TANTANGAN TATA KELOLA KOLABORATIF PENGAWASAN ORANG ASING DI INDONESIA: STUDI KASUS KABUPATEN JEPARA
Junaidul Fitriyono, Ario Wicaksono, M.Si, Ph.D
2023 | Tesis | S2 Ilmu Administrasi Negara
Pengawasan bersama terhadap Orang Asing di Indonesia
membutuhkan sinergi lintas instansi. Pengawasan secara kolaboratif dilakukan
pada level nasional, provinsi (wilayah), kabupaten/ kota bahkan sampai tingkat
kecamatan. Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
selaku leading sector dalam pengawasan aktivitas dan keberadaan Orang Asing
menghadapi tantangan yang cukup berat dalam pelaksanaan amanat Undang-undang
Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian. Kabupaten Jepara sebagai salah satu
Kabupaten di Jawa Tengah dengan potensi pengembangan yang dimiliki menjadi
magnet tersendiri bagi Orang Asing. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui
bagaimana pelaksanaan kolaborasi dalam pengawasan Orang Asing di Kabupaten
Jepara serta tantangan yang perlu mendapatkan perhatian agar pengawasan
tersebut dapat berjalan dengan baik.
Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan
pendekatan studi kasus menggunakan triangulasi data wawancara informan secara purposive,
observasi lapangan dan pengolahan dokumen. Data dan informasi diolah
menggunakan kerangka berpikir Ansell dan Gash tentang tata kelola kolaboratif
serta mengkombinasikannya dengan analisis peran Ackermen dan Eden.
Pengawasan secara bersama terhadap Orang Asing di
Kabupaten Jepara menunjukkan perbedaan kewenangan dan ekspektasi, permasalahan
dalam inklusivitas, transparansi dan pemberdayaan antar pemangku kepentingan,
serta permasalahan dalam dialog bersama, kepercayaan, komitmen, pemahaman
bersama serta pencapaian yang dilakukan. Kolaborasi yang dilakukan cenderung
hanya pelaksanaan program kerja dan normatif tanpa ada kejelasan langkah dan
tujuan. Oleh karena itu, beberapa tantangan yang perlu mendapatkan perhatian antara
lain penentuan dan kejelasan program dan target aksi kolaborasi, peningkatan
akuntabilitas dan transparansi, penghormatan nilai sosial dan budaya serta
kehadiran Unit Kerja Kantor (UKK) Imigrasi di Kabupaten Jepara. Hal ini perlu
dilakukan dengan memberikan dasar yang kuat pada pola komunikasi, kepercayaan
dan komitmen serta evaluasi terhadap proses kolaborasi, memperkecil gap
paradoks yang terjadi dan menghindarkan kolaborasi dari aktivitas yang
cenderung semu (Pseudo-Collaborative Governance).
Joint supervision of Foreigners in Indonesia requires
cross-agency synergy. Collaborative supervision is carried out at the national,
provincial (regional), district / city level and even at the sub-district
level. The Directorate General of Immigration of the Ministry of Law and Human
Rights as the leading sector in monitoring the activities and presence of
Foreigners faces considerable challenges in implementing the mandate of Law
Number 6 of 2011 on Immigration. Jepara Regency as one of the regencies in Central
Java with its development potential has become a magnet for foreigners.
Therefore, it is important to know how the implementation of collaboration in
the supervision of Foreigners in Jepara Regency and the challenges that need
attention so that the supervision can run well.
This research was conducted qualitatively with a case
study approach using data triangulation of purposive informant interviews,
field observations and document processing. Data and information were processed
using Ansell and Gash's framework on collaborative governance and combining it
with Ackermen and Eden's role analysis.
Joint supervision of foreigners in Jepara Regency
shows differences in authority and expectations, problems in inclusiveness,
transparency and empowerment among stakeholders, as well as problems in joint
dialog, trust, commitment, mutual understanding and achievements made.
Collaboration tends to be only the implementation of work programs and
normative without clarity of steps and goals. Therefore, some of the challenges
that need attention include the determination and clarity of collaborative
action programs and targets, increased accountability and transparency, respect
for social and cultural values and the presence of the Immigration Office Work
Unit in Jepara Regency. This needs to be done by providing a strong basis for
communication patterns, trust and commitment and evaluation of the
collaboration process, minimizing the paradoxical gap that occurs and avoiding
collaboration from activities that tend to be pseudo-collaborative governance.
Kata Kunci : Analisis Peran, Paradoks, Pengawasan Orang Asing, Pseudo-Collaborative Governance (PCG), Tata Kelola Kolaboratif.