (3) Pengumpulan data primer berupa wawancara dengan beberapa narasumber dan pelaku dari objek kajian ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa format politik Orde Lama yang &bangun oleh koalisi antara ABRI khususnya Angkatan Darat dengan Presiden Sukarno yang menempatkan PKI dalam posisi khusus, telah melakukan penyelewengan terhadap UUD 1945, Akibatnya sering terjadi konflik. Kekuatan politik lainnya dalam poros Nasakom relatif berada dalam posisi peripheral, setelah Masyumi dan PSI disingkirkan dari pentas politik nasional. Format politik Orde Lama tidak bisa bertahan lagi setelah terjadi Gerakan 30 September 1965 disusul dengan jatuhnya Sukarno. Dengan demikian, ABRI yang pada awal kemerdekaan masih mengakui supremasi politisi sipil secara pasti menggeser kekuatan sipil dalam pemerintahan. Terbentuklah format politik Orde Baru dengan mencanangkan koreksi total atas penyelewengan Orde Lama dengan tekad melaksanakan UUD 1945 dengan murni dan konsekuen. Dalam perkembangan selanjutnya kepemimpinan Orde Baru mengikuti piramida kekuasaan yang ditopang oleh perwira tinggi, birokrasi, teknokrasi, di mana lembaga kepresidenan menjadi puncaknya. Seiring berjalannya format politik Orde Baru, pada dekade 70-an dan 80-an, sekelompok cendekiawan muslim mencoba membuat suatu wadah untuk persatuan ummat, akan tetapi usaha tersebut gagal, karena mereka masih berpikir untuk membentuk suatu wadah yang mandiri dan tidak menjadi bagian dan korporatisme negara. Wadah tersebut dapat dibentuk dengan nama ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) setelah mereka mau menjadl bagian dari korporatisme negara dan menerima segala konsekuensinya. Walaupun dalam situasi yang tidak kondusif, diresmikanlah kelahiran ICMI dalam simposium di Malang. Juga selama perkembangannya ICMI harus mengikuti birokrasi yang dibuat oleh Orde Baru, dan ha1 tersebut mempersulit ICMI menghadapi tantangan eksistensial, tantangan demokratisasional, serta tantangan kecendekiawanan dan kernatan.
This study is purposed to know : 1) why exclusion moslem cunningment is willing to be a part of inner circle inside Suharto regime; 2) why Suharto regime is willing to accept exclusion moslem cunningment presence to cooperate with inclusion moslem cunningment; 3) why ICMI’s leadrship position is hold by new commers moslem cunninbqnent. Gathering data technic used at this study is : (1) literature study; (2) gathering secondary data from any documentation; and (3) gathering primary data, that is interview with some voice sources and subjects of this object study. The result of this study indicates that Old Era politic form built by cooperation between ABRI, specially ground military with President Sukarno that places PKI in special position, had done something out of UUD 1945 rules, so there was a lot of conflict happenned. Other politic power in Nasakon form relatively in perlpheral position, after Masyumi and PSI had been evacuated from national politic showing. Old Ea politic form couldn’t hold on any longer after happening of 30 September 1965 movement followed by the falling of Sukarno’s. Then, ABRI confessed civil polity supremacy since the begnning of freedom, clearly evacuated civil power in government. Then New Era politic form was built with purpose to correct the work out of UUD 1945 rules by Old Era, with a strong will to do UUD 1945 purely and cosequencily. In the next development, the leadership of New Era followed authority piramida supported by military, birocracy, technocracy, where the president league became the top of league. Within New Era politic form moving, at 70’s and 80’s decade a group of moslem cunningnment tried to make a dish for union of municipality people, but they were failed, becouse they had been thinking to make an independent dish and not to be a part of state corporation. The dish could be made with ICMI name (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesiahdonesian Moslem Cunningment Bundle) after they would be a part of state corporation and accepted all concequency. Thus, the situation was not good, ICMI was born formally through simposium at Malang. Along the way grew up, ICMI had to follow the birocratic made by New Era, and it made ICMI more difficulty to face existensial, democratic, cunningment and municipality people treatment.
Kata Kunci : Politik,Orde Baru,Posisi Cendekiawan Muslim, Old Era, New Era, ICMI