Agama dan negara :: Tinjauan Hermeneutika atas konsep sekularisasi politik menurut KH. Abdurrahman Wahid
SANTOSO, Listiyono, Dr. A. Sudiarja, SJ
2003 | Tesis | S2 Ilmu FilsafatPenelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan yang berkaitan dengan hubungan agama dan negara menurut Abdurahman Wahid dalam diskursus demokratisasi. Relasi agama dan negara telah menjadi persoalan penting dalam konstelasi perpolitikan dan pemikiran di Indonesia. Abdurahman Wahid merupakan satu dari sekian tokoh yang terlibat dalam upaya untuk merumuskan hubungan antara keduanya, agar bangsa ini di masa yang akan datang tidak lagi diributkan atas munculnya permasalahan klasik tersebut. Bagi Abdurahman Wahid, negara bersifat profane yang tidak mempunyai keterkaitan langsung dengan agama. Atas dasar ini, Abdurahman Wahid menganggap bahwa formalisasi agama dalam struktur negara tidak diperlukan, apalagi dalam konteks ke-Indonesia-an yang bersifat plural. Dalam menjelaskan mengenai relasi antara agama dan negara, Abdurahman Wahid berupaya memberikan pemecahan melalui prinsip sekularisasi politik. Dalam artian, berusaha untuk membedakan, bukan memisahkan antara persoalan politik dengan persoalan agama. Sekularisasi politik dalam terminologi Abdurahman Wahid adalah berusaha untuk mendudukkan persoalan politik sebagai persoalan duniawi dan manusiawi, sehingga harus didekati dengan pendekatan yang sama, tanpa harus melibatkan agama di dalamnya. Sehingga secara garis besar sekularisasi politik Abdurahman Wahid menemukan penekanannya dengan gagasan tentang profanisasi negara. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Objek materialnya adalah konsep sekularisasi politik Abdurahman Wahid,sedangkan objek formalnya adalah filsafat sosial dengan lebih dikonsentrasikan pada pendekatan hermeneutika. Konsep hermeneutika sosial merupakan upaya untuk menafsirkan gagasan sekularisasi politik Abdurahman Wahid berikut aktivitas sosialnya. Dengan demikian akan dapat ditemukan gagasan-gagasan Abdurahman Wahid secara lebih substantif mengenai relasi agama dan negara utamanya dalam konteks ke-Indonesiaan.
The relation between religion and state has been a prominent issue in accademic and political discussion in Indonesia, Abdurrahman Wahid is one amongst some famous thinkers who are trying to formulate the case in order to avoid the probability of social conflict. According to him, a modern state has a profane characteristics which does not have a direct deal with religion. Based on this thesis, Wahid regards that religion-is not necessarely formalized in the structure of a modern state such as the pluralistic Indonesia. In orde to understand the relationship, Wahid offers solution through a political secularization principle. It differs and not to split politic with religion matters. In his terminology, politic is a matter of human community and all the related problems with it must be approached within the scope and without religion intervention. Generally speaking, Wahid political secularization emphasizes the idea of state profane. This research is a library research. The material object is Wahid’s concept of political secularization. The formal object is social philosophy with social hermeneutics approach. Social hermeneutics approach is applied to interpret Wahid’s political secularization in connection with all his social activities. This approach enables people to meet understand Wahid’s substantive idea in the relationship between religion and state especially in Indonesia context.
Kata Kunci : Filsafat,Agama dan Negara,KH Abdurrahman Wahid, Religion, state, and political secularization