Integrasi Sosio-Kultural dalam Pengembangan Sustainable Tourism Di Desa Wisata (Studi Kasus Desa Wisata Koja Doi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten SIkka, Nusa Tenggara Timur)
Samuel Yerikhan Waji, Dr. Erda Rindrasih, S.Si., M. U. R. P
2023 | Tesis | S2 Administrasi Publik
ABSTRAK
Tujuan utama penulisan tesis ini ialah menganalisis integrasi sosio-kultural dalam pengembangan pariwisata di Desa Wisata Koja Doi. Secara spesifik, analisis berfokus pada bentuk-bentuk integrasi sosio-kultural dengan kepariwisataan serta tantangan-tantangan integrasinya. Dengan analisis tersebut, penelitian ini berusaha memetakan pengembangan kepariwisataan dan permasalahannya di dalam konteks yang lebih luas yakni konteks sosio-kultural. Untuk itu, penulisan tesis ini menggunakan konsep sosio-kultural secara umum dan konsep sosio-kultural dalam sustainable tourism. Adapun penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang menggunakan metode wawancara, observasi, dan studi dokumen. Dengan metode triangulasi berupa pembandingan hasil observasi, wawancara, dan dokumen mengenai integrasi sosio-kultural dalam pengembangan desa wisata serta pembandingan hasil-hasil tersebut dengan hasil studi pustaka, penelitian ini membangun secara holistik analisis integrasi sosio-kultural dalam pengembangan kepariwisataan dan tantangannya. Deskripsi objektif dan sistematis mengenai bentuk-bentuk dan tantangan-tantangan integrasi sosio-kultural dalam pengembangan kepariwisataan dilakukan dengan bantuan interpretasi dan konklusi atas data-data identifikasi sosio-kultural.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk integrasi sosio-kultural dalam pengembangan sustainable tourism di Desa Koja Doi antara lain terwujud dalam hal penerimaan tamu, dukungan dalam aktivitas-aktivitas kepariwisataan, perilaku masyarakat desa, manfaat-manfaat sosial yang didapatkan, gaya hidup dan perumahan, aksesibilitas, gender, pelestarian warisan, informasi, pemberdayaan-partisipasi-aksi, kesehatan, serta keamanan dan keselamatan. Integrasi sosio-kultural dalam aspek-aspek tersebut berbeda satu sama lain sehingga menunjukkan tingkat integrasi yang bervariasi, termasuk tingkat keseimbangan integrasi. Sementara itu, tantangan-tantangan integrasi yang muncul antara lain mengenai perbedaan identitas sosial, akulturasi dan asimilasi, fleksibilitas penerimaan kepariwisataan, ketidakpedulian, interaksi, ketergantungan sumber daya manusia, perbedaan pemahaman gender, bonus demografi, perubahan sosial, pengguna bahasa daerah, cuaca, mata pencaharian dan profesi, inisiatif dan semangat, inklusivitas dan otentisitas, komitmen dan konsistensi partisipasi, kebersihan-kerapian-keindahan, keadaan non-diskriminasi, serta basis-basis pelestarian, kesehatan, keamanan-keselamatan. Tantangan terbesar terdiri atas minat masyarakat akan kepariwisataan, persepsi dan perilaku resisten, aktivasi kesadaran akan kepariwisataan, serta komitmen partisipasi yang konsisten.
Bentuk-bentuk integrasi (1) dapat digunakan dalam pembentukan destination image serta (2) dapat dikategorisasi dalam komponen pengembangan pariwisata 4A dan SDM untuk kepentingan penyusunan kebijakan kepariwisataan. Tantangan-tantangan integrasi (1) mengklarifikasi bahwa masalah kepariwisataan berakar pada konteks sosio-kultural serta (2) memberikan pemetaan akan posisi pengembangan kepariwisataan di Desa Koja Doi. Dalam konteks hipotesis evolusi kepariwisataan menurut Richard W. Butler, bentuk dan tantangan integrasi kepariwisataan dan konteks sosio-kultural di Desa Koja Doi membawa kepariwisataan di sana untuk masuk kategori involvement karena mulai dikunjungi banyak orang, melibatkan masyarakat, serta mengembangkan fasilitas-fasilitas primer. Selain itu, komprehensivitas dan holistisitas penelitian ini menemukan adanya interkonektivitas aspek-aspek sosio-kultural yang tidak saja berperan sebagai challenger tetapi juga evaluator dalam pengembangan sustainable tourism.
Berdasarkan hasil penelitian, rekomendasi penulis kepada pemerintah desa adalah mengenai aktivasi kesadaran akan kepariwisataan dalam diri masyarakat dengan memperhatikan kepentingan mereka demi mereduksi persepsi negatif dan perilaku resisten, aktivasi kreativitas dan inovasi melalui quick wins untuk menjaga konsistensi partisipasi, serta penguatan arah kebijakan kepariwisataan. Untuk akademisi, rekomendasi berkaitan dengan pendalaman serta perluasan penelitian multidisipliner tentang kepariwisataan baik secara umum maupun dalam konteks integrasi sosio-kultural.
Kata kunci: Integrasi sosio-kultural, konteks sosio-kultural, sustainable tourism, desa wisata, bentuk integrasi sosio-kultural, tantangan integrasi sosio-kultural.
ABSTRACT
The main aim of writing this thesis is to analyze socio-cultural integration in tourism development in the Koja Doi Tourism Village. Specifically, the analysis focuses on forms of socio-cultural integration with tourism and the challenges of integration. With this analysis, this research attempts to map tourism development and its problems in a broader context, namely the socio-cultural context. For this reason, this thesis uses general socio-cultural concepts and socio-cultural concepts in sustainable tourism. This research is qualitative research with a case study approach using interview, observation and document study methods. By using the triangulation method in the form of comparing the results of observations, interviews and documents regarding socio-cultural integration in the development of tourism villages and comparing these results with the results of literature studies, this research builds a holistic analysis of socio-cultural integration in tourism development and its challenges. An objective and systematic description of the forms and challenges of socio-cultural integration in tourism development is carried out with the help of interpretation and conclusions on socio-cultural identification data.
The research results show that forms of socio-cultural integration in the development of sustainable tourism in Koja Doi Village, are appeared in terms of reception of guests, support in tourism activities, village community behavior, social benefits obtained, lifestyle and housing, accessibility, gender, heritage preservation, information, empowerment-participation-action, health, as well as security and safety. Socio-cultural integration in these aspects differs from each other so that it shows varying levels of integration, including a balance level of integration. Meanwhile, integration challenges that arise include differences in social identity, acculturation and assimilation, flexibility in tourism acceptance, ignorance, interaction, dependence on human resources, differences in gender understanding, demographic bonus, social change, regional language users, weather, livelihood and profession, initiative and enthusiasm, inclusivity and authenticity, commitment and consistency of participation, cleanliness-neatness-beauty, non-discrimination conditions, as well as the bases of preservation, health, security-safety. The biggest challenges consist of public interest in tourism, perceptions and resistant behavior, activation of awareness of tourism, and consistent commitment to participation.
Forms of integration (1) can be used in forming a destination image and (2) can be categorized into the 4A tourism development and HR components for the purposes of formulating tourism policies. Integration challenges (1) clarify that tourism problems are rooted in the socio-cultural context and (2) provide a mapping of the position of tourism development in Koja Doi Village. In the context of the tourism evolution hypothesis according to Richard W. Butler, the forms and challenges of tourism and socio-cultural integration have brought tourism in Koja Doi Village into the involvement category because of many visitors, the community involvement, and primary facilities development. Besides, the comprehensiveness and holisticity of this research found that there is interconnectivity of socio-cultural aspects which not only act as challengers but also evaluators in the development of sustainable tourism.
Based on the research results, the author's recommendation to the village government is regarding activating awareness of tourism in the community by paying attention to their interests in order to reduce negative perceptions and resistant behavior, activating creativity and innovation through quick wins to maintain consistent participation, and strengthening the direction of tourism policy. For academics, recommendations relate to deepening and expanding multidisciplinary research on tourism both in general and in the context of socio-cultural integration.
Kata Kunci : Kata kunci: Integrasi sosio-kultural, konteks sosio-kultural, sustainable tourism, desa wisata, bentuk integrasi sosio-kultural, tantangan integrasi sosio-kultural. Key words: Socio-cultural integration, socio-cultural context, sustainable tourism, touris