Laporkan Masalah

Lambapuse :: Ritual kontrak sosial di kalangan pelayar Buton

SOFYANI, Wa Ode Winesty, Prof.Dr. Sumijati Atmosudiro

2003 | Tesis | S2 Antropologi

Penelitian ini mengkaji ritual perahu khususnya efektifitas lambapuse sebagai kontrak sosial dikalangan pelayar Buton di Kepulauan Tukang Besi, Kabupaten Buton, Propinsi Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan adalah kualitatif yaitu wawancara mendalam, dan pengamatan. Dari penelitian disimpulkan bahwa ritual lambapuse bagi pelayar Buton adalah kontrak sosial (social charter), khususnya antara pemilik perahu dan isterinya. Selain itu, melalui ritual ini berlangsung pula kontrak sosial yang bersifat mistis antara: pande dan isterinya, pemilik perahu dan pande, pemilik perahu dan nakhoda, juga nakhoda dan ABK (Anak Buah Kapal). Efektifitas ritual lambapuse sebagai kontrak sosial sekaligus kontrol sosial, efektif pada level pemilik perahu, pande, dan nakhoda. Sebaliknya kurang efektif pada level ABK. Efektif pada level pemilik perahu, pande, dan nakhoda karena ketiganya memiliki keterkaitan tanggung jawab langsung: pemilik perahu dengan pande, pande dengan perahu, nakhoda dengan pemilik perahu dan perahu. Kurang efektif pada level ABK, hal ini karena ABK tidak bertanggung jawab langsung kepada pemilik perahu, melainkan hanya pada nakhoda. Efektifitas ritual dikuatkan pula oleh keyakinan akan magi perahu. Pada akhirnya efektifitas ritual lambapuse dapat disimpulkan bervariasi, sebab tanggung jawab bersifat individual: semakin tinggi tanggung jawab terhadap perahu, maka semakin kecil atau tidak akan dilakukan pelanggaran. Sebaliknya, semakin rendah tanggung jawab individu, maka kecenderungan untuk melanggar semakin besar.

This research is for studying of the boat ritual specially the effect of lambapuse as a social contract among the Butenese sailors in Tukang Besi islands, Buton regency, South East Sulawesi Province. Method conducted is qualitative that is the indepth interview and observation. The conclusion is ritual of lambapuse for Butonese sailors as a social contract (social charter) specially between the boat owner and his wife. In addition, during this ritual of social contract there is a mistical thing between: the boat owner and his wife, the boat owner and pande, the boat owner and boat’s captain and also boat’s captain and his crews. The effect ritual of lambapuse as social contract and also as a social control is effective in level of boat owner, pande and boats captain since the three parties are interrelated in responsibility directly and less effective to the boat captain only. The effect ritual strengthen by the belief to the magical boat. At last the ritual effect of lambapuse can be concluded variously because of individual responsibility. The higher responsibility to the boat the less infringement he did, in the contrary the lower individual responsibility the more infringement to be done. Key word: ritual, lambapuse, social contract, effectivity

Kata Kunci : Antropologi Sosial,Ritual Sosial,Pembuatan Perahu,Lambapuse


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.