Laporkan Masalah

Pusat Daur Ulang Sampah Residu Anorganik di Kota Yogyakarta

Intan Destika Sekar Sari, Nur Zahrotunnisaa Zagi, S.T., M.T.

2023 | Skripsi | ARSITEKTUR

Sampah menjadi salah satu masalah besar saat ini, baik secara nasional maupun internasional. Khususnya pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki 5 kota/kabupaten ini hanya memiliki 3 tempat pembuangan akhir. Salah satunya TPA Regional di Piyungan yang menjadi tempat pengolahan akhir sampah bagi Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul ini mengalami kelebihan kapasitas dan tidak mampu lagi menampung jumlah sampah yang datang setiap harinya. Melalui penemuan inovasi mesin pengolah sampah residu dan hubungan kerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Yogyakarta maka tercetuslah ide pembangunan pusat daur ulang di Kota Yogyakarta. Sehingga hal ini dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk sadar akan pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber sampah.

Tapak terpilih yang berada di tengah permukiman merupakan suatu tantangan tersendiri dalam perancangan pusat daur ulang ini, baik stigma buruk sampah maupun karakter sampah itu sendiri. Masalah perancangan pada pusat daur ulang ini yang pertama adalah (1) Bagaimana mengangkat gengsi dalam mengolah tatanan ruang dan sirkulasi manusia dan sampah (khususnya anorganik) yang memaksimalkan kapasitas daur ulang, yang kedua yaitu (2) Bagaimana mewadahi fungsi edukasi pemilahan dan pengolahan sampah anorganik, dan yang ketiga (3) Bagaimana menggunakan produk inovasi pengolahan sampah plastik residu dalam bangunan secara kreatif dan atraktif.

Dari permasalahan yang ada maka dipilih konsep Sekolah Pilah Sampah sebagai solusi desain dengan transformasi yang pertama yaitu (1) Penataan sirkulasi manusia dan sampah untuk kenyamanan dan memudahkan drop off sampah, yang kedua yaitu (2) Menciptakan tatanan ruang untuk memudahkan pengunjung belajar pemilahan dan pengolahan sampah, yang ketiga yaitu (3) Penggunaan inovasi produk pengolahan sampah residu sebagai salah satu material dalam bangunan, dan yang keempat yaitu (4) Mengubah stigma masyarakat terhadap tempat pengolahan sampah dengan meningkatkan gengsi pusat daur ulang.

Garbage is a big problem in nowadays, both nationally and globally. Particularly in the Special Province of Yogyakarta which has 5 cities/regencies, it only has 3 landfills. One of them is the regional landfill in Piyungan, which is the final waste processing site for the City of Yogyakarta, Sleman Regency, and Bantul Regency, which is experiencing overcapacity and is no longer able to accommodate the amount of waste that arrives every day. Through the invention of an innovative residual waste processing machine and a cooperative relationship with the Yogyakarta Muhammadiyah Regional Leadership, the idea of ??building a material recovery facility in Yogyakarta City was born. So that this can be a means of education for the public to be aware of the importance of sorting and processing waste from waste sources.

The selected site that is in the middle of a settlement is a challenge in itself in designing this recycling center, both the bad stigma of the waste and the character of the waste itself. The first design problem in this recycling center is (1) How to raise prestige in processing spatial arrangements and circulation of people and (especially inorganic) waste that maximizes recycling capacity, the second is (2) How to accommodate the educational function of sorting and processing inorganic waste , and third (3) How to use innovative products for processing residual plastic waste in buildings creatively and attractively.

From the existing problems, the concept of the Garbage Sorting School was chosen as a design solution with the first transformation, namely (1) Arrangement of human circulation and waste for convenience and ease of dropping off waste, the second, namely (2) Creating a spatial arrangement to make it easier for visitors to learn sorting and processing waste, the third is (3) the use of product innovations for processing residual waste as one of the materials in buildings, and the fourth is (4) changing the community's stigma towards waste processing sites by increasing the prestige of recycling centers.

Kata Kunci : Pusat Daur Ulang, Sampah Anorganik, Edukasi

  1. S1-2023-399804-abstract.pdf  
  2. S1-2023-399804-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-399804-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-399804-title.pdf