Laporkan Masalah

OTONOMIPEREMPUAN MADURA DALAM PERKAWINAN

Syaiful Bahii, Drs. Purwanto, SU, M.Phil.

2007 | Tesis | S2 Sosiologi (Studi Pembangunan)

Tesis ini berjudul: "OtonomJ Perempuan Madura daJam Perkawinaif. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dinamika realitas sosial yang sedang berkembang di lingkungan masyarakat Madura. Ini ditandai dengan masih sering terjadinya kesalahpahaman tentang sesuatu yang bersifat kodrati dengan sesuatu yang merupakan konstruk sosial masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini adalah pertama^ mencermati persoalan otonomi perempuan Madura dalam menentukan perkawinan serta mengetahui penyebabnya. Kedua, mendiagnosis adanya beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketidakberdayaan perempuan Madura dalam menentukan perkawinan. Ketiga, mengetahui dampak sosial yang diakibatkan oleh tidak otonominya perempuan. Penelitian ini adalah bersifat description research, yaitu penelitian yang di dalamnya memberikan uraian secara deskriptif berkenaan dengan suatu kolektifitas tertentu, sehingga akan dilihat fenomena otonomi perempuan Madura dalam perkawinan tidak sekedar sebagai fenomena alam, melainkan hasil dari konstrusi sosial. Sedangkan pisau analisis yang digunakan adalah analisis gender dan beberapa teori feminis yang dipandang cukup relevan untuk membedah persoalan-persoalan yang berkembang. Hasil yang dicapai adalah persoalan perkawinan dalam masyarakat Madura tidak dapat lepas dari peran pola pemukiman taneyan lanjangysn^ mencerminkan sistem perkawinan matrilokal di mana suami tinggal di lingkungan keluarga isteri. Dalam lingkungan ini, anak perempuan yang sudah menikah selalu dibuatkan rumah atau disediakan kamar khusus, sementara anak laki-laki yang menikah, keluar dan tinggal di rumah isteri. Hal ini merelca lakulcan, untuk menjaga dan melindungi anak perempuan. Pembedaan ini, sedikit banyak berpengaruh pada putusan perkawinan, di mana anak laki-laki bebas mengaktualisasikan dirinya, sementara anak perempuan tidak diberi ruang gerak dan pikir yang cukup dalam menentukan pilihannya. Hal tersebut dilihat ciari beberapa indikator di antaranya adalah; pertama, akses terhadap keputusan perkawinan mulai dari awal sampai akhir proses perkawinan, di mana pengambilan keputusan sangat didominasi oleh keluarga. Kedua, perkawinan dilakukan atas dasar tindakan untuk memperlakukan perempuan sebagai objek seks bagi lakilaki dan penghasil keturunan yang tercermin dalam budaya perkawinan antar saudara dekat. Ketiga, perkawinan dilakukan atas dasar menjaga aset ekonomi keluarga. Keempat, doktrin pesantren yang tidak memihak perempuan. Konsep keserasian dalam pemilihan jodoh yang diajarkan oleh pesantren, temyata lebih mengedepankan posisi laki-laki sebagai sosok yang dapat menentukan pilihannya. Sementara perempuan tidak memiliki hak untuk memilih pasangan hidupnya. Sedangkan implikasi sosial yang ditimbulkan adalah perkawinan sering dilakukan tidak atas dasar kepentingan individu, melainkan lebih mengutamakan kepentingan keluarga yang secara tidak langsung akan berdampak pada subordinasi perempuan dalam proses perkawinan.

This thesis is on the title: "The Autonomy of Madura Women in Wedding". This research is formed by dynamic of social reality in deep, which has been developing the environment of Madura societies. It is signed by occurred of misunderstanding frequendy about the thing that has character of the supreme Power of God, with the diing that is social construct of local society. The purposes of this research are: first; to pay close attention to the matter of autonomy of Madura women, to decide wedding and to know its cause. Second; to diagnose some factors that are able to influence the powerless of Madura women in decide of wedding. Third; to recognize the social impact those are influenced by no women autonomy. The character of this research is description research, which is research gives analysis descriptively relate to certain collective so that, this research will appears the phenomenon of autonomy of Madura women in wedding. It does not only as a nature phenomenon, but it's the result of social construct. Whereas analysis and feminism theory that be regarded still relevant to expand the growth matters. Reached result is marriage problem in society of Madura cannot get out of the role of pattern settlement of taneyan lanjang which generated the matrilocal system of marriage whereabouts husband live in the environment of wife family. In this environment, daughter marry is always made by a house or provided by a special room; chamber, meanwhile boy who has married, exit and live in the wife house. This matter is they conduct to take care of and protect the daughter. This differentiation, more or less having an in with marriage decision, whereabouts boy is free of actualization himself, whereas daughter is not given by the enough freedom in taking his choice. The mentioned can be see from some indicator among other things is; Firsts access to marriage decision, starts from early to the last process of marriage, whereabouts decision making much predominated by family. Second^ marriage conducted on the basic of action to treat woman as object sex for men and clan producer which can be see in marriage culture usher the brotherhood. Third, marriage conducted on the basic of taking care of economic asset of family. Fourth, unbiased doctrine pesantren to woman. Tlie Concept of compatibility in couple election taught by pesantren, in the reality more placing forward of men position as buttonhole which can take his choice. For a while woman do not own the rights to chosen. While social implication to generated is marriage often conducted do not on the basic of individual importance, but more majoring of family importance which indirectly will affect at subordination woman in marriage process.

Kata Kunci : perempuan - gender-patriarkhi-pesantren — taneyan lanjang


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.