Persepsi Masyarakat Desa Ngargomulyo terhadap Implementasi Kemitraan Konservasi di Taman Nasional Gunung Merapi
Nurul Ramadhanty Aos, Ir. Kristiani Fajar Wianti, S.Hut., M.Si., IPM.
2023 | Skripsi | KEHUTANAN
Sebagian masyarakat Desa Ngargomulyo melakukan aktivitas di dalam kawasan TNGM berupa pengambilan rumput untuk kebutuhan pakan ternak. Melalui dokumen Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam rangka Kemitraan Konservasi yang ditandatangani tahun 2019, masyarakat diberi akses memungut HHBK jenis rumput dan rencek di Zona Tradisional Resort Dukun, TNGM. Adanya pro dan kontra mengenai cara pandang masyarakat merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, penting untuk diketahui karena menjadi dasar perencanaan program pengelolaan yang melibatkan masyarakat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui persepsi masyarakat Desa Ngargomulyo terhadap implementasi Kemitraan Konservasi di TNGM.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti melakukan live in di Desa Ngargomulyo selama total 30 hari (dalam rentang waktu bulan Mei-Agustus 2023). Pengambilan data menggunakan in-depth interview, observasi, dan telaah dokumen. Informan penelitian ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan khusus, yang terdiri dari Pemerintah Desa Ngargomulyo, SPKP Merapi Asri, Balai TNGM, dan masyarakat perumput. Analisis data dalam penelitian ini merupakan proses siklus dan interaktif yang melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Dilakukan triangulasi metode dan triangulasi sumber data untuk memantapkan derajat kepercayaan data serta sebagai alat bantu analisis di lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kemitraan Konservasi memberi konsekuensi perubahan hubungan masyarakat dengan kawasan dari kultural menjadi struktural. Dengan status masyarakat terikat PKS, aktivitas dalam kawasan yang berlangsung secara turun-temurun harus diakomodasi menjadi sesuatu yang legal dan terstruktur secara administratif. Masyarakat Desa Ngargomulyo menganggap Kemitraan Konservasi sebagai akses legal masuk kawasan dan sebagai amanat yang wajib dijalankan. Penerimaan masyarakat didukung oleh anggapan masyarakat tentang kelestarian alam yang harus dijaga. Hak dan kewajiban masyarakat sudah terpenuhi, namun dalam realitanya penyebaran informasi dan pemahaman terkait kemitraan belum optimal. Dalam penelitian ini ditemukan peran fasilitator yang dijalankan oleh SPKP Merapi Asri. Menurut persepsi masyarakat, akses pemanfaatan rumput dapat terus diberikan dengan cara perpanjang PKS.
Ngargomulyo village is one of the buffer zones of Mount Merapi National Park. Some of the community collects fodder grass within the national park area. Through the Cooperation Agreement (PKS) document in the context of a conservation partnership signed in 2019, the community was given access to grass and firewood in the Traditional Zone of Resort Dukun, TNGM. It is usual to have pros and cons regarding conservation partnerships. This research is crucial because it provides information for planning management that involves the community. The study aims to determine the perceptions of Ngargomulyo Village's community towards conservation partnership implementation in Mount Merapi National Park.
This study uses a qualitative approach. Researchers conducted a live-in at Ngargomulyo Village for 30 days (in the May-August 2023 period). Data were collected using in-depth interviews, observation, and document review. Research informants were determined deliberately consisting of the Ngargomulyo Village Government, SPKP Merapi Asri, Balai TNGM, and the community. Data analysis in this research is a cyclical and interactive process consisting of reduction, presentation, and conclusion/verification. Triangulation of methods and data sources used to determine the degree of trust of the data, as well as a tool for field analysis.
The research results show that Conservation Partnerships have the consequence of changing the community's relationship with the protected area from cultural to structural. With the status of the Ngargomulyo community attached by PKS, hereditary activities in the national park must be accommodated into something legal and administratively structured. The Ngargomulyo Village community considers the Conservation Partnership as legality access to the area and a mandate. The partnership acceptance is supported by the community's perception of nature conservation. Community rights and obligations have been fulfilled, but the information dissemination and understanding regarding the Conservation Partnership have not been optimal. The research found that SPKP Merapi Asri plays a facilitator role. Community perception shows that they need access to grass utilization that can continued by extending the Agreement.
Kata Kunci : persepsi, kemitraan konservasi, Desa Ngargomulyo, TNGM