Sinergitas Stakeholder dalam penanganan kasus kekerasan anak di Kota Semarang
Dena Arianti Br. Barus, Dr. Ambar Widaningrum, M.A.
2023 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Semarang salah satu kota dengan kasus kekerasan anak tertinggi di Jawa Tengah, permasalahan ini menjadi perhatian serius yang harus ditangani oleh pemerintah daerah. Dalam penanganan kasus kekerasan anak tersebut pemerintah mengeluarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2016. Peraturan ini menggunakan pendekatan multi sektor sehingga pentingnya sinergitas antara aktor untuk mencapai tujuan dalam peraturan tersebut. Penelitian ini menganalisis bagaimana sinergitas yang terbangun antar aktor melalui koordinasi dan komunikasi yang terjalin, serta faktor-faktor yang mempengaruhi sinergitas antara stakeholders. Asumsinya adalah jika sinergitas antar aktor dalam penanganan kasus kekerasan dilakukan secara maksimal maka akan memiliki dampak terhadap turunnya kasus kekerasan anak di kota semarang.
Tujuan
penelitian ini mengetahui bagaimana sinergitas stakeholder dalam penanganan kasus
kekerasan anak serta menganalisis faktor yang mempengaruhi terjalinya sinergitas antar stakeholder. Metode pada penelitian ini adalah metode
kualitatif, dengan sumber data primer
yang diperoleh melalui
wawancara secara langsung dan data sekunder melalui buku, jurnal, tinjauan pustaka,
dan dokumentasi terkait.
Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa koordinasi dan komunikasi yang dijalin antara
aktor yang terlibat belum optimalnya.
Hal tersebut dilihat dari beberapa aspek koordinasi yang masih menjadi
kendala yaitu kesatuan
tindakan, pembagian kerja, hubungan kerja antara instansi
pemerintah maupun non pemerintah. Selain itu kepemimpinan, kepercayaan, dan legitimasi menjadi faktor yang mempengaruhi terjalinnya sinergitas antar stakeholder. Dengan permasalahan yang ada diharapkan pemerintah mampu melakukan evaluasi dan menyadari bahwa masih terdapat
kendala yang krusial
terkait pelaksanaan penanganan kasus kekerasan anak di kota Semarang.
Semarang
city is one of the cities with the highest cases of child violence in Central
Java. This problem is a serious concern
that must be handled by the local government. To tackle cases of child
violence, Semarang city government
issued city government regulation number
5 of 2016. The regulation uses a multi-sector approach that leverages synergy between actors in achieving its
objectives. This research analyzed the development of synergy between program actors through forging coordination and communication; and identified
factors that influence synergy between stakeholders. The assumption is
that the optimal synergy between actors in handling cases of violence, should
reduce cases of child violence in
the city of Semarang.
Objectives
of this research were to determine the extent to which stakeholder
synergy was existent in handling cases
of child violence; and identified and
analyzed the factors that influence the synergy between stakeholders. The study
employed a qualitative research design, involving the gathering of secondary
and primary data sources. Participant observation and in-depth interviews were
used to collect primary data, while secondary data were gathered through a
review of relevant documents, literatures, journals, and books.
Results
showed suboptimal coordination and communication between the actors. Obstacles
that undermined coordination included weak unity of action, poor division of
work, and limited working relationships between government and non-government
agencies. Another finding was policy implementation faced leadership, trust,
and legitimacy problems, all of which undermined policy synergy between
stakeholders. Recommendations include the need for the government to implement
findings of this research by taking measures to mitigate obstacles that continue to prevent policy
synergy including coordination,
transparency, trust, and legitimacy in handling cases of child violence
in the city of Semarang.
Kata Kunci : Sinergitas Stakeholder, Komunikasi, Koordinasi, Kekerasan anak