Redesain ruang rawat inap rumah sakit jiwa daerah surakarta dengan pendekatan healing environment
Afrillia Berlyana Galih Pangesti, Ir. Adi Utomo Hatmoko, M. Arch, IAI
2023 | Skripsi | ARSITEKTUR
Kesadaran akan kesehatan jiwa di Indonesia masih terbilang cukup rendah. Berdasaarkan riset Kementerian Kesehatan tahun 2021 menunjukkan bahwa
prevelensi orang dengan gangguan jiwa di Indonesia sekitar 1 dari 5 penduduk yaitu sekitar 20% jumlah penduduk di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa. Hal ini perparah dengan jumlah orang yang melakukan bunuh diri setiap harinya ada 5 orang. Selain itu, penanganan kesehatan jiwa di Indonesia bisa dibilang masih belum memadai, hal ini dilihat dari jumlah rumah sakit jiwa atau pusat-pusat perawatan kesehatan jiwa di Indonesia masih sangat sedikit. Di beberapa tempat di Indonesia, penanganan pasien gangguan jiwa masih tidak manusiawi. Kematian pasien gangguan jiwa akibat dari kelalaian pada penanganan pasien gangguan jiwa masih cukup banyak. Selain itu, metode-metode seperti pasung juga masih sangat populer untuk sebagian masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya stigma negatif masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa. Ketakutan dan anggapan masyarakat bahwa pasien gangguan jiwa merupakan aib dan beban bagi mereka. Stigma tersebutlah yang menjadi salah satu faktor penghalang terbesar mengapa orang-orang masih mengabaikan dan menghindari orang-orang dengan gangguan jiwa. Beberapa orang juga menganggap bahwa gangguan jiwa berhubungan dengan hal yang non rasional atau supranatural. Misalnya pengidap skizofrenia dianggap kemasukan roh jahat atau sihir. Oleh karena itu, perancangan desain layanan kesehatan jiwa harus memperhatikan pasien, staf, pengunjung, dan masyarakat sekitar. Untuk mendukung lingkungan yang lebih memanusiakan pasien gangguan jiwa dan menghilangkan stigma negatif masyarakat terhadap gangguan jiwa. Dengan pendekatan healing environment akan menciptakan lingkungan bagi kesehatan jiwa yang aman dan nyaman bagi pasien, pengunjung, dan staf. Dan meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar terhadap kesehatan jiwa.
Awareness of mental health in Indonesia is still quite low. Based on research by the Ministry of Health in 2021, it shows that the prevalence of people with mental disorders in Indonesia is around 1 in 5 population which is around 20% of the population in Indonesia who experience mental disorders. This is exacerbated by the number of people who commit suicide every day there are 5 people. In addition, mental health treatment in Indonesia is arguably still inadequate, this is seen from the number of mental hospitals or mental health care centers in Indonesia is still very small. In some places in Indonesia, the treatment of mental patients is still inhumane. The deaths of mental patients due to negligence in the treatment of mental patients are still quite a lot. In addition, methods such as pasung are also still very popular for some Indonesians. This is due to the negative stigma of society towards mental patients.
Therefore, the design of mental health services must pay attention to patients, staff, visitors, and the surrounding community. To support an environment that humanizes mental patients more and eliminates society's negative stigma towards mental disorders. People's fears and assumptions that mental patients are a disgrace and a burden to them. That stigma is one of the biggest barrier factors why people still ignore and avoid people with mental disorders. Some people also consider that mental disorders are related to non-rational or supernatural things. For example, people with szikophrenia are considered to be entering evil spirits or magic. With a healing environment approach, it will create an environment for mental health that is safe and comfortable for patients, visitors, and staffs. And increase the awareness of the surrounding community towards mental health.
Kata Kunci : kesehatan jiwa, rumah sakit jiwa, healing environment, mental health, Psychiatric Hospital.