Laporkan Masalah

Perilaku gelandangan di Kota Semarang :: Studi kualitatif untuk strategi bertahan hidup

INDRAWATI, Endang Sri, Drs. Koentjoro, MBSc.,PhD

2003 | Tesis | S2 Psikologi

Kota Semarang berkembang begitu pesat, baik sebagai kota budaya dan pariwisata maupun sebagai kota industri dan perdagangan. Keadaan ini memungkinkan munculnya banyak gelandangan. Proses terjadinya gelandangan melibatkan banyak variabel. Kemiskinan, buta huruf, kekaburan norma, ketiadaan aset produksi, keputusasaan hidup, obsesi terhadap kebutuhan akan kemerdekaan, dan sebagainya berpengaruh terhadap gaya hidup mereka di kota. Gelandangan umumnya mempunyai latar belakang kehidupan yang serba penuh kekecewaan, frustrasi akibat terkalahkan oleh sesuatu sehingga mereka mempunyai gaya hidup yang serba bebas. Keadaan ini telah membuat mereka hidup dalam keterasingan, dan tidak mengikuti aturan umum yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi gelandangan dalam bertahan hidup di kota Semarang dan strategi dalam bersaing menghadapi tekanan internal-eksternal. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Penelitian ini bersifat empirik induktif. Teknik pengambilan sampel adalah purposive random sampling. Analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa terdapat serangkaian strategi gelandangan untuk bertahan hidup di kota Semarang dan strategi bersaing dalam tekanan internal-eksternal. Menekan kebutuhan sekunder, menjalani kehidupan bebas tanpa ikatan perkawinan, mencari tempat yang nyaman untuk tinggal sementara, menghindari sakit semaksimal mungkin, ikut kegiatan program pemerintah jika ingin mengubah nasib, memilih pekerjaan yang sederhana dan bersifat mandiri adalah sejumlah strategi gelandangan untuk bertahan hidup. Mengalah jika tidak mampu melawan meskipun dirasa tidak adil, merebut rezeki orang lain jika merasa lebih kuat, terpaksa ikut kegiatan panti jika terjaring razia, berbohong demi melindungi diri sendiri dan teman adalah sejumlah strategi bersaing dalam menghadapi tekanan internal-eksternal. Meskipun demikian, kaum gelandangan banyak mengalami kegagalan untuk mengubah nasibnya. Hal ini disebabkan oleh relasi sosial budaya yang kurang baik antara pemerintah, masyarakat, dan gelandangan itu sendiri.

The city of Semarang experiences a very rapid growth, not only as a cultural and tourism city, but also as an industrial and commercial city. This rapid development has in turn led to the emergence of various destitutes. The development process of these loops indeed involved many variables. Poverty, illiteracy, haziness of norms, lack of production means or assets, determination of life, obsession of necessity and freedom, and many others influence their city lifestyle. Generally, these destitutes have a life background which is full of disturbance and frustration, which forces them to lead this kind of lifestyle. This condition has made them to lead a kind of competitive life without observing the conventional rules which apply to everybody, including how they fulfill their sexual desires, which was very free in nature, and often characterized by changing partners. This research is therefore intended to establish the behavior of these destitutes in their relationships and also about effort to make better of self quality. Interview and observation constituted the major methods used for data collection. This research was inductive-empirical in nature. The technique to get sample was the purposive random sampling technique. Data was then descriptivequalitatively analyzed. The results of the research indicated that there were various strategies used by destitutes to survive in Semarang and to compete under internal-external pressures. Minimalizing life necessity, living free without any bounds, looking for convenient place for temporary stay, maximally avoiding illness, joining government programs, choosing a simple and autonomic work were a number of destitutes’ strategies to sur vive. Giving in at the time unable to fight even the fact was unfair, fighting with others for income, joining a kind of institution activities when got caught, lying to protect one-self and friends were several strategies applied to challenge internal-external pressures. However, destitutes experienced many failures in altering their destiny. This was due to the bad social cultural relationship between the government, the society, and the destitutes.

Kata Kunci : Perilaku,Gelandangan,Strategi Hidup, Destitutes of Behavior


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.