Laporkan Masalah

Hubungan konversi hutan mangrove dengan kemelimpahan kepiting bakau (scylla serrata) di pantai napabalano Sulawesi Tenggara

AMALA, Wa Ode Leni, Drs. Sunarto, M.S

2003 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan

Konversi hutan mangrove di Pantai Napabalano untuk berbagai peruntukkan antara lain untuk pemukiman menyebabkan berkurangnya kerapatan hutan mangrove, sehingga akan mempengaruhi iklim mikro hutan mangrove, berubahnya kualitas habitat baik kualitas air maupun kualitas substrat serta menurunnya bobot seresah yang dihasilkan. Kondisi ini pada akhirnya akan menurunkan kemelimpahan Scylla serrata yang akan berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan penentuan lokasi sampling berdasarkan purposive sampling. Data mangrove dianalisis dengan cara melihat struktur dan komposisi vegetasi mangrove pada setiap stasiun pengamatan. Data kualitas habitat dianalisis deskriptif dan data kemelimpahan Scylla serrata dianalisis dengan melihat jumlah individu persatuan luas stasiun pengamatan. Kemudian untuk melihat hubungan antara variabel pengamatan dilakukan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan, konversi hutan mangrove tidak merubah struktur dan komposisi mangrove. Jenis-jenis mangrove di Pantai Napabalano adalah Rhizophora mucronata, Rhizophora styllosa, Rhizophora apiculata, Avicennia alba, Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhyza. Hasil analisis menunjukkan konversi hutan mangrove mengubah kualitas habitat Scylla serrata dan menurunkan bobot seresah sehingga kemelimpahan Scylla serrata berkurang. Hasil analisis menunjukkan hubungan nyata antara kemelimpahan Scylla serrata dengan suhu air, kekeruhan dan pH air dengan nilai koefisien korelasi masing-masing adalah -0,941 dan 0,941. Kemelimpahan Scylla serrata menunjukkan hubungan nyata dengan bobot seresah, dengan nilai koefisien korelasi 0,943.

Mangrove forest conversion in Napabalano Bech is for multipurposiv objectives such as building materials causing demage of mangrove forest establishment. Mangrove forest conversion will change the mangrove microclimate and habitat quality, both water quality, substrat and natural food availability of Scylla serrata, detritus. This research uses survey methode and sampling assessement is purposively. Mangrove data are analised by study the vegetation structure and mangrove charateristic. Habitat quality analysed by analysis decription. To study abudant of Scylla serrata by observing total individual units of observation station area. These analised are then be subjected to correlation analysis to study correlation between observation variables. Result analysis mangrove forest coversion are showing the effect of mangrove convertion not change mangrove structure and characteristic. Spesies composition in Napabalano Beach are Rhizophora mucronata, Rhizophora styllosa, Rhizophora apiculata, Avicenia alba, Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhyza. The result analysis are showing mangrove conversion changes habitat quality of Scylla serrata and decreasing abudant of Scylla serrata. Correlation analysis indicated that there were positif relationship between abudant of Scylla serrata and water temperatur, turbidity and water pH. This shows a correlation coefficient of tempetature -0.941, turbudity and water pH 0.941. The abudant of Scylla serrata are showing that were positif relationship with detritus and coefficient correlation 0.943.

Kata Kunci : Lingkungan Hidup,Konservasi Hutan Mangrove,Kepiting Bakau, Mangrove conversion, Habitat quality, Scylla serrata, Detritus


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.