Peran laktoferin air susu terhadap respon kekebalan kelenjar mamaria sapi perah pada kasus mastitis subklinis
TRIAKOSO, Nusdianto, Prof.Drh. Hastari Wuryastuti, MSc.,PhD
2003 | Tesis | S2 Sain VeterinerPenelitian menunjukkan bahwa prevalensi mastitis subklinis sangat tinggi dan banyak mengakibatkan kerugian. Laktoferin adalah glikoprotein dengan BM 76-80 KDa yang dapat mengikat besi dan mempunyai sifat antibakterial. Laktoferin ditemukan pada saluran pencernaan, kelenjar saliva, cairan seminalis dan kelenjar hader, neutrofil dan kelenjar mamaria. Laktoferin air susu disintesis di dalam kelenjar mamaria. Konsentrasi laktoferin meningkat dan sangat tinggi pada masa kering. Sifat antibakterial dan konsentrasi yang sangat tinggi pada masa kering mempunyai peran dalam mekanisme pertahanan kelenjar mamaria terhadap mastitis. Sementara itu, konsentrasi laktoferin sangat rendah pada saat laktasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon laktoferin air susu di dalam kelenjar mamaria terhadap mastitis subklinis. Air susu sampel diambil dari sapi Friesian Holstein (FH) atau keturunan FH, yang diperah secara manual, dua kali sehari. Sapi dalam kondisi baik dan sehat secara klinis. Status mastitis pada sapi perah ditentukan berdasarkan pemeriksaan menggunakan metode California Mastitis Test (CMT). Sampel kasus mastitis subklinis ditentukan dengan pengujian CMT positif 1 atau lebih pada kelenjar mamaria tanpa gejala klinis, sedangkan kuartir dinyatakan sehat bila hasil pengujian CMT adalah negatif. Whey protein diperoleh menggunakan metode Harmon dan Newbould yang dimodifikasi. Pengukuran konsentrasi laktoferin air susu menggunakan metode indirect double antibody sandwich ELISA, yang melibatkan dua antilaktoferin dari kelinci dan mencit. Konsentrasi laktoferin air susu pada penelitian ini berkisar 12,5 hingga 2.213,136 μg/ml. Rata-rata konsentrasi laktoferin air susu kuartir yang sehat dari kelenjar yang sehat lebih tinggi dibanding konsentrasi laktoferin air susu kuartir sehat dari kelenjar yang mengalami mastitis subklinis (P<0,02). Konsentrasi laktoferin air susu pada kuartir yang mengalami mastitis subklinis meningkat sangat signifikan dibanding kuartir sehat dari kelenjar yang sama (P<0,005). Ini berarti respon laktoferin terhadap mastitis subklinis hanya terjadi pada kuartir yang mengalami infeksi dan tidak terjadi pada kuartir lain yang sehat di dalam kelenjar yang mengalami mastitis subklinis. Berdasarkan derajat mastitis subklinis yang terjadi, konsentrasi laktoferin air susu tidak berbeda di antara derajat mastitis subklinis yang terjadi (P>0,05), namun berbeda sangat nyata dengan konsentrasi laktoferin air susu yang diperoleh dari sampel yang bukan mastitis subklinis (P<0,01). Kesimpulan dari penelitian ini adalah laktoferin air susu memberikan respon kekebalan di dalam kelenjar mamaria sapi perah pada kasus mastitis subklinis.
Many research showed that subclinical mastitis has high prevalence and impact on economic production. Lactoferrin is an iron binding glycoprotein, that has MW 76-80 kDa and antibacterial properties. Lactoferrin was found in intestine, salivary gland, seminalis fluid, hader gland, neutrophil and mammary gland. The lactoferrin concentrations increases during involution and is suggested to play a role of defense mechanism of mammary gland. The lactoferrin concentrations again decreases prior to parturition. This study was conducted to study the respon of lactoferrin in subclinical mastitis mammary glands. Milk samples were obtained twice from Friesian Holstein cows by manually milking. All cows were clinically healthy. Mastitis was determined by California Mastitis Test (CMT). The quarters was considered to be subclinical mastitis if degree of CMT result is 1 or more, and negative CMT as healthy quarters. Whey protein were obtain by modified Harmon and Newbould method. Indirect double antibody sandwich ELISA were developed to facilitate the measurement lactoferrin concentrations in bovine whey samples. Lactoferrin concentrations of healthy mammary glands were 12.5 – 2.213,136 μg/ml in this study. Lactoferrin concentrations were higher in healthy quarters of healthy mammary glands and significant different compare healthy quarters of subclinical mastitis mammary glands (P<0,02). Lactoferrin concentrations were increased on quarter that develop subclinical mastitis (P<0,005). Lactoferrin concentrations only increase in quarter that develop subclinical mastitis and not in healthy quarters of subclinical mastitis glands. The degree of subclinical mastitis did not affect the lactoferrin concentrations (P>0,05) but did affect in healthy quarters (P<0,01).
Kata Kunci : Sapi Perah,Mastitis Subklinis,Laktoferin Air Susu, lactoferrin, subclinical mastitis, ELISA