Laporkan Masalah

Pemanfaatan abu terbang sebagai bahan tambah untuk meningkatkan kualitas beton dalam upaya mengurangi dampak lingkungan pada PLTU Paiton, Jawa Timur

ERIDANI, Zeta, Prof.Dr. S. Djalal Tandjung, MSc

2004 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan

Abu terbang, yang merupakan limbah dari PLTU Paiton selama ini belum termanfaatkan secara optimal, sehingga tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan masalah lingkungan karena abu terbang mengandung limbah B3, yaitu unsur As, Cd, dan Pb; juga karena penumpukannya. Oleh karena itu perlu upaya pemanfaatan limbah abu terbang, yang dalam penelitian ini dimanfaatkan sebagai bahan tambah pada beton, yaitu untuk mengurangi jumlah pemakaian semen pada adukan beton tanpa mengurangi mutu beton (kuat tekan beton) dan untuk menambah kekedapan beton terhadap air. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: pertama, mengetahui pengaruh penambahan kandungan abu terbang terhadap kuat tekan beton, kedua, untuk mengetahui pengaruh penambahan kandungan abu terbang terhadap kekedapan air betonnya. Untuk mengetahui kuat tekan dan kekedapan air betonnya, dibuat benda uji beton dengan hitungan perancangan campuran beton menggunakan metode SNI, dengan nilai fas 0.5, slump 10 ± 1 cm dan variasi penambahan abu terbang 0 %, 10 %, 15 %, 20 %, 25 %, 30 %, 35 %, dan 40 % dari berat total semen, masing-masing variasi menggunakan 3 benda uji. Pengujian kuat tekan beton dilakukan dengan bentuk benda uji silinder ukuran tinggi 30 cm dan diameter 15 cm, yang diuji pada umur 7, 28, dan 90 hari, sedangkan untuk menguji kekedapan air dengan bentuk benda uji kubus ukuran tiap sisinya 15 cm, diuji setelah beton berumur 28 hari. Kuat tekan beton semakin berkurang seiring dengan penambahan kandungan abu terbang. Akan tetapi, dengan penambahan kandungan abu terbang sebanyak 10 %, maka kuat tekan beton pada umur 28 hari mengalami kenaikan 2,61 Mpa atau 7,47 % dari kuat tekan beton normal 34,94 Mpa. Penambahan kandungan abu terbang sebanyak 10 % ini berarti dapat menghemat semen sebanyak 45 kg per 1 m3 adukan beton. Kedalaman rembesan air pada kubus beton cenderung semakin berkurang seiring dengan penambahan kandungan abu terbang, berarti dengan penambahan kandungan abu terbang beton menjadi semakin kedap air. Dalam penelitian ini, beton dengan kandungan abu terbang 10 % - 40 % termasuk beton kedap air agresif sedang, yaitu beton yang tahan terhadap air limbah industri, air payau, dan air laut, tetapi tidak termasuk beton kedap air agresif kuat, yaitu beton yang tahan terhadap air yang mengandung garam-garam agresif minimal 1500 ppm. Penambahan kandungan abu terbang dapat menghemat semen sampai 180 kg per 1 m3 adukan beton (40 % dari berat semen). Beton dengan bahan tambah abu terbang lebih tepat digunakan untuk menghemat penggunaan semen dan menambah kekedapan beton terhadap air pada beton, misalnya untuk struktur bangunan yang tidak membutuhkan kuat tekan beton yang tinggi tetapi memerlukan kekedapan air yang cukup baik, antara lain dam, atap gedung, tandon air, dinding basement, pilar jembatan, dan bangunan penahan gelombang.

Fly ash, waste from Paiton Power Plant, has not been exploited optimally, so it potential to cause environmental problem such as water pollution. Moreover, it contains B3 pollutans, which are As, Cd, and Pb. Consequently, it needs using fly ash, for example by using fly ash as an additional component for concrete. The use of fly ash reduces the use of cement in concrete mix without reducing the quality (the compressive of concrete), and at the same time increases water resistance. The objectives of the research are: first, to measure the effect of fly ash addition to the the compressive of concrete, and second, to study the effect of fly ash addition to the concrete water resistance. For the compressive of concrete measurement, the research prepared a test object with a conrete mix following an SNI method, i.e., with the values of fas 0.5, slump 10 ± 1 cm and a variation of fly ash addition of 0 %, 10 %, 15 %, 20 %, 20 %, 25 %, 30 %, 30 %, 35 %, and 40 % of the cement total weight. It prepared three test object for each variation. A test for the compressive of concrete used a cylindrical test object of 30 cm high and 15 cm diameter, conducted 7, 28, and 90 days after the object test preparation. Meanwhile, a test for water resistance used a cubical test object each side of which was 15 cm in length, and the test was cunducted on the 28th day after the test object preparation. The compressive of concrete reduces as more ash in added in the mix. However, with the fly ash addition as much 10 %, the compressive of concrete on the 28th day experience of the increase 2,61 Mpa or 7,47 % from the compressive of normal concrete 34,94 Mpa. Fly ash addition as much 10 % this only mean can economize the cement as much 45 kg per 1 m3 concrete mix. The depth of water resistance of the cubical test object tends to decrease as more ash is added in the mix, showing that it has higher water resistance. In this research, concrete with fly ash addition as much 10 – 40 % inclusive of aggressive waterproof concrete, that is concrete which hold up to industrial disposal water, brackish water, and sea water, but not the inclusive of strong aggressive waterproof concrete, that is concrete which hold up to pregnant water aggressive salt minimize 1500 ppm. Fly ash addition can economize the cement until 180 kg per 1 m3 concrete mix (40 % from weight cement). Concrete with fly ash additon is best used to economize the use of cement and to increase water resistance, in structure that does not need high the compressive of concrete, but needs good water resistance, such as for dams, building roofs, water tank, basement wall, bridge pillar, and wave breaker

Kata Kunci : Lingkungan, Amdal, Abu Terbang, Kualitas Beton


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.