Analisis Pengaruh Perubahan Temperatur Udara terhadap Respons Fisiologis dan Kenyamanan Termal
Gilang Fahlevi, Dr.Eng. Ir.Titis Wijayanto, S.T., M.Des., IPM., ASEAN Eng.
2023 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRI
Indonesia adalah negara kepulauan
dengan lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di sepanjang garis khatulistiwa di
Asia Tenggara. Iklim tropis yang mendominasi, dengan musim hujan dan kemarau,
memberikan keuntungan besar dalam hal sumber daya alam, pertanian sepanjang
tahun, dan sumber daya laut yang melimpah. Suhu tinggi dan kelembaban dapat
berdampak buruk pada kesehatan, bahkan hingga kematian. Penggunaan pendingin
udara seperti AC mungkin menjadi solusi, tetapi penggunaan yang berlebihan
dapat memengaruhi kenyamanan manusia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
sensitivitas terhadap perubahan suhu bervariasi, terutama berdasarkan
lingkungan iklim. Oleh karena itu, penelitian mengenai kenyamanan termal dan
respons fisiologis terhadap perubahan suhu di Indonesia menjadi penting,
terutama mengingat banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat
Indonesia.
Penelitian ini melibatkan 18
orang mahasiswa laki-laki dengan rentang umur 20-23 tahun sebagai subjek
penelitian. Setiap subjek menjalankan eksperimen pada tiga skenario perubahan
temperatur udara: 30 derajat C-22 derajat C-30 derajat C (Kondisi 3), 30 derajat C-25 derajat C-30 derajat C (Kondisi 2), dan 30 derajat C-28 derajat C-30 derajat C
(Kondisi 1), masing-masing selama 30 menit pada temperatur udara awal dan akhir
(30 derajat C) dan 40 menit pada temperatur udara kedua (22 derajat C, 25 derajat C, dan 28 derajat C). Parameter
yang diukur dalam penelitian ini adalah respons subjektif (thermal sensation
vote, thermal comfort vote, dan thermal preference vote) dan respons fisiologis (skin temperature).
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perubahan temperatur udara mempengaruhi respons
fisiologis, khususnya skin temperature, dan respons subyektif terkait
kenyamanan termal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa
perubahan temperatur yang paling memberikan perbedaan secara signfikan pada
respons subyektif adalah pada kondisi 3. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa respons
fisiologis dari subyek yang menunjukkan perbedaan paling signifikan terjadi
pada kondisi 3. Berdasarkan hasil dari respons subyektif serta respons
fisiologis tersebut maka dapat diketahui bahwa kondisi 3 adalah kondisi paling
nyaman serta aman bagi subyek penelitian.
Indonesia is an archipelagic
country with over 17,000 islands scattered along the equator in Southeast Asia.
The dominant tropical climate, with rainy and dry seasons, offers significant
advantages in terms of natural resources, year-round agriculture, and abundant
marine resources. High temperatures and humidity can negatively impact health,
even leading to death. The use of air conditioners, such as AC, may be a
solution, but excessive use can affect human comfort. Previous research
indicates that sensitivity to temperature changes varies, especially based on
climatic environments. Therefore, research on thermal comfort and physiological
responses to temperature changes in Indonesia is essential, especially
considering the many activities undertaken by the Indonesian community.
This
study involved 18 male students aged between 20-23 years as research subjects.
Each subject underwent experiments in three scenarios of air temperature
changes: 30 degrees C-22 degrees C-30 degrees C (Condition 3), 30 degrees C-25 degrees C-30 degrees C (Condition 2), and
30 degrees C-28 degrees C-30 degrees C (Condition 1), each for 30 minutes at the initial and final air
temperature (30 degrees C) and 40 minutes at the second air temperature (22 degrees C, 25 degrees C,
and 28 degrees C). The parameters measured in this study are subjective responses (thermal
sensation vote, thermal comfort vote and thermal preference vote) and
physiological responses (skin temperature).
The results of the study show that changes in air temperature affect physiological responses, especially skin temperature, and subjective responses related to thermal comfort. Based on the research conducted, it was found that the temperature change that most significantly affected subjective responses was in Condition 3. The study also indicates that the most significant differences in physiological responses of the subjects occurred in Condition 3. Based on the results of both subjective and physiological responses, it can be inferred that Condition 3 is the most comfortable and safe condition for the research subjects.
Kata Kunci : Skin temperature, kenyamanan termal, perubahan suhu, Repeated Measures ANOVA