Laporkan Masalah

Modal sosial dan reorientasi kebijakan publik :: Studi utilisasi modal sosial dalam proses reorientasi kebijakan agraria lokal pada kasus sengketa properti tanah petani melawan PTPN XII di kawasan Malang Selatan

SUKARDI, Dr. Purwo Santoso

2003 | Tesis | S2 Administrasi Negara

Penelitian ini ingin membuktikan bahwa perubahan kebijakan dalam seluruh aspeknya tidak harus menunggu belas kasih dan budi baik ataupun inisiatif dari negara. Perubahan kebijakan lokal sebagaimana menjadi tema sentral yang diulas dalam tesis ini boleh dikata keluar dari tradisi analisis kebijakan yang selama ini sangat disanjung oleh para skolar. Perubahan kebijakan secara sukses dapat dilakukan oleh masyarakat dengan diorganisir secara sempurna oleh segelintir aktor yang pintar mengelola kekuatan-kekuatan sekedarnya yang tersedia di seputarnya. Dibalik kekuatan yang amat sederhana itu hadirnya modal sosial menjadi roket kekuatan yang memungkinkan perubahan dengan inisiatif masyarakat ini terlaksana. Untuk memperjelas maksudnya, tesis ini membahasnya melalui tiga pertanyaan penuntun. Pertama, bagaimana asal muasal modal sosial dilahirkan, apa saja medianya dan siapa saja aktornya. Kedua, Bagaimana modal sosial diberi nyawa kemudian dilincahkan sehingga dapat fungsional untuk mengampu proses perubahan. Ketiga, apa benar perubahan-perubahan yang disokong utilisasi modal sosial ini dapat dirasakan oleh masyarakat dan apa saja kontribusi utilisasinya bagi kekuatan modal sosial selanjutnya. Untuk menjawab tiga pertanyaan penuntun tersebut penelitian ini dilakukan disebuah kawasan perkebunan Malang Selatan, yaitu para petani yang desanya menjadi areal penanaman tanaman perkebunan milik PTPN XII. Pilihan di lima desa ini didasarkan analisa pergolakan agraria di tempat tersebut berlangsung laten dan kurun waktu puluhan tahun. Tatkala reformasi, pemberontakan petani untuk merebut tanah yang dikuasai PTPN XII berlangsung secara masif. Setidaknya 2000 petani termuka terlibat dalam pembabatan 1.400.000 pohon coklat di atas tanah 2050 ha tersebar di lima desa kawasan tersebut. Tanah tanah yang telah dikuasai kemudian dibagi-bagi diantara mereka dengan jumlah yang tertata sesuai dengan konsensus yang dibangun di tiap-tiap desa. Penelitian ini sendiri ingin mengungkap tiga pertanyaan diatas dengan cara melacak apa sebenarnya peristiwa yang terjadi dibalik pembabatan tanaman coklat dan dan pengambilalihan tanah PTPN tersebut. Untuk menemukan hasil penelitian yang otentik penelitian ini menggunakan strategi penggalian secara berlapis-lapis. Tidak satupun sumber data yang bebas dari konfirmasi silang. Konfirmasi dengan cara mengkonfrontir aneka pandangan selalu dilakukan untuk menemukan dasar-dasar logika yang tidak semu di level kesadaran petani. Pada tahap awal diupayakan menemukan pelaku di level atas yang bersedia, kemudian pencarian aktor ini terus bergulir di tiap desa sampai ditemukan aktor yang menjadi pusat rujukan. Beberapa responden yang tidak bisa mengungkap dengan terbuka dan runtut akhirnya peneliti harus “membujuk” dengan cara mengumpulkan mereka di tengah sawah jauh dari pemukiman. Peneliti mengumumkan akan mebuat film dokumenter tentang pembabatan pohon coklat. Cara ini kemudian membuahkan hasil. Wawancara dengan rekaman tersembunyi disaku jaket juga peneliti lakukan terhadap para penumpang gelap, aktor perantara dengan jajaran koramil, pejabat tingtgi lokal. Temuan menyebutkan, genesis modal sosial sebenarnya bermula dari sebuah interaksi dalam sebuah komunitas yang ada dalam satuan-satuan geografis. Bangunan interaksional sekenanya dan tidak sengaja, saling menyapa sekadar ingin mengucapkan dan bertanya karena merasa perlu memperhatikan tatkala saling jumpa. Tingginya intensitas interaksi ini akhirnya antar mereka menjadi saling mendekat dan tidak enggan berkomunikasi. Tentang aktor yang paling dominan berperan dalam penangkaran modal sosial dalam kasus ini adalah para saksi hidup yang mengetahui riwayat perkebunan, petani-petani pelopor dan para petani miskin umpang karang. Mereka semua ini adalah para pemasok pengetahuan dan kecakapan tentang aneka hal berkaitan dengan reputasi PTPN itu sendiri. Itu saja tidak cukup, para petani ternyata juga berusaha mencari rujukan keluar komunitasnya. Sementara itu jenis-jenis asosiasi yang dipergunakan untuk basis interaksi juga amat bervariasi, mulai asosiasi religi, resiprositas tenaga kerja, aneka kelembagaan untuk mobilisasi kerja komunal, hingga kelembagaan hubungan produksi yang ada. Semua kelembagaan ini menjadi nampan besar untuk melangsungkan interaksi dan resiprositas. Satu aspek yang memungkinkan perjumpaan pandangan diantara para petani adalah adanya berbagi pengalaman (share experience) utamanya menyangkut pengalaman bergaul dengan PTPN. Ingatan kolektif ini ternyata menjadi perekat yang amat kuat sehingga modal sosial kekuatan dan daya lecutnya mengalami pelipatan. Secara khusus penelitian ini mengungkap berbagai hal berkaitan dengan transkrip publik dan transkrip tersembunyi. Transkrip adalah merupakan tingkah tutur yang diucapkan secara samar atau terang dengan maksud tertentu. Peran transkrip ini amat penting ketika berbagai masyarakat mulai mengalami suasana ketakutan akibat proses pembabatan yang dilakukan. Transkrip yang terus direproduksi luas oleh beberapa petani ditujuak nuntuk memasuk keberanian dan keraguan yang meluas waktu itu. Transkrip ini mjuaranya mereproduksi stigma siapapun yang menentang gerakan pengambilalihan tanah ini. Proses utilisasi modal sosial itu sendirin sebenarnya menggambarkan aktivitas dari komunitas petani untuk menggunakan berbagai arena dan kebiasaan yang semula dijadikan tempat menjalin solidaritas, mempertukarkan sumberdaya baik tenaga maupun uang. Saluran-saluran itu kemudian didayagunakan untuk memuati dengan pesan-pesan perlunya melakukan perebutan tanah dengan cara-cara tertentu sebagaimana modal sosial itu merekatkan mereka dalam satu pandangan dan tujuan. Media tahlil yang semula dipergunakan untuk membaca kitab, dijadikan arena untuk mendengar testimoni dari para pelaku sejarah dan yang mengerahui riwayata perkebunan. Corong pengeras suara di masjid yang semula untuk mengumandangkan azan dipergunakan untuk mengundang mansyarakat perlunya mengadakan pertemuan di suatu tempat. Praksis sosial seperti itulah yang akhirnya dilakukan secara luas untuk menyusupkan semua elemen denyut sosial di tiap desa agar tertuju untuk proses perebutan tanah. Sebagai sebuah riset yang eksploratif, penelitian ini menghasilkan temuan-temuan yang melebihi harapan. Peneliti sangat beruntung bisa mengambil tema ini dalam sebuah konfirmasi peristiwa lapang yang tergolong besar. Betapa tidak, tidak ada satu peristiwa reclaiming tanah yang begitu besar dan berhasil merontokkan keberadaan PTPN yang dikawal oleh batalyon tempur lengkap.

The present study was conducted to obtain insight in the importance of social capital for human being. According some authors social capital is defined as mutual trust. It is related to social interaction : social capital determines how easily people work together. An easy-to-use proxy establishing of social capital is how far is the density of voluntary organizations referred to as Putnam’s instrument. Social capital might be a new public resources which must be added to human and physical capital, or it might enter as a reduction in either social interaction or transaction cost. With regard social capital, these findings elucidate three issues : first, concerning how seed of social capital growing, than what kind of social environment which appropriate. Besides this research also elaborate on the social capital utilization toward changes the local policy. Land reclaiming by 2000 farmers who come from nine villages in South of Malang during reformation era was able to catagorized local rebellion which Firstly, social capital become public asset among farmers. The community with good quality of social capital which indicate intention of social meeting, reciprocity activities, trust and solidarity will more strong to reach opportunity for social position. In contrary, the community with poor social capital will powerless and in any cases hard to get improving their economic and social status. Secondly, social capital formation are the process to making social capital getting function and become social reference. There is twofold factors : who actors can initiate forming social capital and where social capital operating will taking place. Findings mentions that actor who have capacity to learn their environment will become entrepreneur to initiate the change. Another actors is midleman who become fence sitter, his roles are very important to encourage the acceleration to change. The Reasoning why some people come to consensus to using the social capital as public weapon is, because social capital among the as reflection of personal experience, especially during getting interaction with state plantation (PTPN XII). Hidden transcript expressed the collective memory and their experience during interaction with others. In many cases collective memory usually derives from bad experiences. From these findings there is growing experiences that social capital contributes significantly to improving local development. After the land reclaiming there is about 20% farmers from each village’s access to operate a piece of land for food. Growing opportunity requires an expanding stock of capital and the functionalization of social capital need some volunteer and pioneer. They are an entrepreneur who encourage community among the establishing power relation. Social capital refers to the internal social and cultural coherence of society, the norms and values that govern interactions among people and the institutions in which they are embedded. These findings mentioned that policy change by people are possible if the function of social capital taking place at the first. The capacity bureaucrats to change their policy is not sufficient to improving the life of some farmers who under poverty line. In the cases of land reclaiming as mentioned in this reports, concluding that local policy change – access to land-- are feasible if farmers have strong organization. Besides the utilization of social capital is realized due existing some actors who very smart to mobilizing all resources toward empowering for peoples.

Kata Kunci : Kebijakan Agraria,Sengketa Tanah Petani


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.