Perilaku memilih dan politik kepartaian :: Penelitian di Desa Pinang Sulawesi Selatan
TAQWA, M. Ridhah, Prof.Dr. Sunyoto Usman
2003 | Tesis | S2 SosiologiAda tiga pokok permasalahan studi ini: per/arna. bagaimana variasi dan pergeseran perilaku memilih komunitas muslim pada pemilu 1997 dan 1999; kedua, bagaimana peranan elit lokal dalam sosalisasi dan mobilisasi politik; dan ker/gu bagaimana struktur sosial ekonomi pemilih pada pemilu orde baru dan orde reformasi. Metode penelitian ini termasuk kategori kualitatif-deskriptif. Jenis datanya terdiri dari data sekunder dan primer. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara bebas mendalam dengan merujuk pada pedoman wawancara. Para informan dipilih secara sengaja (purpossive sampling) yang dianggap mampu memberikan informasi, namun tetap diperhatikan keterwakilan struktur sosial ekonominya dari masing-masing komunitas. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara kualitatif, dan kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan logika formal dan atau metode verstehen (pemahaman). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan variasi pilihan politik antara pemilu 1997 dan 1999. Pemilu 1997 sebagai puncak legitimasi politik Orde Baru, karena hampir semua lapisan masyarakat mendukung Golkar. Hal ini berlaku tidak hanya bagi komunitas semi urban-priyayi dan tradisional-abangan, tetapi juga komunitas santri modernis. Sebaliknya pada Pemilu 1999 menjadi pertanda bangkitnya politik aliran yang ditandai dengan bergesernya pilihan politik pada partai yang bersimbol Islam. Pergeseran ini terutama berlaku di kalangan komunitas santri, atau pemilih kategori santri yang memilih PAN, khususnya kalangan Muhammadiyah dan sebagian kecil kalangan Nahdiyin memilih PKB. Sedangkan komunitas abangan atau tradisional, dan semi urban (priyayi) sebagian besar tetap konsisten memilih Partai Golkar, terutama pemilih yang kepentingan sosial ekonominya terkait dengan birokrasi pemerintah, seperti PNS. Pergeseran pilihan politik. selain karena pemilih relatif bebas menyalurkan aspirasinya, tetapi juga karena partai berbasis Islam kembali membangun! jaringan politik seperti tahun 1950-an. Dukungan pada partai Islam meningkat dari 8 persen menjadi 29 persen, sedang Golkar menurun dari 92 persen menjadi 61 persen. Peranan elit agama dan politik lokal sebagai patron masih sangat menentukan kemana komunitas muslim itu memberikan suaranya, dan variabel inilah yang paling menentukan dalam memilih partai politik setiap pemilu. Mobilisasi politik melalui birokrasi, rnonoloyalitas PNS, politik massa mengambang, dan politik uang (money politic) sebagai karakter Golkar ternyata masih berlaku pada era reformasi. Variasi dan pergeseran perilaku memilih tidak hanya dipahami sebagai percaturan politik kepartaian. tetapi juga sebagai wujud persaingan antar elit lokal untuk memperkuat posisi atau kepentingan ekonomi politiknya. Elit lokal sebagai patron menggiring massa (clien) untuk memilih partai sesuai afiliasi elit. Sejumlah pemilih lain lebih mempertimbangkan kedekatan hubungan kerabat dalam memilih partai, ketimbang faktor rasionalitas. Yang positif berupa peningkatan partisipasi generasi muda berpolitik praktis melalui partai berbasis Islam (PAN. PKB dan PPP), namun masih mengandalkan dukungan dari kerabat (nepotisrn).
Available in Fulltext
Kata Kunci : Perilaku Masyarakat,Politik Kepartaian