Laporkan Masalah

Evaluasi penyelenggaraan klinik sanitasi di Puskesmas se-kota Pontianak tahun 2002

SUHARNO, dr. Suharyanto Supardi, MPH.,MSPH

2003 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Kota Pontianak merupakan salah satu kota di Propinsi Kalimantan Barat, pada tahun 1999 incidance rate (IR) penyakit diare dan dysentri sebesar 36,0/1000, dan merupakan daerah endemis DBD dengan case fatality rate (CFR) 6,53/100. Kejadian penyakit menular berbasis lingkungan pada rawat jalan di Kota Pontianak masih belum menunjukkan penurunan yang berarti dari tahun ke tahun. Sehingga sebagai salah satu upaya yang dilakukan pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kota Pontianak menyelenggarakan program Klinik Sanitasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penyelenggaraan Klinik Sanitasi Puskesmas di Kota Pontianak. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Populasi pada penelitian ini adalah Puskesmas se-Kota Pontianak, yang telah menyelenggarakan Klinik Sanitasi. Sebagai subjek penelitian adalah koordinator Klinik Sanitasi Puskesmas. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan diskusi kelompok terarah (DKT). Selain itu dilakukan wawancara mendalam dengan Kepala Sub Dinas Penyehatan Lingkungan dan observasi. Hasil: Penyelenggaraan Klinik Sanitasi puskesmas di Kota Pontianak yang sudah aktif sebanyak 15 puskesmas (61,9%) dan 8 puskesmas (38,1%) masih kurang aktif. Ketersediaan komponen input untuk tenaga secara kuantitas dan kualitas cukup memadai, namun untuk dukungan input dana, sarana dan peralatan masih kurang memadai. Dari jumlah tersebut yang telah memiliki rencana program baik sebanyak 4 puskesmas (19,1%) dan 17 puskesmas (80,9%) memiliki rencana program yang kurang baik. Sedangkan keberadaan tim pelaksana program yang sudah baik sebanyak 6 puskesmas (28,6%) dan 15 puskesmas (71,4%) tim pelaksana program masih kurang baik. Demikian halnya pada kerjasama program yang sudah baik sebanyak 11 puskesmas (55,6%). Namun dalam monitoring program yang dilakukan oleh Kepala Puskesmas sebanyak 7 puskesmas (33,3%) sudah baik, dan monitoring yang dilakukan oleh petugas Dinas Kesehatan Kota Pontianak 100% kurang baik. Kesimpulan: Sebagian besar (61,9%) penyelenggaraan Klinik Sanitasi di Puskesmas se-Kota Pontianak terlaksana dengan aktif, namun secara manajerial masih memiliki kekurangan dan kelemahan, mulai dari rencana program, tim pelaksana program, kerjasama program serta pada monitoring program.

Background: Pontianak is one of the city in West Kalimantan Provice, the incidance rate (IR) of diarrhoea disease and dysentery with 36.0/1000 in 1999 and its area of dengue endemic with case fatality rate (CFR) 6.53/100. Contagion occurence being based on environment taking care of outpatient in Pontianak still not yet shown the degradation from year to year. So that as one of the effort done by a local government through the Health Office of Pontianak accept the management of program of Sanitation Clinic, which have been carried out at 21 from 22 Public Health Centers. This study was aimed at describing of management of Sanitation Clinic of Public Health Center in Pontianak. Methods: This was a case study. The population study was all of the Public Health Centers in Pontianak, which have carried out the Sanitation Clinic. The subjects were Coordinator of Sanitation Clinic of Public Health Center. Data were gathered through structure interview using questionnaire and focused group discussion (FGD). In-depth interviews with the head of sub-office of Environmental Health and Observation. Results: Management of Sanitation Clinic of Public Health Center in Pontianak was 15 Public Health Centers (61.9%) and 8 Public Health Centers (38.1%) less active. Availibility of input component for the staff of quality and quantity was adequate, but for the support of fund input, means and equipments were less adequate. From the amount which have good program planning were 4 Public Health Centers (19.1%) and 17 Public Health Centers (80.9%) have unfavourable planning. While good team program were 6 Public Health Centers (28.6%) and 15 Public Health Centers (71.4%) the team program still unfavourable. And also at collaboration of good program were 11 Public Health Centers (55.6%). But in program monitoring which done by head of Public Health Center in 7 Public Health Centers (33.3%) was good, and monitoring which done by staff of Health Office of Pontianak city 100% was unfavourable. Conclusion: Most of (61.9%) the management of Sanitation Clinic in all of the Public Health Center in Pontianak was actively, but by manajerial have the insuffiency and weakness, from program planning, the team of program organizer, program collaboration and also in program monitoring.

Kata Kunci : Manajemen Layanan Kesehatan,Evaluasi Sanitasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.