Tinjauan Etika Politik Kekuasaan Max Weber Terhadap Fenomena Politik Dinasti Dalam Pemliihan Kepala Daerah
Yoga Adi Pranata, Drs. Syafiq Effendhy, M.Si.;Drs. Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D
2023 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Fenomena politik dinasti telah menjadi ciri khas masyarakat demokratis,
yang menimbulkan kekhawatiran akan ketidakmerataan alokasi otoritas politik
yang berpotensi menandakan ketidakmampuan representasi yang demokratis, yang
biasa disebut dengan fenomena "kekuasaan melahirkan kekuasaan".
Istilah "etika", yang mengacu pada filsafat moral, juga dapat
digunakan dalam arti nilai dan norma moral yang menjadi landasan bagi individu
atau organisasi dalam menentukan bagaimana mereka harus berperilaku. Penelitian
ini bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai tantangan seputar pemilihan
kepala daerah (pilkada) serentak.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan
penelitian kepustakaan dan refleksi kritis untuk mengkaji peran politik dinasti
dalam pemilihan kepala daerah. Penelitian ini menggunakan etika politik
kekuasaan Max Weber sebagai kerangka teori untuk menganalisis fenomena
tersebut. Karena penelitian ini bersifat filosofis, maka analisis yang
dilakukan menggunakan komponen-komponen yang disusun secara sistematis, yaitu
deskripsi, interpretasi, dan refleksi kritis.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kesetaraan,
kebebasan, dan keadilan merupakan tiga serangkai yang saling berkaitan dan
harus ditegakkan secara bersamaan dalam konteks etika. Pada kenyataannya,
ketiga nilai yang disebutkan di atas, yang merupakan cerminan dari etika
politik, tidak sepenuhnya diterapkan. Konsep kesetaraan tidak mengharuskan
adanya keseragaman dalam masyarakat, karena setiap orang memiliki kemampuan,
keterampilan, dan keahlian yang berbeda.
The phenomenon of
dynastic politics has become a hallmark of democratic societies, raising
concerns about the uneven allocation of political authority that could
potentially signal the inability of democratic representation, commonly
referred to as the "power begets power" phenomenon. The term
"ethics", which refers to moral philosophy, can also be used in the
sense of moral values and norms that serve as a foundation for individuals or
organizations in determining how they should behave. This research aims to
provide insight into the challenges surrounding the simultaneous regional head
elections (pilkada).
This research is a qualitative study that uses desk
research and critical reflection to examine the role of dynastic politics in
regional head elections. This research uses Max Weber's political ethics of
power as a theoretical framework to analyze the phenomenon. Because this
research is philosophical in nature, the analysis used components that are
arranged systematically, namely description, interpretation, and critical
reflection.
The results of the study show that the values of equality,
freedom and justice are a triad that are interrelated and must be upheld
simultaneously in the context of ethics. In reality, the three values mentioned
above, which are reflections of political ethics, are not fully implemented.
The concept of equality does not require uniformity in society, as everyone has
different abilities, skills and expertise.
Kata Kunci : Etika Politik Kekuasaan Max Weber, Politik Dinasti, Demokrasi, Pemilihan Kepala Daerah. / Max Weber's Political Ethics of Power, Dynastic,Politics, Democracy, Regional Head Elections.